Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
 TIDAK LENGKAP rasanya jika manusia tidak diperkenalkan dengan sosok yang bernama kehilangan. Ia sosok yang unik, tidak pernah ada yang berusaha untuk mengenalnya. Di waktu-waktu tertentu, dengan sendirinya sosok itu akan hadir. Kehadirannya pun sama uniknya dengan watak memilukan itu. 

Keunikan lain yang melekat di sosok itu, salah satunya tentang pertanda. Ia sama seperti manusia, ada yang santun, ada yang ketus. Terkadang suka mengetuk, atau justru menyelinap begitu saja tanpa diketahui. 

Perginya pun seperti perubahan cuaca, ada yang cerah, ada yang mendung disertai hujan dan petir. Kabar baiknya, ia akan cepat pulih dari sisa rasa hilang. Namun, cukup parah bagi mereka yang memulihkan sisa rasa hilang hingga menemui musim hujan berkali-kali. 

Dalam sebuah kisah, entah masa kemarin, pekan lalu, atau tahun sebelumnya. Paling tidak, ada satu waktu sosok itu datang. Satu kali, dua kali, bahkan berkali-kali. Seakan-akan dipaksa untuk bersama dengan kehilangan, di sisi lain diharuskan menerima yang pergi. 

Sekalinya datang, kehilangan akan menetap begitu lama. Nahasnya, sewaktu-waktu akan datang kembali di peradaban yang lain. 

Sosok itu memang makhluk paling sibuk. Sibuk menemui manusia satu ke manusia lainnya. Mengenalkan diri sebagai kehilangan dan pergi untuk datang kembali suatu saat. Padahal ia tahu, kehadirannya tidak pernah diharapkan siapa pun. 

Dunia ini hanya akan berisi manusia tanpa tahu apa itu perasaan karena tidak ada sosok yang bernama kehilangan. Sebab, kebahagiaan tidak akan terasa gembira ketika kehilangan tidak ada. Jika dipikir-pikir, kehilangan menjadi sebuah asupan penting bagi gizi kehidupan manusia. 

Daripada harus terpaksa menerima kenyataan menetapnya kehilangan yang tidak diidam-idamkan itu. Ada pikiran-pikiran yang sebaiknya bisa diajak bertukar pembicaraan. Tentang bagaimana untuk berdamai bersama rasa-rasa kehilangan yang bisa datang kapan saja. 

Kita sama-sama tahu bagaimana kehilangan merenggut bagian dari bahagia yang menyisakan memori. Tentang air mata yang jatuh di kehampaan, meski banyak manusia lain menepuk-nepuk bahu, mereka bilang untuk bersabar diri.

Memang tidak semudah itu untuk cepat-cepat bersabar diri. Ada waktu-waktu yang mengurung diri pada ruang yang dahulunya ada kini hilang menjadi hampa. Tersisa kesunyian yang pilu, tidak akan ada lagi kebiasaan-kebiasaan yang kini sudah lenyap bersama hilang. 

Meratap lalu bersedih, tidak apa-apa untuk hal itu. Namun, tidak baik pula untuk membiarkan kehilangan merengkuh jiwa kita. Sejatinya, jiwa butuh udara segar, ketimbang harus menjadikan jiwa lupa akan apa itu kebahagiaan. 

Kehilangan ada untuk membentuk kekuatan. Sebab, hidup tidak melulu perihal tertawa dan gembira. Tentang, yang ada tidak akan selamanya menemani, sampai waktunya dia akan pergi sendiri. Hingga saatnya pergi, tangan kita akan rela melepas dan jiwa membuka pintu lebar-lebar membiarkan kehilangan itu singgah sejenak. Sebut saja iu berdamai dengan rasa hilang. 


•••

“IBU sudah tidak ada.” Begitu kata dokter setelah memeriksa keadaan Ibu yang tidak bergerak sama sekali di atas kasur.

Aku tahu itu berita duka, seorang perempuan yang melahirkanku meninggal dunia. Namun, percaya atau tidak, ungkapan dokter lelaki tersebut membuatku lega. Seakan-akan menyapu bersih ruang sesak di dada. Sebagai anak remaja, aku masih belum tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa. Tidak lama kemudian, rumah yang tadinya sepi perlahan-lahan ramai pelayat. Ibu mulai dipindahkan ke ruang tamu.

Omong-omong, Ibu mengembuskan napas terakhir di rumah. Dokter tadi memang dipanggil untuk mengecek kondisi Ibu. Bukan karena orang have—bisa panggil dokter ke rumah, melainkan terpaksa dibawa pulang karena biaya rumah sakit mahal. Pada masa itu, belum ada sistem BPJS. Apa lagi, sejak aku SD sampai SMA, Ibu sering keluar masuk rumah sakit. Ingat betul, Ibu tidak ada ketika aku baru saja lulus sebagai anak SMA. Dan, beruntung sekali aku berada di samping Ibu pada detik-detik terakhirnya.

