Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
Teruntuk negeri tercinta,

AKU tidak pernah meminta untuk dilahirkan di negeri ini. Akan tetapi, seiring bertumbuhnya usia, perlahan-lahan aku mulai menyukai dan mencintai apa-apa yang ada di negeri ini. Negeri ini memberikan tempat-tempat sederhana untuk bermain ketika kecil. Main air di sungai, main petak umpet di kebun, mencari buah cherry di pohonnya. Masa kecilku tidak lepas dari kehidupan alam, meski tinggal di tengah perkotaan. Belum lagi teman-teman masa kecil yang melengkapi kebahagiaan.

Negeri ini memberikan sesuatu yang tidak dimiliki negeri lain. Sesederhana permainan tradisional yang menghiasi masa kecil sampai remaja. Congklak, bekel, taplak, lompat tali, uber hem, gobak sodor, dan lainnya. Belum lagi semarak acara yang sering dirayakan setiap tahun pada 17-an. Selain berkompetisi sehat, 17 Agustus melestarikan kebersamaan antarwarga. Negeri ini mengajarkan tentang kepedulian dan gotong royong terhadap sesama masyarakat. Dengan begitu akan terwujud hidup rukun dan damai.

Negeri ini lahir dengan kekayaan budaya yang banyak dan luar biasa. Sejak remaja aku diperkenalkan dengan kesenian tradisional daerah Lampung, tempatku tinggal. Salah satu hal yang kusyukuri dan banggakan dari masa putih abu-abu adalah bergabung dalam ekstrakulikuler Seni. Secara spesifik aku memilih divisi musik, tetapi sanggar sekolah menerapkannya sistem seluruh anggotanya harus mempelajari bidang seni yang tersedia. Ada tiga divisi yang dipelajari: divisi musik, divisi tari, dan divisi teater.

Pada awalnya, kupikir sanggar seni tersebut terfokus pada alat musik modern. Setelah resmi menjadi “anak seni”, aku justru belajar hal baru yang menyenangkan. Untuk pertama kalinya aku mengetahui dan mempelajari alat musik gamolan pekhing atau cetik. Alat musik tradisional yang terbuat dari bambu ini berasal dari Lampung Barat. Uniknya, cetik merupakan alat musik Pentatonix karena tidak memiliki tangga nada “fa/4”. Ada beberapa tabuhan yang kupelajari: Tabuh Alau-Alau, Tahun Sermenung Serlis, Tabuh Khapot, dan Tabuh Sanak Miwang Dija, Tabuh Ghapet, dan Tabuh Tari. Aku juga mempelajari talo balak yang terdiri dari: kulintamg, rebana, tarbuka, kecrekan, canang, dan gong.

Perlahan-lahan aku mulai menyukai si cetik. Kalau ditanya, mengapa tidak memilih divisi tari? Jujur, aku merasa tubuhku tidak dilahirkan untuk menari, terlalu kaku dan jelek. Pun sebetulnya aku lebih menyukai musik. Dan, aku tetap mempelajari seni tari tradisional Lampung seperti tari Sigeh Pengunten dan tari Bedana. Melalui seni tari itulah sanggar sekolah kami sering meraih juara. Meskipun aku bukan penari, tetapi aku ikut bangga. Dan, selama ada perlombaan tari tradisional di Bandar Lampung, aku akan ikut menjadi pemusik pengiring penari. Biasanya aku akan memegang gong yang berfungsi sebagai penjaga tempo permainan talo balak.

Melalui budayanya, negeri ini membuatku memiliki prestasi di bidang kesenian. Dan, kesenianlah yang tanpa sadar menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri ini. 

Selesai dari masa putih abu-abu, selesai pula kedekatanku dengan cetik. Memasuki usia menuju dewasa, aku mulai mengetahui bahwa negeri ini bukan hanya soal kerukunan dan kesenian budaya. Ternyata negeri ini justru berotasi karena adanya politik dan sistem pemerintahan. Sebagai orang awam, yang ku ketahui hanyalah struktur kenegaraan seperti presiden, wakil presiden, menteri, DPR, MPR, gubernur, walikota, bupati, dll. Aku tidak mengerti bagaimana sistem bisa berjalan. Ketika akhirnya mulai aktif menjadi pengguna media sosial. Sudut pandangku terhadap negeri ini mulai luas sekali. Pelan-pelan sedikit memahami bagaimana negeri ini berjalan semestinya. Bagaimana presiden' dan wakilnya menjadi pemimpin yang memastikan negeri dan rakyat di dalamnya hidup aman dan nyaman. Bagaimana para menteri kemudian menjadi pembantu presiden dalam mengelola negeri. Tentang DPR yang menjadi jembatan dan sambungan tangan antara rakyat dan pemerintah, tanpa ada sekat. Bagaimana para aparat TNI/Polri yang menjaga keamanan negara dan melindungi masyarakat. Wah … ternyata mereka adalah orang-orang luar biasa yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat.

Bahkan ketika bencana datang, mereka sudah menyiapkan antisipasi dengan adanya lembaga BNPB. Menjadi sebuah lembaga yang humanis, mengingat negeri ini berada dalam lingkaran cincin api. Aku sangat mencintai negeri ini sampai ketika tahun 2025 menjelang. Kecintaanku terhadap negeri ini mulai menyusut. Pajak naik. Kecelakaan alam yang disebabkan keserakahan manusia menyebar. Korupsi besar-besaran merajalela. Para pemangku tanggung jawab membangun sekat begitu tebal dan tinggi antara pemerintah dan masyarakat. Mereka yang seharusnya membela dan memastikan rakyat hidup aman makmur, kemudian banting stir menjadi bertugas dengan ngawur. Ketika posisi adalah hasil dari hati nurani dan kepedulian, tetapi menjadi tempat untuk menindas rakyat dengan kekuasaan..

Ah, ya, yang salah bukan negerinya, yang salah adalah manusia yang melupa. Seperti munafik, pada saat kampanye dan pemilihan, berapi-api dan menunjukkan kepedulian dengan janji-janji yang ternyata hanya janji tanpa bukti. Janjinya palsu, buktinya lesu. Seakan-akan pemerintahan memiliki pintu masuk yang secara otomatis dapat mematikan hati nurani dan empati. Sampai-sampai beredar rumor “orang baik pada akhirnya skan jahat ketika mendapatkan jabatan pemerintahan”. Meskipun ada pula yang bersikap optimis bahwa setidaknya ada satu dua orang baik di dalamnya. Namun, untuk apa? Lihatlah menteri keuangan sebelumnya yang melakukan tugas sesuai dengan prosedur dan semestinya. Bekerja dengan benar, tetapi dipecat dengan semena-mena. Aku sendiri sangsi bahwa negeri ini akan menjadi “emas” yang digadang-gadang oleh sang pemimpin atau jangan-jangan semua itu hanya janji bualan?

Kasihan sekali negeri ini. Kasihan sekali rakyat di negeri ini. Tidak dipedulikan oleh wakil rakyat. Lucu sekali ada wakil rakyat yang berani menindas rakyat yang membayar mereka. Oh. Katanya sejarah harus dilestarikan. Apakah maksud dari sejarah ini adalah budaya korupsi yang tidak pernah ada ujungnya? Negeri ini memang kaya akan budaya, tetapi budaya korupsi telah menjajah negeri ini. Bahkan budaya serakah yang kemudian menyiksa rakyat. Melakukan kelakuan arogansi, tidak berkompetensi, tidak memiliki kapabilitas dalam bidangnya. Ketidakmampuan tersebut seakan-akan kepentingan rakyat tidak terlalu penting bagi mereka.

