“OKE, aku mau mencoba jadi leader.” Ini adalah keputusan yang dengan sadar kuambil. Banyak sekali pertimbanganmya, terutama tentang apakah aku mampu dan layak? Aku paham menjadi seorang pemimpin bukanlah sebuah privilese semata, melainkan tugas yang suatu hari nanti akan dipertanggungjawabkan. Dan, aku amat tahu diri betapa jauh dari kata pantas untuk memimpin. Satu hal yang membuat aku pada akhirnya berani mencoba adalah kesempatan yang tepat untuk belajar.
Setidaknya aku berada di komunitas yang tidak akan menjatuhkanku ketika berbuat salah. Aku tidak akan merasa takut apa lagi insecure karena orang-orang di dalamnya, tahu caranya menghargai orang yang sedang mencoba. Dan, aku juga dengan sangat terbuka menerima kritik dan masukan sebagai bentuk pengembangan diri. Ketika keputusan itu aku ambil, terus muncul pertanyaan di benak, “Apakah aku bisa?”. Ada kalanya aku akan sekilas menyesalinya, tetapi aku tidak akan menarik keputusan yang terjadi karena inisiatif sendiri. Aku tahu mereka sangat percaya padaku, tetapi aku jadi satu-satunya orang yang meragu terhadap diri sendiri.
Bukan tanpa alasan aku berani mengajukan diri menjadi leader ketika seorang co-founder memberikan kode bahwa periode baru nanti membutuhkan leader. Seakan-akan mereka sedang melempar bola dan aku yang menangkapnya. Aku berani menangkap bola karena sekarang aku sudah menjadi versi yang lebih baik daripada sebelumnya. Lebih inisiatif, bertanggung jawab, dan yang paling penting adalah aku siap menghadapi risiko dan konsekuensi. Sebab, setiap keputusan akan selalu ada risiko dan konsekuensinya.
Sementara untuk menjadi seorang pemimpin kita harus bisa problem solving. Salah satu hal yang masih belum bisa aku aplikasikan adalah menyelesaikan masalah. Dari dulu aku terbiasa disingkirkan dalam penyelesaian masalah karena dianggap tidak bisa dan tidak mengerti apa-apa. Pada akhirnya aku tumbuh menjadi seseorang yang mengikuti alur dan keputusan yang sudah ada. Bahkan aku terkesan menghindari masalah karena mengetahui kebodohanku dalam menyelesaikan masalah. Sebab, dengan melakukan identifikasi dan penyelesaian masalah, kita baru bisa memutuskan.
Tentu aku tidak diam saja. Aku cukup serius terhadap keputusanku dengan Membaca buku tentang sikap seorang pemimpin, terutama perihal decision making. Satu hal yang pasti, aku menanamkan pola pikir bahwa pemimpin itu bukanlah kekuasaan yang menjadikan kita manusia seenaknya. tidak kubiarkan ego itu mendominasi. Aku tidak akan memberikan makan egoku. Kepentingan tim dan anggota jauh lebih prioritas karena seorang pemimpin mendedikasikan dirinya untuk orang lain. Sehingga, meski menjadi leader, aku tetap berkontribusi sebagai tim dan anggota supaya tidak ada jarak. Bahkan, tidak hanya satu jobdesc, lebih dari dua jobdesc aku ambil.
Satu sampai dua bulan awal semuanya tergolong baik-baik saja, mengingat masih adaptasi. Memang tidak sempurna, toh, aku tidak mengharapkan kesempurnaan. Aku sadar betul, betapa untuk menjadi seorang leader sejati, akan butuh proses lama. Tidak bisa setahun dua tahun, bahkan setiap langkah, seorang pemimpin tidak akan pernah berhenti belajar. Mengingat ini Adalah pengalaman pertamaku. Walaupun sebelumnya pernah juga menjadi koordinator atau membawahi tim, tetapi itu masih lingkup kecil dan aku sanggup. Jadi, kupikir mengapa tidak dikembangkan saja dari lingkup yang sederhana ke lingkup yang cukup kompleks. Tidak ada salahnya mencoba, bersyukur ada di tempat yang tepat.
Masuk bulan ketiga, kesibukan mulai terasa padat dan penuh. Dalam waktu bersamaan dengan double—bahkan lebih—jobdesc, aku merasa overwhelmed dan overlapping. Namun, karena aku adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan tidak mau melakukan kesalahan sedikit pun, aku memaksakan diri untuk tetap menjalankan semuanya meski terpecah-pecah. Semuanya harus berjalan dengan lancar karena aku sudah mengambil semua tanggung jawab dengan sadar, artinya aku selesaikan sampai akhir. Memang benar aku berhasil memenuhi semua tanggung jawabku, tetapi tiba-tiba aku kehabisan energi dan mulai merasa malas melakukan apa pun. Secara fisik baik-baik saja, tetapi percayalah bahwa pikiran dan hatiku terasa penuh dan sumpek. Dari situ kemudian aku menyadari bahwa kompleksitas jobdesc di luar leader telah menjadikanku sebagai seorang pemimpin yang tidak maksimal.