Ibu sudah terlalu kesakitan hidup di dunia yang keras. Saking kerasnya, entah mengapa, aku yakin Allah menyiapkan surga untuk Ibu. Meskipun aku sadar. Ketika aku lega, kepergian Ibu sekaligus melepaskan rasa sakit yang tidak masuk akal itu. Di saat yang bersamaan, artinya aku kehilangan doa paling mujarab dan telapak kaki yang mulia. Akan tetapi, aku harus menerima semua itu, daripada terus-menerus melihat Ibu disiksa oleh keadaan yang terlalu antagonis. Walaupun sampai saat ini aku punya ketakutan besar bahwa apakah aku menjadi bagian dari keadaan yang menyebalkan itu?

Ketika ketakutan itu hadir, aku akan selalu menenangkan dan menghibur diri sendiri.

Vina, kamu ingat, kan, lelucon kecimpring yang membuat Ibu tertawa? Vin, kamu beruntung, masih bisa tidur di samping Ibu di hari-hari terakhirnya. Mau tahu yang lebih melegakan? Berulang kali kamu mencium pipi Ibu dan berucap maaf. Meskipun Ibu menjawab dengan linglung, “Ibu sudah maafin kamu.”, percayalah hati Ibu masih waras.

Mungkin, keberadaanku dengan Ibu yang cukup intens itu yang membuat aku merasa lebih bisa menerima kepergiannya. Mulai dari Ibu dipindahkan ke ruang tamu, dimandikan, dikafani, dan disalati. Pada saat itu hari Jumat, sebelum Ibu dimakamkan, Ibu disalati terlebih dahulu di masjid setelah salat Jumat. Baru kemudian diantar ke pemakaman, tempat terakhir Ibu beristirahat panjang. Cuaca memang cukup panas, tetapi rumah baru Ibu, tepat berada di bawah pohon besar yang rindang.

Ibu siap dimakamkan. Adikku mengazani. Perlahan-lahan Ibu mulai diselimuti tanah. Di saat yang bersamaan, pipiku juga diselimuti air mata. Itu adalah air mata pertamaku untuk kepergian Ibu. Ketika Ibu betul-betul sudah ditedubi gundukan tanah, kesadaranku baru saja duduk di tempatnya dengan tepat. Ibu bukan hanya tidak lagi bernapas, mulai detik itu, jiwa dan raga Ibu sudah tidak ada lagi. Ibu pergi untuk selamanya.

Sampai saat itu, aku masih belum pernah merasa kehilangan. Kepergian Ibu, justru adalah kelegaan yang bisa aku terima. Aku belum bisa relevan dengan perasaan mencekam dan patah hati dari rasa kehilangan yang sering kali dialami hampir semua orang. Aku tidak menangis meraung-raung seperti adikku. Aku hanya lebih banyak diam, tidak bersikap dan bersuara. Kalau ada orang-orang yang mengucapkan belasungkawa, aku tersenyum tipis sebagai respons. Tidak ada perasaan berat hati untuk melepas Ibu karena kejadian ini sudah kami sekeluarga prediksi. Ketika waktunya Ibu pergi dan berhenti, aku sudah menyiapkan diriku sehingga perasaan kehilangan itu tidak sempat singgah.

•••

“Ayah sekarat.” Begitulah pesan dari mbakku yang saat itu sedang menemani Ayah di rumah sakit.

Baru kemarin sore, Ayah dirujuk ke rumah sakit karena sakit jantungnya kambuh. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat Ayah tumbang karena sakit. Selama ini Ayah hanya sakit biasa saja. Dia tipe ayah yang cukup galak, tegas, dan kuat, aku lumayan takut dan segan dengannya. Namun, semenjak era pandemi, aku dapat kabar Ayah dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Tahu tidak, hebatnya Ayah menyetir mobil pick-up sendirian menuju rumah sakit ketika serangan jantung untuk segera mendapatkan pertolongan.

Dari situ Ayah mulai sering keluar masuk rumah sakit, dirawat beberapa hari lalu pulang. Sering kali menjadi agenda rutin bulanan yang membuat aku terbiasa dengan ritme tersebut. Satu tahun, dua sampai tiga tahun kemudian. Ritme tersebut tidak pernah putus, meski ada kalanya beberapa bulan Ayah kondisinya sudah membaik. Namun, beberapa bulan kemudian kembali ngedrop dan kembali ke ritme rumah sakit-pulang-rumah sakit-pulang. Sampai akhirnya, ketika Ayah dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya. Baru satu hari, besok sorenya mbakku memgabarkan, *Ayah sudah tidak ada.”

Baru saja aku mau pergi ke rumah sakit untuk gamtian berjaga, ternyata Ayah sudah lebih dulu tiada. Saat itu, aku masih berada di rumah tante. Untuk memastikan, aku menelepon mbakku. Setelah diangkat, sebelum aku mengucapkan sepatah kata. Suara isak tangis dari seberang, memvalidasi pesan yang baru dikirimkan. Sambil menangis, aku hanya bisa mengungkapkan, “Kok bisa, sih, Mbak?”