Lihatlah para pembantu presiden itu, menjadikan amanah sebagai ladang korupsi. Dana haji, Al-Qur’an, dana MBG, dana BNPB, apa lagi? Anggaran-anggaran tersebut tidak dipandang sebagai tanggung jawab dan amanah, tetapi dijadikan proyek untuk mereka korupsi besar-besaran. Ah, ya, orang-orang rakus itu akan selalu haus dan tidak kenal kata cukup. Orang-orang rakus itu hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Mata mereka tidak digunakan untuk melihat betapa parahnya negeri ini. Telinga mereka tidak digunakan untuk mendengarkan yang menggaji mereka. Nyatanya bukan hanya hati yang cacat, mata mereka buta, telinga mereka tuli. Entah kata-kata apalagi yang pantas untuk menyebut sosok mereka selain manusia karena mereka tidak manusiawi.

Aku lelah harus terus-menerus disuapi berita korupsi yang nilainya sangat tinggi. Aku muak terus mendapati presiden dengan pidato tidak bermutunya. Namun … aku tidak sampai hati jika harus usai dari media sosial. Ada saudara-saudara sebangsa yang perlu perhatian besar. Mereka yang terdampak karhutla. Di Kalimantan, Papua, Palembang, dan Jambi. Ada mereka yang masih belum sepenuhnya pulih dari bencana alam di Aceh dan NTT. Ditambah sebagian besar bencana alam disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Orang-orang serakah itu lagi yang membakar hutan, yang melakukan deforestasi hingga terjadi banjir bandang. Tidak sampai ke hati jika aku harus menutup mata dan telinga akan kondisi di luar sana.

Aku memang lelah dan muak. Akan tetapi, lelah dan muak aku masih bisa menghirup udara segar, tidur di tempat tinggal yang nyaman, dan makan dengan nikmat. Sementara mereka di luar sana yang terdampak, mereka bukan hanya lelah dan muak, tetapi kehidupan mereka betul-betul diganggu dan dirusak. Nyawa mereka menjadi taruhan akan keserakahan orang-orang tidak punya empati. Aku memang manusia pengecut yang tidak berani bersuara dengan lantang, tetapi melalui tulisan ini, Aku berani berbicara dan bersuara 
 TIDAK LENGKAP rasanya jika manusia tidak diperkenalkan dengan sosok yang bernama kehilangan. Ia sosok yang unik, tidak pernah ada yang berusaha untuk mengenalnya. Di waktu-waktu tertentu, dengan sendirinya sosok itu akan hadir. Kehadirannya pun sama uniknya dengan watak memilukan itu. 

Keunikan lain yang melekat di sosok itu, salah satunya tentang pertanda. Ia sama seperti manusia, ada yang santun, ada yang ketus. Terkadang suka mengetuk, atau justru menyelinap begitu saja tanpa diketahui. 

Perginya pun seperti perubahan cuaca, ada yang cerah, ada yang mendung disertai hujan dan petir. Kabar baiknya, ia akan cepat pulih dari sisa rasa hilang. Namun, cukup parah bagi mereka yang memulihkan sisa rasa hilang hingga menemui musim hujan berkali-kali. 

Dalam sebuah kisah, entah masa kemarin, pekan lalu, atau tahun sebelumnya. Paling tidak, ada satu waktu sosok itu datang. Satu kali, dua kali, bahkan berkali-kali. Seakan-akan dipaksa untuk bersama dengan kehilangan, di sisi lain diharuskan menerima yang pergi. 

Sekalinya datang, kehilangan akan menetap begitu lama. Nahasnya, sewaktu-waktu akan datang kembali di peradaban yang lain. 

Sosok itu memang makhluk paling sibuk. Sibuk menemui manusia satu ke manusia lainnya. Mengenalkan diri sebagai kehilangan dan pergi untuk datang kembali suatu saat. Padahal ia tahu, kehadirannya tidak pernah diharapkan siapa pun. 

Dunia ini hanya akan berisi manusia tanpa tahu apa itu perasaan karena tidak ada sosok yang bernama kehilangan. Sebab, kebahagiaan tidak akan terasa gembira ketika kehilangan tidak ada. Jika dipikir-pikir, kehilangan menjadi sebuah asupan penting bagi gizi kehidupan manusia. 

Daripada harus terpaksa menerima kenyataan menetapnya kehilangan yang tidak diidam-idamkan itu. Ada pikiran-pikiran yang sebaiknya bisa diajak bertukar pembicaraan. Tentang bagaimana untuk berdamai bersama rasa-rasa kehilangan yang bisa datang kapan saja. 

Kita sama-sama tahu bagaimana kehilangan merenggut bagian dari bahagia yang menyisakan memori. Tentang air mata yang jatuh di kehampaan, meski banyak manusia lain menepuk-nepuk bahu, mereka bilang untuk bersabar diri.

Memang tidak semudah itu untuk cepat-cepat bersabar diri. Ada waktu-waktu yang mengurung diri pada ruang yang dahulunya ada kini hilang menjadi hampa. Tersisa kesunyian yang pilu, tidak akan ada lagi kebiasaan-kebiasaan yang kini sudah lenyap bersama hilang. 

Meratap lalu bersedih, tidak apa-apa untuk hal itu. Namun, tidak baik pula untuk membiarkan kehilangan merengkuh jiwa kita. Sejatinya, jiwa butuh udara segar, ketimbang harus menjadikan jiwa lupa akan apa itu kebahagiaan. 

Kehilangan ada untuk membentuk kekuatan. Sebab, hidup tidak melulu perihal tertawa dan gembira. Tentang, yang ada tidak akan selamanya menemani, sampai waktunya dia akan pergi sendiri. Hingga saatnya pergi, tangan kita akan rela melepas dan jiwa membuka pintu lebar-lebar membiarkan kehilangan itu singgah sejenak. Sebut saja iu berdamai dengan rasa hilang. 


•••

“IBU sudah tidak ada.” Begitu kata dokter setelah memeriksa keadaan Ibu yang tidak bergerak sama sekali di atas kasur.

Aku tahu itu berita duka, seorang perempuan yang melahirkanku meninggal dunia. Namun, percaya atau tidak, ungkapan dokter lelaki tersebut membuatku lega. Seakan-akan menyapu bersih ruang sesak di dada. Sebagai anak remaja, aku masih belum tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa. Tidak lama kemudian, rumah yang tadinya sepi perlahan-lahan ramai pelayat. Ibu mulai dipindahkan ke ruang tamu.

Omong-omong, Ibu mengembuskan napas terakhir di rumah. Dokter tadi memang dipanggil untuk mengecek kondisi Ibu. Bukan karena orang have—bisa panggil dokter ke rumah, melainkan terpaksa dibawa pulang karena biaya rumah sakit mahal. Pada masa itu, belum ada sistem BPJS. Apa lagi, sejak aku SD sampai SMA, Ibu sering keluar masuk rumah sakit. Ingat betul, Ibu tidak ada ketika aku baru saja lulus sebagai anak SMA. Dan, beruntung sekali aku berada di samping Ibu pada detik-detik terakhirnya.

Ibu sudah terlalu kesakitan hidup di dunia yang keras. Saking kerasnya, entah mengapa, aku yakin Allah menyiapkan surga untuk Ibu. Meskipun aku sadar. Ketika aku lega, kepergian Ibu sekaligus melepaskan rasa sakit yang tidak masuk akal itu. Di saat yang bersamaan, artinya aku kehilangan doa paling mujarab dan telapak kaki yang mulia. Akan tetapi, aku harus menerima semua itu, daripada terus-menerus melihat Ibu disiksa oleh keadaan yang terlalu antagonis. Walaupun sampai saat ini aku punya ketakutan besar bahwa apakah aku menjadi bagian dari keadaan yang menyebalkan itu?