Seorang teman menyampaikan kepadaku, “Kak Vina, sebagai leader harusnya memantau saja sebetulnya, leader itu tidak ikut eksekusi.”
Aku terdiam dan berpikir lama. Iya, sih, tetapi seperti yang sebelumnya sudah aku katakan. Bahwa aku berprinsip tidak mau jadi leader yang hanya memantau secara helicopter view. Aku ingin betul-betul terjun langsung sebagai tim. Aku cuma takut,.takut jadi leader yang near-empathy dan tidak bisa menemukan akar masalah. Dan, sebetulnya aku masih tidak rela melepaskan diri sebagai volunter yang memang banyak berkontribusi sebagai tim. Aku merasa tetap harus menjadi tim untuk bisa tetap berkontribusi secara langsung. Aku ingin membuktikan bahwa aku betul-betul bisa bertanggung jawab dan menyelesaikan tugasku dengan baik. Namun, itulah masalahnya, itulah celahnya yang kemudian menjadi bumerang.
Ketika aku mengatakan berupaya untuk menghindari masalah, tanpa disadari ternyata aku sedang mendekat dengan masalah itu sendiri. Ketika aku mencari aman, di saat yang bersamaan aku sedang menciptaksn masalah yang kemudian menjadi bumerang. Sebelumnya aku mengatakan bahwa prinsipku adalah seorang leader tetap harus menjadi seorang tim, prinsip ini aku buat sebagai bentuk cara menghindari masalah. Sekilas prinsip tersebut memiliki tingkat kepedulian dan empati yang tinggi. Seakan-akan Aku sedang mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Seolah-olah aku mengedepankan kebersamaan. Namun, justru aku mendapatkan sisi lain yang menjadi celak dan masalah. Baru kusadari bahwa prinsip tersebut tanpa sadar aku jadikan ruang untuk mengais validasi. Mencari pembuktian bahwa aku berguna.
Oleh karena itu, aku mengajukan diri sebagai leader, menangkap bola yang dilempar. Aku memang menyadarinya, tetapi pada saat itu aku tidak sadar bahwa ada sisi lain dari diriku yang ikut mengambil alih diam-diam. Aku memantau, mencoba mengambil keputusan, menjadi tim divisi dan event. Sebagai leader, mungkin aku bisa memberi masukan kepada teman-teman yang bertugas sebagai tim, tetapi ternyata aku tidak bisa menilai diriku sebagai tim. Sebagai leader, mungkin aku bisa memantau teman-teman sebagai tim, tetapi aku malah tidak bisa memantau diriku sendiri sebagai tim. Aku mulai kehilangan kendali karena tidak bisa mengenal siapa diri aku dan harus seperti apa dalam bersikap? Apakah harus bersikap sebagai leader atau tim?
Perlahan-lahan energiku mulai terkikis dan mengalami burnout. Aku tidak hanya tidak maksimal dalam mengerjakan tugas sebagai tim, bahkan harus kuakui, aku telah gagal menjadi seorang leader. Terlihatnya memang aku tampak mementingkan orang lain, tetapi aku sedang mementingkan diri sendiri dengan memberi makan ego. Ego yang haus akan validasi dan aktualisasi diri. Betapa aku ingin sekali dihargai dan dianggap berguna, tidak seperti diriku di masa lalu seperti sampah. Ternyata dialah sisi kelam yang kemudian memanipulasi dan mengelabui diriku selama ini. Aku pikir aku sudah melakukan yang terbaik, tetapi aku membuat masalah.
Dari situ aku menyadari bahwa aku memang sadar mengajukan diri menjadi leader, tetapi ternyata aku belum siap karena aku belum benar-benar selesai dengan diri sendiri. Akan tetapi, lagi-lagi karena aku berada di tempat yang tepat, aku tidak dihakimi dan justru diberikan solusi lain. Percayalah bahwa aku tidak pernah menyesal mengambil inisiatif tersebut. Sebab, dari situ, aku baru mengenal sisi lain dari diriku sendiri. Sisi lain yang selama ini tidak pernah aku ketahui dan tidak tercapai oleh kesadaranku. Memang menjadi suatu bumerang, tetapi aku menerima kekalahanku. Aku jadi bisa mengenal sisi kelam yang nyatanya mengubah sudut pandang dan perspektif dalam bersikap.
Aku banyak belajar. Aku belajar untuk memahami kapasitas diri. Tidak semua hal harus aku lakukan, apa lagi demi validasi. Mementingkan orang lain memang perlu sebagai bentuk empati, tetapi bukan berarti tidak mementingkan dan mengesampingkan diri sendiri. Aku belajar bahwa energi tidak bisa serta merta melulu disandarkan kepada orang lain. Ternyata aku tidak mampu. Sisi kolam yang haus akan validasi telah menghabiskan energiku bertahun-tahun lamanya.
Sekarang aku sudah memiliki tombol warning ketika kapasitasnya terlalu berlebihan. Tombol warning itu pula yang selalu menjadi pengingat bahwa untuk saat ini adalah waktu yang tepat untuk kembali dan mengenal diri sendiri.