Aku terduduk tidak berdaya di sisi kasur. Mendengar suara tangisanku. Tanteku yang satu lagi—kebetulan sedang berkunjung—menghampiri dan memelukku. Aku tidak berhenti menangis sampai aku duduk di kursi samping ranjang Ayah. Ayah terduduk bersandar ditutupi selimut. Ayah betulan tidak ada. Aku meraih dan menggenggam tangan Ayah yang sudah tidak berdaya. Tangan yang dulunya sangat kuat, tangan yang tiga tahun belakangan sering ditusuk jarum suntik. Aku menelungkupkan kepalaku sambil mengelus tangannya. Dalam hati dan pikiran berkecamuk. Penuh dengan berbagai kilasan-kilasan hari kemarin, beberapa hari lalu, bertahun-tahun lalu. 

Aku lag-lagi tidak tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa. Mengingat kondisi mataku sudah tidak baik, aku hanya duduk di samping Ayah yang kini sudah ditidurkan di ruang tamu rumah mbak pertamaku. Selama perjalan dari rumah sakit ke rumah mbakku, aku tidak berhenti menangis. Dan, air mataku sudah habis. Besoknya, Ayah siap dimandikan dan dikafani. Di sini pipiku kembali basah oleh air mata. Tubuh lelaki yang dulunya kuat itu, kini mengenakan pakaian terakhirnya. Ayah betulan sudah tidak ada. Kemudian Ayah disalati setelah salat Jumat selesai dan segera dipulangkan ke rumah terakhirnya. Adikku kembali mengazani. Dan, mataku tidak pernah lepas dari Ayahku meski sudah ditutupi oleh papan dan perlahan tanah merah itu menyelimuti Ayah sampai menjadi gundukan.

Air mataku sudah habis. Baru saja, aku baru bisa menerima kepergian Ayah untuk selamanya. Tidak ada kelegaan, yang ada hanyalah kebingungan.

Untuk pertama kalinya aku mengalami rasanya kehilangan seseorang. Orang yang sebelumnya masih ada bersamaku, orang yang tadinya masih terlihat berusaha dan berjuang melawan penyakit. Kemudian orang tersebut tidak ada dalam sekejap, tanpa aku prediksi. Aku yakin betul, pria itu sebelumnya masih bisa berdiri tegak, tetapi besoknya tidak lagi bergerak. Aku pikir ketika Ayah masuk rumah sakit, dua atau tiga hari berikutnya akan pulang. Nalum, belum sampai dua hari, Ayah memang pulang, pulang ke kehidupan selanjutnya. Ini adalah perasaan kehilangan yang mencekam dan mematahkan. Jujur saja, menuliskan cerita tentang hari-hari terakhir Ayah, napasku terasa berat dan dadaku sesak. Betapa kehilangan itu tidak pernah pergi, meskipun Ayah sudah pergi.

•••

Ayah dan Ibu, meninggalkan warisan berupa pelajaran berharga dalam hidup. Pelajaran yang akan selalu aku genggam sampai kapan pun. Betapa kita tidak pernah tahu, kapan orang-orang terdekat akan pergi. Tidak peduli apakah orang tersayang atau orang yang selalu berselisih dengan kita. Entah mereka pergi dengan memberikan kehilangan yang melegakan atau mencekam. Setidaknya mereka pernah ada dalam hidup kita. Dan, penyesalan terbesar atas kedua rasa kehilangan itu adalah andai saja aku betul-betul memanfaatkan waktu bersama mereka dengan baik. Sayangnya kematian tidak bisa diprediksi.




AKU tidak tahu bagaimana caranya berbicara. Aku lebih banyak diam, daripada mengeluarkan suara. Memangnya akan ada yang mendengarkan? Baiklah, jika ada yang mendengar, tetapi aku cukup sangsi, apa-apa yang keluar dari mulutku, pasti tidak menarik. Aku pernah ada di fase jijik, tidak sudi mendengar suaraku sendiri. Pasti ujung-ujungnya aku akan merasa dipermalukan setiap setelah berbicara sepatah dua kata. Akan selalu ada pertanyaan rutukan dan cacian, “Vina bego, ngapain ngomong, sih? Malu-maluin aja!”

Bukan tanpa alasan, melainkan aku tumbuh dengan terbiasa tidak didengar.

Aku adalah anak keempat dari enam bersaudara. Aku adalah anak paling pendiam di rumah. Di antara yang lainnya, aku tidak ada daya tarik. Aku hanyalah salah satu yang ada dari anggota keluarga ini. Mengikuti setiap keputusan yang telah diputuskan. Meskipun tidak jarang aku melanggar aturan tidak tertulis yang menyebabkan Ayah marah. Apa lagi, Ayah adalah tipe orangtua tegas dan galak. Pernah dicubit, dijewer, dipukul, bahkan pernah “dikurung” di kamar, dan diusir dari rumah. Memang karena kesalahanku, sih, masih untung tidak dicoret dari kartu keluarga.