Ketika ketakutan itu hadir, aku akan selalu menenangkan dan menghibur diri sendiri.

Vina, kamu ingat, kan, lelucon kecimpring yang membuat Ibu tertawa? Vin, kamu beruntung, masih bisa tidur di samping Ibu di hari-hari terakhirnya. Mau tahu yang lebih melegakan? Berulang kali kamu mencium pipi Ibu dan berucap maaf. Meskipun Ibu menjawab dengan linglung, “Ibu sudah maafin kamu.”, percayalah hati Ibu masih waras.

Mungkin, keberadaanku dengan Ibu yang cukup intens itu yang membuat aku merasa lebih bisa menerima kepergiannya. Mulai dari Ibu dipindahkan ke ruang tamu, dimandikan, dikafani, dan disalati. Pada saat itu hari Jumat, sebelum Ibu dimakamkan, Ibu disalati terlebih dahulu di masjid setelah salat Jumat. Baru kemudian diantar ke pemakaman, tempat terakhir Ibu beristirahat panjang. Cuaca memang cukup panas, tetapi rumah baru Ibu, tepat berada di bawah pohon besar yang rindang.

Ibu siap dimakamkan. Adikku mengazani. Perlahan-lahan Ibu mulai diselimuti tanah. Di saat yang bersamaan, pipiku juga diselimuti air mata. Itu adalah air mata pertamaku untuk kepergian Ibu. Ketika Ibu betul-betul sudah ditedubi gundukan tanah, kesadaranku baru saja duduk di tempatnya dengan tepat. Ibu bukan hanya tidak lagi bernapas, mulai detik itu, jiwa dan raga Ibu sudah tidak ada lagi. Ibu pergi untuk selamanya.

Sampai saat itu, aku masih belum pernah merasa kehilangan. Kepergian Ibu, justru adalah kelegaan yang bisa aku terima. Aku belum bisa relevan dengan perasaan mencekam dan patah hati dari rasa kehilangan yang sering kali dialami hampir semua orang. Aku tidak menangis meraung-raung seperti adikku. Aku hanya lebih banyak diam, tidak bersikap dan bersuara. Kalau ada orang-orang yang mengucapkan belasungkawa, aku tersenyum tipis sebagai respons. Tidak ada perasaan berat hati untuk melepas Ibu karena kejadian ini sudah kami sekeluarga prediksi. Ketika waktunya Ibu pergi dan berhenti, aku sudah menyiapkan diriku sehingga perasaan kehilangan itu tidak sempat singgah.

•••

“Ayah sekarat.” Begitulah pesan dari mbakku yang saat itu sedang menemani Ayah di rumah sakit.

Baru kemarin sore, Ayah dirujuk ke rumah sakit karena sakit jantungnya kambuh. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat Ayah tumbang karena sakit. Selama ini Ayah hanya sakit biasa saja. Dia tipe ayah yang cukup galak, tegas, dan kuat, aku lumayan takut dan segan dengannya. Namun, semenjak era pandemi, aku dapat kabar Ayah dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Tahu tidak, hebatnya Ayah menyetir mobil pick-up sendirian menuju rumah sakit ketika serangan jantung untuk segera mendapatkan pertolongan.

Dari situ Ayah mulai sering keluar masuk rumah sakit, dirawat beberapa hari lalu pulang. Sering kali menjadi agenda rutin bulanan yang membuat aku terbiasa dengan ritme tersebut. Satu tahun, dua sampai tiga tahun kemudian. Ritme tersebut tidak pernah putus, meski ada kalanya beberapa bulan Ayah kondisinya sudah membaik. Namun, beberapa bulan kemudian kembali ngedrop dan kembali ke ritme rumah sakit-pulang-rumah sakit-pulang. Sampai akhirnya, ketika Ayah dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya. Baru satu hari, besok sorenya mbakku memgabarkan, *Ayah sudah tidak ada.”

Baru saja aku mau pergi ke rumah sakit untuk gamtian berjaga, ternyata Ayah sudah lebih dulu tiada. Saat itu, aku masih berada di rumah tante. Untuk memastikan, aku menelepon mbakku. Setelah diangkat, sebelum aku mengucapkan sepatah kata. Suara isak tangis dari seberang, memvalidasi pesan yang baru dikirimkan. Sambil menangis, aku hanya bisa mengungkapkan, “Kok bisa, sih, Mbak?”

Aku terduduk tidak berdaya di sisi kasur. Mendengar suara tangisanku. Tanteku yang satu lagi—kebetulan sedang berkunjung—menghampiri dan memelukku. Aku tidak berhenti menangis sampai aku duduk di kursi samping ranjang Ayah. Ayah terduduk bersandar ditutupi selimut. Ayah betulan tidak ada. Aku meraih dan menggenggam tangan Ayah yang sudah tidak berdaya. Tangan yang dulunya sangat kuat, tangan yang tiga tahun belakangan sering ditusuk jarum suntik. Aku menelungkupkan kepalaku sambil mengelus tangannya. Dalam hati dan pikiran berkecamuk. Penuh dengan berbagai kilasan-kilasan hari kemarin, beberapa hari lalu, bertahun-tahun lalu. 

Aku lag-lagi tidak tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa. Mengingat kondisi mataku sudah tidak baik, aku hanya duduk di samping Ayah yang kini sudah ditidurkan di ruang tamu rumah mbak pertamaku. Selama perjalan dari rumah sakit ke rumah mbakku, aku tidak berhenti menangis. Dan, air mataku sudah habis. Besoknya, Ayah siap dimandikan dan dikafani. Di sini pipiku kembali basah oleh air mata. Tubuh lelaki yang dulunya kuat itu, kini mengenakan pakaian terakhirnya. Ayah betulan sudah tidak ada. Kemudian Ayah disalati setelah salat Jumat selesai dan segera dipulangkan ke rumah terakhirnya. Adikku kembali mengazani. Dan, mataku tidak pernah lepas dari Ayahku meski sudah ditutupi oleh papan dan perlahan tanah merah itu menyelimuti Ayah sampai menjadi gundukan.

Air mataku sudah habis. Baru saja, aku baru bisa menerima kepergian Ayah untuk selamanya. Tidak ada kelegaan, yang ada hanyalah kebingungan.

Untuk pertama kalinya aku mengalami rasanya kehilangan seseorang. Orang yang sebelumnya masih ada bersamaku, orang yang tadinya masih terlihat berusaha dan berjuang melawan penyakit. Kemudian orang tersebut tidak ada dalam sekejap, tanpa aku prediksi. Aku yakin betul, pria itu sebelumnya masih bisa berdiri tegak, tetapi besoknya tidak lagi bergerak. Aku pikir ketika Ayah masuk rumah sakit, dua atau tiga hari berikutnya akan pulang. Nalum, belum sampai dua hari, Ayah memang pulang, pulang ke kehidupan selanjutnya. Ini adalah perasaan kehilangan yang mencekam dan mematahkan. Jujur saja, menuliskan cerita tentang hari-hari terakhir Ayah, napasku terasa berat dan dadaku sesak. Betapa kehilangan itu tidak pernah pergi, meskipun Ayah sudah pergi.

•••

Ayah dan Ibu, meninggalkan warisan berupa pelajaran berharga dalam hidup. Pelajaran yang akan selalu aku genggam sampai kapan pun. Betapa kita tidak pernah tahu, kapan orang-orang terdekat akan pergi. Tidak peduli apakah orang tersayang atau orang yang selalu berselisih dengan kita. Entah mereka pergi dengan memberikan kehilangan yang melegakan atau mencekam. Setidaknya mereka pernah ada dalam hidup kita. Dan, penyesalan terbesar atas kedua rasa kehilangan itu adalah andai saja aku betul-betul memanfaatkan waktu bersama mereka dengan baik. Sayangnya kematian tidak bisa diprediksi.