Di rumah, Ayah adalah sosok yang paling dominan. Aku sendiri anak yang takut dan segan dengan beliau. Selain karena pendiam, aku juga tidak berani untuk berbicara dengannya. Sekadar meminta uang jajan, apa lagi meminta dibelikan ponsel pun tidak pernah. Bahkan pernah, ketika aku pulang sekolah waktu SMP dijemput Ayah. Ketika itu sedang hujan deras dan kami mengenakan jas hujan. Hari Jumat mengenakan seragam rohis berwarna hijau. Celanaku saat itu bagian kain basah sobek tersangkut di sela-sela ban. Jadi, selama di perjalanan dan selama roda berputar aku menahan kakiku agar tidak terkilir. Aku tidak berbicara pada Ayah karena aku takut. Biarlah aku tahan sendirian semua ini. Beruntung aku tidak terluka atau membuat kami laka di jalan.

Di rumah, aku merasa tidak ada ruang untuk berbicara. Mereka bilang aku masih kecil dan tidak mengerti apa-apa. Sampai aku masuk SMA pun pendapatku diserang. Ketika itu, ujian nasional SMP sudah berakhir, dan aku sudah punya tujuan SMA. Salah satunya adalah SMAN 3 Bandar Lampung. Salah satu SMA Negeri unggulan di kotaku sekaligus sekolah Ibuku dulu. Aku ter-influence oleh cerita ibuku dan membuatku tertarik untuk bersekolah di sana. Jadi, ketika Ayah bertanya mengenai pilihan SMA-ku, Aku menjawab sekolah unggulan itu. Namun, Ayah menanggapi, “Kamu itu mau sekolah atau main-main?!”

Aku yang tadinya antusias, langsung runtuh. Kupikir akan didukung, ternyata diempaskan. Membuatku jadi tidak bersemangat. Coba tebak, alhasil ujung-ujungnya aku masuk sekolah swasta yang kata teman-temanku sekolah bau kandang kambing dan sering ada yang kesurupan. Ironinya, sekolah swasta ini letaknya tidak jauh dari sekolah impianku. Ingat betul, aku menangis sesenggukan di ruang tamu rumah tante yang kebetulan sedang sepi. Betapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang kumau, bahkan sebelum berusaha.

 Mulai dari situ aku makin tidak berani untuk bersuara dan mengemukakan pendapat.

Tumbuh di lingkungan yang tanpa sadar tidak memberikan ruang untuk berbicara, membuatku takut untuk sekadar menyampaikan keinginan. Sampai saat ini, masih ada beberapa dampak yang belum bisa aku atasi. Sesederhana menceritakan sesuatu, mulut rasanya berat sekali untuk dibuka. Seperti ada beban yang menahan, padahal hati dan kepala sudah berteriak. Orang-orang mungkin menganggapku terlalu berlebihan, hiperbola. Masalahnya ini tidak semudah “Coba, dong. Belajar diomongin”, tidak semudah itu. Aku juga mau, tetapi reaksi tubuhku bersikap sebaliknya.

Begini. Di dunia ini tidak semua hal aku bersedia untuk belajar mengendalikannya. Selain tidak bersedia, aku tidak siap menghadapi reaksiku sendiri setelahnya. Namun, aku sadar bahwa manusia dalam hidup juga butuh berkembang. Jadi, ada beberapa hal yang aku bersedia untuk mengontrol dan siap menghadapi risikonya, yaitu public speaking. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku betul-betul bisa berdamai dengan suaraku sendiri. Setidaknya sampai aku menemukan satu tempat yang memberikan ruang leluasa untuk berbicara. Ruang ketika aku bebas bersuara tanpa takut dihakimi. Namun, sebelum jauh ke situ, aku akan menceritakan prosesnya.

Jika aku tidak pernah berani untuk bicara, lantas bagaimana caraku meluapkan apa yang ada di kepala dan hati? Bukankah ketika segala bentuk emosi dan pikiran menumpuk, hanya akan menjadi sampah negatif? Bukankah semua itu pada akhirnya akan menjadi bumerang, jika selalu dipendam? Betul. Aku tidak serta merta memendam semuanya, kok. Salah satu hal yang aku syukuri adalah aku memiliki ketertarikan dengan dunia menulis. Tanpa sadar, aku sering menulis quotes di Instagram pribadi—sampai saat ini masih ada. Kemudian tulisan itu berkembang menjadi tulisan panjang. Sampai akhirnya aku memiliki blog. Pada awal belajar blog, aku diajarkan cara menulis artikel SEO on page. Dari situ sering menulis artikel yang struktural seperti artikel listicle, feature, sampai esai. Di sisi lain, aku juga tetap menulisksn. perasaan dan pikiranku di blog khusus.