AKU tidak tahu bagaimana caranya berbicara. Aku lebih banyak diam, daripada mengeluarkan suara. Memangnya akan ada yang mendengarkan? Baiklah, jika ada yang mendengar, tetapi aku cukup sangsi, apa-apa yang keluar dari mulutku, pasti tidak menarik. Aku pernah ada di fase jijik, tidak sudi mendengar suaraku sendiri. Pasti ujung-ujungnya aku akan merasa dipermalukan setiap setelah berbicara sepatah dua kata. Akan selalu ada pertanyaan rutukan dan cacian, “Vina bego, ngapain ngomong, sih? Malu-maluin aja!”

Bukan tanpa alasan, melainkan aku tumbuh dengan terbiasa tidak didengar.

Aku adalah anak keempat dari enam bersaudara. Aku adalah anak paling pendiam di rumah. Di antara yang lainnya, aku tidak ada daya tarik. Aku hanyalah salah satu yang ada dari anggota keluarga ini. Mengikuti setiap keputusan yang telah diputuskan. Meskipun tidak jarang aku melanggar aturan tidak tertulis yang menyebabkan Ayah marah. Apa lagi, Ayah adalah tipe orangtua tegas dan galak. Pernah dicubit, dijewer, dipukul, bahkan pernah “dikurung” di kamar, dan diusir dari rumah. Memang karena kesalahanku, sih, masih untung tidak dicoret dari kartu keluarga.

Di rumah, Ayah adalah sosok yang paling dominan. Aku sendiri anak yang takut dan segan dengan beliau. Selain karena pendiam, aku juga tidak berani untuk berbicara dengannya. Sekadar meminta uang jajan, apa lagi meminta dibelikan ponsel pun tidak pernah. Bahkan pernah, ketika aku pulang sekolah waktu SMP dijemput Ayah. Ketika itu sedang hujan deras dan kami mengenakan jas hujan. Hari Jumat mengenakan seragam rohis berwarna hijau. Celanaku saat itu bagian kain basah sobek tersangkut di sela-sela ban. Jadi, selama di perjalanan dan selama roda berputar aku menahan kakiku agar tidak terkilir. Aku tidak berbicara pada Ayah karena aku takut. Biarlah aku tahan sendirian semua ini. Beruntung aku tidak terluka atau membuat kami laka di jalan.

Di rumah, aku merasa tidak ada ruang untuk berbicara. Mereka bilang aku masih kecil dan tidak mengerti apa-apa. Sampai aku masuk SMA pun pendapatku diserang. Ketika itu, ujian nasional SMP sudah berakhir, dan aku sudah punya tujuan SMA. Salah satunya adalah SMAN 3 Bandar Lampung. Salah satu SMA Negeri unggulan di kotaku sekaligus sekolah Ibuku dulu. Aku ter-influence oleh cerita ibuku dan membuatku tertarik untuk bersekolah di sana. Jadi, ketika Ayah bertanya mengenai pilihan SMA-ku, Aku menjawab sekolah unggulan itu. Namun, Ayah menanggapi, “Kamu itu mau sekolah atau main-main?!”

Aku yang tadinya antusias, langsung runtuh. Kupikir akan didukung, ternyata diempaskan. Membuatku jadi tidak bersemangat. Coba tebak, alhasil ujung-ujungnya aku masuk sekolah swasta yang kata teman-temanku sekolah bau kandang kambing dan sering ada yang kesurupan. Ironinya, sekolah swasta ini letaknya tidak jauh dari sekolah impianku. Ingat betul, aku menangis sesenggukan di ruang tamu rumah tante yang kebetulan sedang sepi. Betapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang kumau, bahkan sebelum berusaha.

 Mulai dari situ aku makin tidak berani untuk bersuara dan mengemukakan pendapat.

Tumbuh di lingkungan yang tanpa sadar tidak memberikan ruang untuk berbicara, membuatku takut untuk sekadar menyampaikan keinginan. Sampai saat ini, masih ada beberapa dampak yang belum bisa aku atasi. Sesederhana menceritakan sesuatu, mulut rasanya berat sekali untuk dibuka. Seperti ada beban yang menahan, padahal hati dan kepala sudah berteriak. Orang-orang mungkin menganggapku terlalu berlebihan, hiperbola. Masalahnya ini tidak semudah “Coba, dong. Belajar diomongin”, tidak semudah itu. Aku juga mau, tetapi reaksi tubuhku bersikap sebaliknya.

Begini. Di dunia ini tidak semua hal aku bersedia untuk belajar mengendalikannya. Selain tidak bersedia, aku tidak siap menghadapi reaksiku sendiri setelahnya. Namun, aku sadar bahwa manusia dalam hidup juga butuh berkembang. Jadi, ada beberapa hal yang aku bersedia untuk mengontrol dan siap menghadapi risikonya, yaitu public speaking. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku betul-betul bisa berdamai dengan suaraku sendiri. Setidaknya sampai aku menemukan satu tempat yang memberikan ruang leluasa untuk berbicara. Ruang ketika aku bebas bersuara tanpa takut dihakimi. Namun, sebelum jauh ke situ, aku akan menceritakan prosesnya.

Jika aku tidak pernah berani untuk bicara, lantas bagaimana caraku meluapkan apa yang ada di kepala dan hati? Bukankah ketika segala bentuk emosi dan pikiran menumpuk, hanya akan menjadi sampah negatif? Bukankah semua itu pada akhirnya akan menjadi bumerang, jika selalu dipendam? Betul. Aku tidak serta merta memendam semuanya, kok. Salah satu hal yang aku syukuri adalah aku memiliki ketertarikan dengan dunia menulis. Tanpa sadar, aku sering menulis quotes di Instagram pribadi—sampai saat ini masih ada. Kemudian tulisan itu berkembang menjadi tulisan panjang. Sampai akhirnya aku memiliki blog. Pada awal belajar blog, aku diajarkan cara menulis artikel SEO on page. Dari situ sering menulis artikel yang struktural seperti artikel listicle, feature, sampai esai. Di sisi lain, aku juga tetap menulisksn. perasaan dan pikiranku di blog khusus.

Perlahan-lahan, ketika aku mulai aktif volunteering di komunitas literasi. Aku mulai.belajar berinteraksi dengan orang-orang baru. Meskipun online, tetapi ini membantu aku untuk memahami ritme dan cara berkomunikasi yang baik. Aku cukup aktif di komunitas tersebut, mulai dari menjadi pengurus event/challenge literasi beberapa kali. Sampai akhirnya, di komunitas yang sama, untuk pertama kalinya aku menjadi MC di acara kelas kepenulisan online. Dari situlah awal mula saklar bicaraku menyala. Aku punya keinginan itu kuat untuk nge-MC kembali di depan umum, meskipun online.

Tuhan mendengarkan keinginanku, beberapa bulan kemudian Tuhan mempertemukanku dengan komunitas yang membuatku makin berkembang. Pada awalnya aku hanya menjadi penanggung jawab dalam mengoperasikan suatu grup membaca. Dikarenakan aku sudah bergabung sebagai volunteer di komunitas ini, otomatis aku dapat mengikuti kegiatan-kegiatan literasi lainnya. Salah satunya adalah event literasi. Perkenalkan, nama komunitas itu adalah 30 Hari Membaca atau dikenal dengan tagline Pantang Bobo Sebelum Baca (PABOBA). PABOBA menjadi tempat yang menginterpretasikan sebuah rumah kedua. Rumah kedua ini memang bukan tempat pulang, melainkan tempatku berkembang. Untuk pertama kalinya ada yang memintaku untuk menjadi pembawa acara di event Tukar Pikir PABOBA. Untuk pertama kalinya ada yang percaya padahal belum pernah tahu diri aku dan bahkan baru kenal. Mereka mempercayakan kegiatan komunitas mereka kepadaku sebagai pembawa acara ataupun MC.

Bukan hanya tampil di depan umum secara online. Di PABOBA, aku belajar mengeluarkan pendapat dalam rapat forum. Sebab, setiap bulannya selalu ada rapat bulanan sebagai evaluasi. Perlahan-lahan, ruang didengar itu aku dapatkan. Selama ini mulutku benar-benar terkunci hingga kata-kata hanya sampai di ujung tenggorokan. Selama ini pendapat ataupun ide hanya bersarang di kepala tanpa ada tindakan. Selama ini yang berfungsi hanya telinga, sementara bibirku adalah anggota paling pasif. Selama ini kupikir tidak bisa berbicara, ternyata aku bisa.

Dari fase aku yang sering menulis quotes sampai menulis artikel, membantu susunan bicaraku jadi lebih terstruktur dan memiliki alur. Menulis quotes membantu aku menata pikiran dan hati, sehingga gaya bicaraku terkadang lebih personal. Menulis artikel membantu aku mengenal proses kreatif dan kredibilitas dalam suatu tulisan, sehingga aku belajar tidak asal dalam berbicara. Sementara, membaca memperkenalkanku dengan dunia luar yang tidak pernah aku gapai. Membaca fiksi mengenalkanku dengan karakteristik orang-orang, sehingga membantu aku dalam berinteraksi dengan orang lain. Membaca nonfiksi mengajarkanku tentang teori dan konsep, sehingga aku belajar berbicara sesuai dengan wawasan yang aku dapatkan. 

Setelah mendapatkan pengalaman dan pembelajaran otodidak dari menulis dan membaca. PABOBA menjadi ruang praktik bicaranya. Melakukan latihan, pasti ada kesalahan, tetapi itu bagian dari proses. Lagi-lagi, tidak ada satu pun orang di PABOBA yang menghakimi dan menghentikan langkahku untuk terus mencoba. Bukan hanya ruang mendengar, PABOBA juga memberi ruang untuk aku belajar dari kesalahan tanpa dihakimi. PABOBA tidak hanya memberikan ruang, tetapi juga menumbuhkan harapan yang telah lama terkubur. Harapan akan masa depan yang cerah. Dan, aku punya impian tentang berbicara. Aku bercita-cita berbicara di depan banyak orang secara langsung.

Satu hal aku sadari. Selama ini aku bukannya tidak bisa berbicara. Aku hanya tidak diberikan ruang untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. Aku hanya tidak punya kesempatan untuk berbicara. 
SEUPAYA apa pun aku bersikap aman, ternyata tetap saja, namanya hidup tidak lepas dari masalah. Justru dari sikap “aman” itulah yang menjadi cikal bakal masalah. Masalah yang kemudian membawaku pada satu titik balik. Persoalan diri yang nyatanya belum pernah selesai. Tentang tangki hati yang tidak pernah penuh. Tentang perkembangan diri yang belum pernah ada hasilnya. Tentang masa depan yang terlihat samar. Dan, tentang pola pikir yang terus menyerang diri sendiri.

Dan, lagi-lagi, semua itu datang dari perasaan tidak berharga. Perasaan tidak berharga yang membuat aku haus validasi demi mengisi tangki. Perasaan tidak berharga yang memblokade mental aku untuk berkembang dan bertumbuh. Perasaan tidak berharga yang menakut-nakuti betapa suramnya masa depanku. Perasaan tidak berharga yang mengendalikan pikiran untuk selalu merendahkan diri sendiri.

Perasaan tidak berharga yang kemudian dibalut dengan kepedulian palsu. Balutannya tampak indah, sementara orang lain tidak melihat betapa di balik balutan itu terdapat diri yang terkoyak karena kehilangan identitas. Setelah sekian lama diri itu bertahan di belenggu oleh balutan indah yang palsu, akhirnya berontak dan menyerang. Seperti ledakan besar, diri itu akhirnya merobek balutan dan memperlihatkan aslinya. Bahwasanya keindahan itu hanya balutan yang mudah hancur dan sejatinya adalah diri yang butuh diperbaiki.

Sudah saatnya untuk merevisi hidup besar-besaran. Bukan hanya dari potensi yang perlu digali lebih dalam, melainkan juga dari sisi diri sendiri yang perlu ditemukan seutuhnya. Menurut aku kehidupan yang selalu berujung stagnan adalah karena meragukan diri sendiri. Dan, alasan aku masih tidak benar-benar menjadi diri sendiri adalah karena masih takut kehilangan validasi. Bersumber dari dua masalah tersebut, aku mulai merevisi hidup dari satu titik, pola pikir. Iya, kamu juga pasti pernah dengar, untuk bisa berubah harus diawali dari membenahi pola pikir. Apa lagi mengubah sesuatu yang sifatnya kebiasaan, ini bukan perkara mudah.

Padahal, sebelum-sebelumnya beberapa kali ada kesempatan untuk aku memperbaiki diri, terutama di produktivitas. Sebelumnya produktivitas aku hanya berkutat sebagai volunteering di PABOBA. Tidak ada kesibukan lain selain di PABOBA. Kemudian ketika seorang teman menyadarkanku bahwa selama ini pencarian validasiku masih menyasar orang lain. Padahal, validasi dari diri sendiri perlu diakui. Dan, aku menceritakannya secara lengkap di tulisan Tangki Hati yang Tidak Pernah Terisi Penuh. Dari situ aku mulai berkontemplasi dan menyentuh ruang pikiran yang hampir tidak terkendali. Satu hal yang pasti, aku memutuskan untuk menemukan diri sendiri. Menemukan diri dengan cara merevisi hidup dan menentukan tujuannya.

Setelah dua kejadian memuncak beberapa bulan lalu. Tentang diri yang kehilangan ketulusannya. Tentang mental diri yang terus terblokade untuk berkembang. Revisi hidup kali ini memiliki tujuan yang pasti: mencapai rida Allah. Terlalu religius, ya? Padahal, aku bukan muslimah yang taat. Hanya saja, aku menyadari hidup ini tidak ada apa-apanya dibanding Allah. Bahkan apa-apa yang aku lakukan saat ini terjadi atas izin Allah. Selama ini seakan-akan menuhankan diri sendiri atas apa-apa yang terjadi. Ketika mendapatkan pencapaian kecil, selalu menganggap karena aku. Oke, secara proses memang aku yang melakukan. Akan tetapi, Allah yang memberi izin dan kendali. 

Dan, kalau kata Alvi Syahrin dalam bukunya berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, mencintai diri sendiri sama halnya dengan mencintai Allah karena diri adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Kebetulan belakangan aku memang sedang belajar tentang iman dan mencintai Allah. Maka satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Aku mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa membuatku merasa berharga. Menjadikan kelebihan dan potensiku sebagai sesuatu yang luar biasa dan perlu dikembangkan. Menjadikan kelemahan sebagai pengingat diri bahwa aku adalah manusia yang akan selalu butuh Allah.


Ada beberapa revisi hidup yang mulai aku lakukan. 

Social & Self Relations

Pertama. Dari sisi diri dan hubungan dengan orang lain. Ketika menyadari bahwa aku bukan orang yang tulus dalam menjalani suatu hubungan, apa pun itu. Revisi yang aku terapkan adalah belajar untuk mengutamakan diri sendiri. Memang ini sedikit egois, tetapi bertujuan untuk mengetahui kapasitas diri. Kapan aku harus mendengarkan orang lain dan kapan aku butuh waktu sendiri. Aku belajar untuk berani berkata tidak terhadap sesuatu yang tidak bisa atau tidak mampu aku lakukan. Aku belajar untuk mendengarkan dan memeluk diri sendiri. Aku mengubah pola pikir bahwa aku juga sama pentingnya dengan orang lain. Sebab, Aku tidak pernah merasakan dicintai diri sendiri.