Perlahan-lahan, ketika aku mulai aktif volunteering di komunitas literasi. Aku mulai.belajar berinteraksi dengan orang-orang baru. Meskipun online, tetapi ini membantu aku untuk memahami ritme dan cara berkomunikasi yang baik. Aku cukup aktif di komunitas tersebut, mulai dari menjadi pengurus event/challenge literasi beberapa kali. Sampai akhirnya, di komunitas yang sama, untuk pertama kalinya aku menjadi MC di acara kelas kepenulisan online. Dari situlah awal mula saklar bicaraku menyala. Aku punya keinginan itu kuat untuk nge-MC kembali di depan umum, meskipun online.

Tuhan mendengarkan keinginanku, beberapa bulan kemudian Tuhan mempertemukanku dengan komunitas yang membuatku makin berkembang. Pada awalnya aku hanya menjadi penanggung jawab dalam mengoperasikan suatu grup membaca. Dikarenakan aku sudah bergabung sebagai volunteer di komunitas ini, otomatis aku dapat mengikuti kegiatan-kegiatan literasi lainnya. Salah satunya adalah event literasi. Perkenalkan, nama komunitas itu adalah 30 Hari Membaca atau dikenal dengan tagline Pantang Bobo Sebelum Baca (PABOBA). PABOBA menjadi tempat yang menginterpretasikan sebuah rumah kedua. Rumah kedua ini memang bukan tempat pulang, melainkan tempatku berkembang. Untuk pertama kalinya ada yang memintaku untuk menjadi pembawa acara di event Tukar Pikir PABOBA. Untuk pertama kalinya ada yang percaya padahal belum pernah tahu diri aku dan bahkan baru kenal. Mereka mempercayakan kegiatan komunitas mereka kepadaku sebagai pembawa acara ataupun MC.

Bukan hanya tampil di depan umum secara online. Di PABOBA, aku belajar mengeluarkan pendapat dalam rapat forum. Sebab, setiap bulannya selalu ada rapat bulanan sebagai evaluasi. Perlahan-lahan, ruang didengar itu aku dapatkan. Selama ini mulutku benar-benar terkunci hingga kata-kata hanya sampai di ujung tenggorokan. Selama ini pendapat ataupun ide hanya bersarang di kepala tanpa ada tindakan. Selama ini yang berfungsi hanya telinga, sementara bibirku adalah anggota paling pasif. Selama ini kupikir tidak bisa berbicara, ternyata aku bisa.

Dari fase aku yang sering menulis quotes sampai menulis artikel, membantu susunan bicaraku jadi lebih terstruktur dan memiliki alur. Menulis quotes membantu aku menata pikiran dan hati, sehingga gaya bicaraku terkadang lebih personal. Menulis artikel membantu aku mengenal proses kreatif dan kredibilitas dalam suatu tulisan, sehingga aku belajar tidak asal dalam berbicara. Sementara, membaca memperkenalkanku dengan dunia luar yang tidak pernah aku gapai. Membaca fiksi mengenalkanku dengan karakteristik orang-orang, sehingga membantu aku dalam berinteraksi dengan orang lain. Membaca nonfiksi mengajarkanku tentang teori dan konsep, sehingga aku belajar berbicara sesuai dengan wawasan yang aku dapatkan. 

Setelah mendapatkan pengalaman dan pembelajaran otodidak dari menulis dan membaca. PABOBA menjadi ruang praktik bicaranya. Melakukan latihan, pasti ada kesalahan, tetapi itu bagian dari proses. Lagi-lagi, tidak ada satu pun orang di PABOBA yang menghakimi dan menghentikan langkahku untuk terus mencoba. Bukan hanya ruang mendengar, PABOBA juga memberi ruang untuk aku belajar dari kesalahan tanpa dihakimi. PABOBA tidak hanya memberikan ruang, tetapi juga menumbuhkan harapan yang telah lama terkubur. Harapan akan masa depan yang cerah. Dan, aku punya impian tentang berbicara. Aku bercita-cita berbicara di depan banyak orang secara langsung.

Satu hal aku sadari. Selama ini aku bukannya tidak bisa berbicara. Aku hanya tidak diberikan ruang untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. Aku hanya tidak punya kesempatan untuk berbicara. 
SEUPAYA apa pun aku bersikap aman, ternyata tetap saja, namanya hidup tidak lepas dari masalah. Justru dari sikap “aman” itulah yang menjadi cikal bakal masalah. Masalah yang kemudian membawaku pada satu titik balik. Persoalan diri yang nyatanya belum pernah selesai. Tentang tangki hati yang tidak pernah penuh. Tentang perkembangan diri yang belum pernah ada hasilnya. Tentang masa depan yang terlihat samar. Dan, tentang pola pikir yang terus menyerang diri sendiri.

Dan, lagi-lagi, semua itu datang dari perasaan tidak berharga. Perasaan tidak berharga yang membuat aku haus validasi demi mengisi tangki. Perasaan tidak berharga yang memblokade mental aku untuk berkembang dan bertumbuh. Perasaan tidak berharga yang menakut-nakuti betapa suramnya masa depanku. Perasaan tidak berharga yang mengendalikan pikiran untuk selalu merendahkan diri sendiri.

Perasaan tidak berharga yang kemudian dibalut dengan kepedulian palsu. Balutannya tampak indah, sementara orang lain tidak melihat betapa di balik balutan itu terdapat diri yang terkoyak karena kehilangan identitas. Setelah sekian lama diri itu bertahan di belenggu oleh balutan indah yang palsu, akhirnya berontak dan menyerang. Seperti ledakan besar, diri itu akhirnya merobek balutan dan memperlihatkan aslinya. Bahwasanya keindahan itu hanya balutan yang mudah hancur dan sejatinya adalah diri yang butuh diperbaiki.

Sudah saatnya untuk merevisi hidup besar-besaran. Bukan hanya dari potensi yang perlu digali lebih dalam, melainkan juga dari sisi diri sendiri yang perlu ditemukan seutuhnya. Menurut aku kehidupan yang selalu berujung stagnan adalah karena meragukan diri sendiri. Dan, alasan aku masih tidak benar-benar menjadi diri sendiri adalah karena masih takut kehilangan validasi. Bersumber dari dua masalah tersebut, aku mulai merevisi hidup dari satu titik, pola pikir. Iya, kamu juga pasti pernah dengar, untuk bisa berubah harus diawali dari membenahi pola pikir. Apa lagi mengubah sesuatu yang sifatnya kebiasaan, ini bukan perkara mudah.

Padahal, sebelum-sebelumnya beberapa kali ada kesempatan untuk aku memperbaiki diri, terutama di produktivitas. Sebelumnya produktivitas aku hanya berkutat sebagai volunteering di PABOBA. Tidak ada kesibukan lain selain di PABOBA. Kemudian ketika seorang teman menyadarkanku bahwa selama ini pencarian validasiku masih menyasar orang lain. Padahal, validasi dari diri sendiri perlu diakui. Dan, aku menceritakannya secara lengkap di tulisan Tangki Hati yang Tidak Pernah Terisi Penuh. Dari situ aku mulai berkontemplasi dan menyentuh ruang pikiran yang hampir tidak terkendali. Satu hal yang pasti, aku memutuskan untuk menemukan diri sendiri. Menemukan diri dengan cara merevisi hidup dan menentukan tujuannya.

Setelah dua kejadian memuncak beberapa bulan lalu. Tentang diri yang kehilangan ketulusannya. Tentang mental diri yang terus terblokade untuk berkembang. Revisi hidup kali ini memiliki tujuan yang pasti: mencapai rida Allah. Terlalu religius, ya? Padahal, aku bukan muslimah yang taat. Hanya saja, aku menyadari hidup ini tidak ada apa-apanya dibanding Allah. Bahkan apa-apa yang aku lakukan saat ini terjadi atas izin Allah. Selama ini seakan-akan menuhankan diri sendiri atas apa-apa yang terjadi. Ketika mendapatkan pencapaian kecil, selalu menganggap karena aku. Oke, secara proses memang aku yang melakukan. Akan tetapi, Allah yang memberi izin dan kendali. 

Dan, kalau kata Alvi Syahrin dalam bukunya berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, mencintai diri sendiri sama halnya dengan mencintai Allah karena diri adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Kebetulan belakangan aku memang sedang belajar tentang iman dan mencintai Allah. Maka satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Aku mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa membuatku merasa berharga. Menjadikan kelebihan dan potensiku sebagai sesuatu yang luar biasa dan perlu dikembangkan. Menjadikan kelemahan sebagai pengingat diri bahwa aku adalah manusia yang akan selalu butuh Allah.


Ada beberapa revisi hidup yang mulai aku lakukan. 

Social & Self Relations

Pertama. Dari sisi diri dan hubungan dengan orang lain. Ketika menyadari bahwa aku bukan orang yang tulus dalam menjalani suatu hubungan, apa pun itu. Revisi yang aku terapkan adalah belajar untuk mengutamakan diri sendiri. Memang ini sedikit egois, tetapi bertujuan untuk mengetahui kapasitas diri. Kapan aku harus mendengarkan orang lain dan kapan aku butuh waktu sendiri. Aku belajar untuk berani berkata tidak terhadap sesuatu yang tidak bisa atau tidak mampu aku lakukan. Aku belajar untuk mendengarkan dan memeluk diri sendiri. Aku mengubah pola pikir bahwa aku juga sama pentingnya dengan orang lain. Sebab, Aku tidak pernah merasakan dicintai diri sendiri.

Dan, ketika aku sudah mencintai diri sendiri, maka hubunganku dengan orang lain akan jauh lebih bermakna, tanpa paksaan dan menjadi diri yang apa adanya.