Dan, ketika aku sudah mencintai diri sendiri, maka hubunganku dengan orang lain akan jauh lebih bermakna, tanpa paksaan dan menjadi diri yang apa adanya.

Volunteering Goals

Kedua. Tujuan volunteering. Salah satu tempat paling efektif untuk aku mengais validasi tanpa henti adalah dengan memanfaatkan volunteering. Sebetulnya adalah hal wajar ketika kita melakukan sesuatu karena butuh validasi. Apa lagi namanya komunitas ada timbal balik dan saling menguntungkan. Komunitas butuh volunteer untuk penggerak dan volunteer butuh berkembang di komunitas. Itu sudah aku terapkan dan ternyata membuatku lelah. Maka aku belajar untuk bekerja ikhlas karena PABOBA merupakan tempat yang membuat aku jadi lebih baik. PABOBA yang memberi harapan tentang masa depan. Dan, PABOBA memberikan kesempatan aku untuk mencoba, sampai akhirnya ada di titik saat ini.

Jadi, fokus aku menjadi volunteer PABOBA bukan mengais validasi, melainkan berkontribusi. 

Create Personal Productivity

Ketiga. Membangun produktivitas personal. Ini yang paling penting karena adalah jalan untuk menemukan dan mencintai diri sendiri. Sebetulnya sudah dari lama sekali aku ingin punya produktivitas secara pribadi, maksudnya tidak terikat dengan komunitas ataupun orang lain. Sudah pernah dicoba, tetapi ujung-ujungnya tidak konsisten. Antara malas dan mental block, beda tipis memang. Sampai akhirnya ada di satu titik, motivasi 1% dari seorang teman mendorongku untuk akhirnya menyusun jadwal produktif. Pertama-tama aku list terlebih dahulu bentuk produktivitas. Misal: video Tiktok/Reels, blogging, carousel & story Instagram, dan drafting untuk buku solo. Kemudian, menyusun list proses produksi: take & edit video, menulis blog, menulis skrip untuk carousel, membagikan proses produktif ke IGs & SW, mencari naskah di blog lama untuk dijadikan buku solo.

Kalau dijadikan jadwal akan berbentuk seperti ini:

> MONDAY
Creative
- Banking script video & outlind blog idea #NW
Upload:
- Weekly Goals: A Small Step, has Begun!

> TUESDAY 
Creative
- Take video #NW
- Start writing #NW
- Prepare Vina Reads
Upload
- VT #1

> WEDNESDAY
Creative
- Editing video #NW
- Self edit blogscript & desain thumbnail #NW
Upload
- Post blog
- Upload Vina Reads

> THURSDAY
Creative
- Edit Vina Writes #NW
- +5 book drafting
- Prepare Vina Gratitudes
Upload
- Vina Gratitudes

> FRIDAY
Creative
- +5 book drafting
Upload:
- Vina Writes

> SATURDaAY
Creative 
- Prepare Vina Growth
Upload
- VT #2

> SUNDAY
Creative
- Prepare Vina Goals
Upload
- Vina Growth

Semua itu merupakan produktivitas pribadi yang harus diprioritaskan. Sebetulnya jadwal di atas tidak termasuk dengan jadwalku sebagai Kordiv PABOBA Creative Hub. Dan, ini menjadi kesempatan aku untuk belajar manajemen waktu. Satu hal yang aku pelajari, produktivitas yang efektif menurut aku dimulai dari sepagi mungkin dan tidur lebih awal. Supaya tetap konsisten dan terlihat progresnya, aku memanfaatkan akun Instagram JourneYou Room yang aku buat awal tahun untuk merekam proses produktivitas. Agar makin terlihat aktif, aku kolaborasikan dengan akun utamaku, yuvinazaharany_. Kalau ditanya, dengan produktivitas sebanyak itu memang bisa fokus? Bukankah kita harus mulai dari satu produktivitas dulu untuk bisa konsisten? 

Betul. Aku memilih untuk fokus produktif menulis blog dan baca buku. Tahu, tidak, justru dari dua produktivitas tersebut mampu melahirkan cabang-cabang produktif lainnya sekaligus sebagai personal branding. Dari postingan blog, bisa dibuat konten Vina Writes dan Vina Talks. Dari baca buku, bisa dibuat konten Vina Reads dan Vina Talks. Bahkan produktivitas yang aku lakukan bisa jadi konten journaling Vina Goals, Vina Gratitudes, Vina Growth, dan To-Do List di JourneYou Room. Jadi, tidak pusing karena memang saling berkaitan. Aku juga menurunkan ekspektasi dan standar berlebihan. Sebelumnya harus bisa menulis 1000 kata per tulisan, sekarang aku kurangi jadi minimal 800 kata saja. 

Dan, sekarang sudah berjalan satu bulan merevisi hidup. Sejujurnya aku tidak menyangka masih bisa mempertahankan produktivitas sampai detik ini. Biasanya jika sudah berjalan sehari dua hari, pasti akan berhenti. Mungkin karena kali ini memiliki tujuan yang lebih jelas dan telah melakukan identifikasi masalah. Sekarang aku merasa bersemangat dan berupaya keras untuk tidak berhenti karena kalau berhenti, akan sulit untuk bangkit lagi. Satu hal yang terpenting, Aku belajar untuk fokus pada progres dan proses, bukan pada kesempurnaan dan validasi.

AKU wmengakui bahwa imanku memang mengalami kelusuhan. Bahwa bentuk iman itu layaknya baju yang sering dipakai berulang kali sampai akhirnya lusuh. Iman yang kemudian luntur adalah wajar, tetapi menjadi tidak tepat ketika membiarkannya luntur hingga akhirnya tenggelam tak tertolong. Sementara, ketika baju kotor sedikit langsung dicuci, ketika baju rusak langsung beli baru. Bagaimana dengan iman yang terlanjur koyak, kotor dan rusak? 

Keimanan yang melemah ini terjadi setelah aku pesimis terhadap harapan yang tidak pernah ada jawaban. Berulang kali berharap, berulang kali pula nyaris tiarap. Akhirnya menyerah—entah pada apa atau siapa—mengikuti alur tanpa merencanakan apa pun. Buat apa? Toh, hidup aku begini-begini saja. Aku memang tidak layak dan tidak pantas bahagia. Tidak berani pula jika harus menyalahkan Tuhan, lebih kepada terserah saja jika hidupku tidak menarik.

Sudah sejak lama aku menganut hidup-pesimistis, percuma berharap, tidak akan ada yang berubah. Sampai-sampai aku jadi orang rasional dan logis, cenderung memblokade diri sendiri dari segala hal positif. Tidak mungkin bahagia, tidak mungkin sukses, tidak mungkin tercapai, tidak mungkin … pokoknya tidak mungkin, deh. Meski perlahan-lahan, kutipan mutiara mulai masuk telinga: Tuhan mengabulkan doa kita di waktu yang tepat, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, kalau doa tidak terkabul berarti Tuhan sudah mempersiapkan rencana baik untuk kita, dan kutipan mainstream lainnya.

Sebetulnya aku sudah mengamini dan mengerti. Akan tetapi, kutipan-kutipan itu tidak cukup untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan keimanan langsung seratus persen. Aku masih tidak yakin kepada Tuhan atas doa dan harapanku. Sampai ketika seseorang yang spesial memberikan buku digital berjudul Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Sepuluh halaman pertama, aku mendapatkan satu insight yang segar dan baru. Tidak pernah aku temui sebelumnya. 

Aku pernah berpikir tentang perasaan insecure terhadap diri sendiri. Merasa tidak layak dan tidak pantas untuk—sesederhana—bahagia, bahkan aku merasa malu berdoa karena banyak menimbun dosa. Logikanya begini, terlalu tidak tahu diri ketika aku si pendosa ini kemudian memohon permintaan kepada Allah, sementara aku banyak melanggar-Nya.

Walaupun. Seperti yang sebelumnya sudah aku ceritakan, aku sudah pernah mencobanya—berdoa dan menyandarkan harapan. Tidak pernah ada jawaban, yang ada aku malah makin merasa berdosa. Perasaan-perasaan negatif itu lahir dari harapan yang hampa tiada ujungnya. Kemudian ada yang berbisik, “Bagaimana kalau perasaan itu datang dari setan?”

Ketika aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? di halaman ke-11, bisikan yang telah lama berputar itu teramini. Betapa aku telah kalah dari setan yang berhasil meniupkan perasaan tidak pantas dan tidak layak. Betapa selama ini, aku telah tidak berdaya di bawah rayuan setan. Imanku lemah. Imanku goyah. Imanku rapuh. Ditempa oleh berbagai kerendahan diri akut, sampai-sampai melupakan bahwa ada fase bangkit. Aku hanya tahu jatuh dan makin terjerembab ke dalam kegelapan. Setidaknya sampai aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? yang kemudian kembali menuntunku untuk berdiri.

Mulai dari perombakan pola pikir yang bobrok. Pola pikir yang bermental menyerah. Buku ini perlahan-lahan-lahan membantuku berdiri. Seperti seorang Ibu yang mengajarkan anaknya berjalan. Atau, yang lebih menyentuh lagi, aku merasa buku ini menjadi perantara Allah untuk menuntunku berdiri. Berdiri untuk kembali berjalan, berjalan untuk kembali kepada-Nya. Mulai dari hal terkecil, mengubah pola pikir. Mengubah sudut pandangku tentang kehidupan dan konsep Tuhan.

Satu tahun belakangan, aku sering mempertanyakan Tuhan. Bukan soal keberadaannya, melainkan konsep Tuhan dalam mengabulkan doa dan harapan. Berangkat dari apa-apa yang terjadi di masa lalu, aku tumbuh jadi seseorang yang sudah tidak percaya lagi dengan masa depan cemerlang. Jangankan masa depan, masa kini yang sifatnya nyata pun terasa tidak mungkin. Setiap memiliki keinginan atau cita-cita, secara otomatis langsung aku kubur dalam-dalam. Banyak faktornya, mulai dari perasaan tidak layak karena tidak ada kemampuan. Kemudian merasa tidak pantas karena aku seperti hidup bagaikan sampah yang berserakan di pinggir jalan. Aku merasa tidak berharga karena tidak ada kegunaan dan manfaat.

Semua perasaan yang kemudian meruntuhkan harapan dan doa. Aku ada di titik merasa tidak pantas dan tidak layak untuk berharap dan berdoa. Bukan tanpa alasan. Pernah mencoba, tetapi setiap berharap, berujung pada kecewa. Setiap berdoa, aku makin terjerembab dalam kegelapan. Aku tidak berani menyalahkan Tuhan, yang aku lakukan adalah terserah Tuhan mau mengatur hidup aku seperti apa. Aku takut, tetapi aku marah pada Tuhan yang tidak pernah adil dengan hidup aku. Aku marah karena hidup aku seperti sampah. Dan, aku hanya bisa diam. Balas dendam adalah dengan merendahkan diri sendiri. Kemarahan yang aku lampiaskan kepada pola pikir negatif terhadap diri sendiri. Sebab, hanya aku yang bisa aku salahkan.

Itu aku yang sebelumnya. Sebelum aku akhirnya mulai menelusuri dunia literasi. Sebelum aku menjadi bagian dari Komunitas 30 Hari Membaca. Dan, sebelum aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Aku merasa Allah, perlahan-lahan menuntun aku menemukan jawaban dari 2019 sampai sekarang akhirnya terjawab sempurna. Seakan-akan buku ini menjadi panduan aku untuk kembali ke Allah lagi. Bahkan dari buku ini mampu memberikan perspektif sekaligus jawaban mutlak atas pertanyaan yang selama ini mengusik. Soal konsep Tuhan yang tadi kusampaikan. 

Satu poin penting. Satu saja. Jangan-kamahan selama ini aku telah berdoa dan berharap kepada Tuhan yang salah? Jadi, ketika aku merasa marah karena Tuhan yang acuh tidak acuh, Tuhan mana yang aku maksud? Aku menyadari, ternyata selama ini aku telah memiliki konsep Tuhan tersendiri di kepala. Tuhan Maha Mendengarkan, Maha Baik, Maha Kaya, Maha Pemberi, Maha Pengasih Lagi Penyayang. Sehingga ketika aku berharap dan berdoa, ekspektasiku akan menyesuaikan konsep Tuhan yang tercetak di kepala. Kemudian aku menjadi marah karena Tuhan mengabulkan harapan dan doaku. Bukankah Tuhan Maha Mendengar? Kenapa harapan dan doaku tidak dikabulkan? Bukankah Tuhan Maha Kaya? Kenapa Tuhan tidak memakmurkan hidupku? Bukankah Tuhan Maha Penyayang? Kenapa ujian terus hadir tanpa henti?

Padahal, bukankah Allah memiliki 99 asmaul husna? Bukankah Allah juga Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui? Allah bukan hanya Mendengarkan, melainkan juga Mengetahui apa yang terbaik untuk aku. Allah Menyayangi aku dengan Bijaksana melalui ujian-ujian yang diberikan. Allah itu Adil, amatlah adil, jika Allah tidak adil, Allah tidak akan peduli dan menuntun aku untuk kembali kepada-Nya. Buku ini telah mendobrak pintu hati untuk segera membenahi kerusakan yang masih singgah di kepala. Bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah Ta’ala, bukan tuhan palsu yang aku buat sendiri di kepala. Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah yang tahu kebutuhanku, bukan tuhan palsu yang harus sesuai dengan keinginanku.

Allah yang sejati dan sesungguhnya, Dialah pemilik 99 asmaul husna, bukan hanya sebagian. Artinya, konsep Tuhan yang selama ini terbentuk di kepalaku masih kurang lengkap. Aku hanya meyakini sifat Allah yang aku ingin saja. Selama ini aku telah salah memusatkan Tuhan. Wajar aku kecewa karena berharap pada tuhan palsu di kepala, bukan kepada Allah. Wajar aku marah, itu karena aku telah mengabaikan sifat-sifat Allah yang lainnya. Dan, wajar aku marah karena aku telah bersikap menuntut Allah untuk sesuai dengan apa yang aku inginkan. Padahal, Allah lebih tahu, Allah lebih memahami apa yang aku butuhkan.

Di tengah perjalanan membaca buku ini, karena Allah, aku punya kisah ajaib yang aku ceritakan dalam tulisan blog Jejak-Jejak Allah dalam Hidup Aku.
 

KADANG-KADANG aku merasa egois dengan diri sendiri. Terlalu sering mengabaikan diri yang butuh hiburan. Sesekali tidak masalah, kok, menggunakan sebagian uang untuk sekadar menyenangkan diri. Lagian sudah berapa lama dan sering coba mengabaikan diri? Manusia memang perlu memahami kebutuhan. Akan tetapi, bukan berarti jadi pincang untuk jalan-jalan sendirian.