Volunteering Goals

Kedua. Tujuan volunteering. Salah satu tempat paling efektif untuk aku mengais validasi tanpa henti adalah dengan memanfaatkan volunteering. Sebetulnya adalah hal wajar ketika kita melakukan sesuatu karena butuh validasi. Apa lagi namanya komunitas ada timbal balik dan saling menguntungkan. Komunitas butuh volunteer untuk penggerak dan volunteer butuh berkembang di komunitas. Itu sudah aku terapkan dan ternyata membuatku lelah. Maka aku belajar untuk bekerja ikhlas karena PABOBA merupakan tempat yang membuat aku jadi lebih baik. PABOBA yang memberi harapan tentang masa depan. Dan, PABOBA memberikan kesempatan aku untuk mencoba, sampai akhirnya ada di titik saat ini.

Jadi, fokus aku menjadi volunteer PABOBA bukan mengais validasi, melainkan berkontribusi. 

Create Personal Productivity

Ketiga. Membangun produktivitas personal. Ini yang paling penting karena adalah jalan untuk menemukan dan mencintai diri sendiri. Sebetulnya sudah dari lama sekali aku ingin punya produktivitas secara pribadi, maksudnya tidak terikat dengan komunitas ataupun orang lain. Sudah pernah dicoba, tetapi ujung-ujungnya tidak konsisten. Antara malas dan mental block, beda tipis memang. Sampai akhirnya ada di satu titik, motivasi 1% dari seorang teman mendorongku untuk akhirnya menyusun jadwal produktif. Pertama-tama aku list terlebih dahulu bentuk produktivitas. Misal: video Tiktok/Reels, blogging, carousel & story Instagram, dan drafting untuk buku solo. Kemudian, menyusun list proses produksi: take & edit video, menulis blog, menulis skrip untuk carousel, membagikan proses produktif ke IGs & SW, mencari naskah di blog lama untuk dijadikan buku solo.

Kalau dijadikan jadwal akan berbentuk seperti ini:

> MONDAY
Creative
- Banking script video & outlind blog idea #NW
Upload:
- Weekly Goals: A Small Step, has Begun!

> TUESDAY 
Creative
- Take video #NW
- Start writing #NW
- Prepare Vina Reads
Upload
- VT #1

> WEDNESDAY
Creative
- Editing video #NW
- Self edit blogscript & desain thumbnail #NW
Upload
- Post blog
- Upload Vina Reads

> THURSDAY
Creative
- Edit Vina Writes #NW
- +5 book drafting
- Prepare Vina Gratitudes
Upload
- Vina Gratitudes

> FRIDAY
Creative
- +5 book drafting
Upload:
- Vina Writes

> SATURDaAY
Creative 
- Prepare Vina Growth
Upload
- VT #2

> SUNDAY
Creative
- Prepare Vina Goals
Upload
- Vina Growth

Semua itu merupakan produktivitas pribadi yang harus diprioritaskan. Sebetulnya jadwal di atas tidak termasuk dengan jadwalku sebagai Kordiv PABOBA Creative Hub. Dan, ini menjadi kesempatan aku untuk belajar manajemen waktu. Satu hal yang aku pelajari, produktivitas yang efektif menurut aku dimulai dari sepagi mungkin dan tidur lebih awal. Supaya tetap konsisten dan terlihat progresnya, aku memanfaatkan akun Instagram JourneYou Room yang aku buat awal tahun untuk merekam proses produktivitas. Agar makin terlihat aktif, aku kolaborasikan dengan akun utamaku, yuvinazaharany_. Kalau ditanya, dengan produktivitas sebanyak itu memang bisa fokus? Bukankah kita harus mulai dari satu produktivitas dulu untuk bisa konsisten? 

Betul. Aku memilih untuk fokus produktif menulis blog dan baca buku. Tahu, tidak, justru dari dua produktivitas tersebut mampu melahirkan cabang-cabang produktif lainnya sekaligus sebagai personal branding. Dari postingan blog, bisa dibuat konten Vina Writes dan Vina Talks. Dari baca buku, bisa dibuat konten Vina Reads dan Vina Talks. Bahkan produktivitas yang aku lakukan bisa jadi konten journaling Vina Goals, Vina Gratitudes, Vina Growth, dan To-Do List di JourneYou Room. Jadi, tidak pusing karena memang saling berkaitan. Aku juga menurunkan ekspektasi dan standar berlebihan. Sebelumnya harus bisa menulis 1000 kata per tulisan, sekarang aku kurangi jadi minimal 800 kata saja. 

Dan, sekarang sudah berjalan satu bulan merevisi hidup. Sejujurnya aku tidak menyangka masih bisa mempertahankan produktivitas sampai detik ini. Biasanya jika sudah berjalan sehari dua hari, pasti akan berhenti. Mungkin karena kali ini memiliki tujuan yang lebih jelas dan telah melakukan identifikasi masalah. Sekarang aku merasa bersemangat dan berupaya keras untuk tidak berhenti karena kalau berhenti, akan sulit untuk bangkit lagi. Satu hal yang terpenting, Aku belajar untuk fokus pada progres dan proses, bukan pada kesempurnaan dan validasi.