Kalau aku normal, keluhan tadi terasa masuk akal dan menampar diri. Masalahnya, aku tidak normal. Aku lupa, kapan terakhir kali akhirnya memanjakan dan menyenangkan diri sendiri. Makin aku pikirkan, makin ragu, jangan-jangan aku tak pernah menghabiskan waktu dengan diriku sendiri. Kebanyakan kalau main di luar pasti selalu bareng teman atau keluarga. Tidak pernah ada kesempatan untuk bercengkerama dengan diri sendiri di luar rumah.

Baiklah. Satu temuan besar yang baru saja kusadari hari ini adalah aku tidak pernah me time. Serius. Dan, aku butuh me time!!!

Setidaknya hampir delapan tahun hidup, 90%-nya dihabiskan di dalam rumah. Bukannya aku cosplay jadi Rapunzel. Selain memng betah di rumah, kondisi penglihatan aku cukup menghambat kakiku melangkah seorang diri ke luar rumah. Dan, aku punya masalah “tidak enakan” kalau harus bergantung dengan orang lain hanya untuk sekadar menemaniku me tune. Itu akan merepotkan mereka karena harus “menjagsku”. Lagi pula yang aku mau, kan, me time sendirian. Lumayan lelah sebetulnya karena terus bersandar dengan orang lain.

Aku mengidamkan untuk bisa eksplorasi kota Bandar Lampung sendirian. Menikmati beberapa tempat kuliner tanpa harus menunggu teman berminat. Pergi ke wisata alam tanpa harus menunggu waktu libur orang lain. Dan, ke tempat-tempat lainnya yang memungkinkan aku jangkar. Atau sekadar jalan-jalan ke mal dan melakukan produktivitas di sana sambil menikmati potato plates serta matcha latte.

Dan—lagi—aku juga tipe anak rumahan yang tidak masalah lebih banyak di rumah. Di rumah juga ada fasilitas yang bisa menopang produktivitas aku dengan baik. Soal makanan, mulai dari camilan sampai makanan berat pun sudah tersedia. Terkadang jajanan-jajanan juga suka diberikan oleh Tanteku. Bahkan akses wifi 24/7 amat membantu produktivitas di komunitas online dan media sosial. Bisa dibilang aku yatim-piatu yang cukup makmur. Namun, aku hanya ingin menhhirup udara segar dan menikmati vibes kehidupan dengan diri sendiri.

Padahal keinginannya sederhana, tetapi aku tidak bisa mendapatkannya. Seseorang bilang kepadaku, “Kok, kamu bisa bahagia, padahal di rumah aja?”

Satu pertanyaan yang membuat aku tersadar tentang tindakan yang diambil oleh tubuh dan pikiranku selama ini. Kalau dikatakan bahagia, aku tidak bisa memungkiri selama di rumah tidak ada kendala berarti. Semuanya berjalan baik-baik saja, kalaupun ada masalah, tidak herlarut lama. Kemudian yang membuat kebahagiaan itu sedikit terusik adalah keinginan yang muncul. Kdimginn untuk jalan-jalan semdiri dan sebetulnya itu wajar, kok, sudah terlalu lama di rumah. Menjadi tidak wajar dan mengusik ketenangan ketika terlalu memaksakan keinginan. Terlalu dipaksa, padahal aku tidak mampu, tidak bisa, realitasnya sedang tidak berpihak. Dan, aku rasa, butuh waktu yang lama sekali sampai aku bisa mencapai keinginan itu. Belum lagi harus melewati proses panjang, seperti misalnya check up dan pengobatan mata. Sementara untuk sampai ke proses itu saja, aku sendiri sangsi. Lantas, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah: menerima, jangan memaksakan.

Aku menerima bahwa realitasnya tidak bisa me tim dengan jalan-jalan sendirian. Dan, aku tidak akan memaksakan diri untuk keluar rumah sendiri karena itu akan membahayakan diri sendiri. Toh, sebetulnya kalau bicara soal me time memang kebutuhan, kan, tidak harus keluar rumah, di rumah juga bisa, kok. Tidak semua keinginan harus direalisasikan, kan? Selama kebutuhannya terpenuhi, itu sudah cukup membahagiakan. Bisa jadi sebetulnya hidup kita sudah jadi standar kebahagiaan tersendiri, tetapi yang membuat kebahagiaan itu musik adalah standar yang terlalu memaksa. Standar yang tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Bukan berarti kita tidak boleh mengembangkan kapasitas diri. Akan tetapi, bukankah segalanya butuh proses?

Aku yakin bukan tanpa alasan, kenapa Allah memberikan kendala pada mataku. Aku yakin tidak serta-merta Allah memberikan keterbatasan dalam diri aku. Sampai saat ini aku masih belum menemukan jawaban semua itu, tetapi aku tidak berusaha untuk mencarinya. Ada beberapa jawaban-jawaban yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Dan, manusia tidak memiliki kemampuan untuk menembus waktu, itu adalah ranah Allah. Sementara aku sebagai manusia hanya memiliki kemampuan untuk memanfaatkan waktu saat ini sebaik-baiknya.

Sekarang aku memilih untuk menghargai waktu dengan tidak memaksakan keinginan di luar batasku. Apa pun itu, tidak hanya soal masalah me time. Aku sedang menciptakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang kubuat dalam hidup. Bukan berarti tidak mau hidup tanpa masalah, melainkan bagaimana caranya agar tetap bahagia dan tenang meski dalam masalah. Sebab, kalau dipikir-pikir lagi, sejak 2022 sampai saat ini, aku punya masalah yang tidak pernah berhenti dan terus berkelanjutan entah sampai kapan. Kondisi mata yang membatasiku adalah masalah. Namun, karena aku tidak mau menganggapnya sebagai masalah dan makin membatasi hidup aku, aku merasa tidak punya masalah. Benar kata orang-orang bahwa ternyata bahagia itu pilihan. Bisa jadi kita sendiri yang memilih untuk tidak bahagia.

Kini, aku tetap pergi ke luar rumah dengan teman aku percaya. Apa lagi, mulai bulan ini, setiap pekannya aku punya agenda rutin, kajian offline bersama Kak Septi dan Mbak Riska. Lokasi kajiannya pun tidak begitu jauh dari rumah, di Masid Ad-Du’a atau bisa fleksibel di masjid atau tempat lain. Biasanya agenda aku main keluar rumah hanya sebulan sekali ke rumah teman atau ke tempat kuliner. Cuma kalau dipikir-pikir lagi, agak disayangkan ketika uang habis untuk bermain jika rutin satu pekan satu kali. Berbeda dengan kajian yang sifatnya menuntut ilmu, justru malah sekarang aku memiliki pos uang tersendiri untuk kajian.

Kalau dalam buku Tuhan Engkau Pembohong? Allah mengabulkan doa kita tidak melulu sesuai dengan keinginan kita. Justru aku merasa kajian offline ini menjadi jawaban atas keinginan aku. Allah lebih tahu kebutuhanku, bisa jadi yang aku butuhkan adalah pengalaman beraktivitas di luar rumah, tidak harus sendiri, tetapi dengan teman. Apa lagi pertemuan pertama aku dengan Mbak Riska juga baik banget. Mbak Riska mentraktir aku dan Kak Septi mi ayam Jogja. Bahkan, biasanya setelah kajian aku dan Kak Septi pergi ke suatu tempat. Pekan lalu kami makan es krim di Momoyo. Kalau kemarin, kami jajan somay dan pop ice di sekitar Stadion Sumpah Pemuda. Dan tanpa disadari Allah mengabulkan keinginanku untuk jajan di sekitar stadion melalui Kak Septi.

Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Alasan Nge-Blog Bikin Merdeka Versi Gue!
  • Alasan dan Kiat Mengatasi Reading Slump!
  • Reviu Novel Represi: Menerima Kepahitan
  • Alasan Kita Merasa Kecewa
  • Bersyukur di Tengah-Tengah Tekanan

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 5
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template