AKU wmengakui bahwa imanku memang mengalami kelusuhan. Bahwa bentuk iman itu layaknya baju yang sering dipakai berulang kali sampai akhirnya lusuh. Iman yang kemudian luntur adalah wajar, tetapi menjadi tidak tepat ketika membiarkannya luntur hingga akhirnya tenggelam tak tertolong. Sementara, ketika baju kotor sedikit langsung dicuci, ketika baju rusak langsung beli baru. Bagaimana dengan iman yang terlanjur koyak, kotor dan rusak? 

Keimanan yang melemah ini terjadi setelah aku pesimis terhadap harapan yang tidak pernah ada jawaban. Berulang kali berharap, berulang kali pula nyaris tiarap. Akhirnya menyerah—entah pada apa atau siapa—mengikuti alur tanpa merencanakan apa pun. Buat apa? Toh, hidup aku begini-begini saja. Aku memang tidak layak dan tidak pantas bahagia. Tidak berani pula jika harus menyalahkan Tuhan, lebih kepada terserah saja jika hidupku tidak menarik.

Sudah sejak lama aku menganut hidup-pesimistis, percuma berharap, tidak akan ada yang berubah. Sampai-sampai aku jadi orang rasional dan logis, cenderung memblokade diri sendiri dari segala hal positif. Tidak mungkin bahagia, tidak mungkin sukses, tidak mungkin tercapai, tidak mungkin … pokoknya tidak mungkin, deh. Meski perlahan-lahan, kutipan mutiara mulai masuk telinga: Tuhan mengabulkan doa kita di waktu yang tepat, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, kalau doa tidak terkabul berarti Tuhan sudah mempersiapkan rencana baik untuk kita, dan kutipan mainstream lainnya.

Sebetulnya aku sudah mengamini dan mengerti. Akan tetapi, kutipan-kutipan itu tidak cukup untuk mengubah pola pikir dan meningkatkan keimanan langsung seratus persen. Aku masih tidak yakin kepada Tuhan atas doa dan harapanku. Sampai ketika seseorang yang spesial memberikan buku digital berjudul Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Sepuluh halaman pertama, aku mendapatkan satu insight yang segar dan baru. Tidak pernah aku temui sebelumnya. 

Aku pernah berpikir tentang perasaan insecure terhadap diri sendiri. Merasa tidak layak dan tidak pantas untuk—sesederhana—bahagia, bahkan aku merasa malu berdoa karena banyak menimbun dosa. Logikanya begini, terlalu tidak tahu diri ketika aku si pendosa ini kemudian memohon permintaan kepada Allah, sementara aku banyak melanggar-Nya.

Walaupun. Seperti yang sebelumnya sudah aku ceritakan, aku sudah pernah mencobanya—berdoa dan menyandarkan harapan. Tidak pernah ada jawaban, yang ada aku malah makin merasa berdosa. Perasaan-perasaan negatif itu lahir dari harapan yang hampa tiada ujungnya. Kemudian ada yang berbisik, “Bagaimana kalau perasaan itu datang dari setan?”

Ketika aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? di halaman ke-11, bisikan yang telah lama berputar itu teramini. Betapa aku telah kalah dari setan yang berhasil meniupkan perasaan tidak pantas dan tidak layak. Betapa selama ini, aku telah tidak berdaya di bawah rayuan setan. Imanku lemah. Imanku goyah. Imanku rapuh. Ditempa oleh berbagai kerendahan diri akut, sampai-sampai melupakan bahwa ada fase bangkit. Aku hanya tahu jatuh dan makin terjerembab ke dalam kegelapan. Setidaknya sampai aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? yang kemudian kembali menuntunku untuk berdiri.

Mulai dari perombakan pola pikir yang bobrok. Pola pikir yang bermental menyerah. Buku ini perlahan-lahan-lahan membantuku berdiri. Seperti seorang Ibu yang mengajarkan anaknya berjalan. Atau, yang lebih menyentuh lagi, aku merasa buku ini menjadi perantara Allah untuk menuntunku berdiri. Berdiri untuk kembali berjalan, berjalan untuk kembali kepada-Nya. Mulai dari hal terkecil, mengubah pola pikir. Mengubah sudut pandangku tentang kehidupan dan konsep Tuhan.

Satu tahun belakangan, aku sering mempertanyakan Tuhan. Bukan soal keberadaannya, melainkan konsep Tuhan dalam mengabulkan doa dan harapan. Berangkat dari apa-apa yang terjadi di masa lalu, aku tumbuh jadi seseorang yang sudah tidak percaya lagi dengan masa depan cemerlang. Jangankan masa depan, masa kini yang sifatnya nyata pun terasa tidak mungkin. Setiap memiliki keinginan atau cita-cita, secara otomatis langsung aku kubur dalam-dalam. Banyak faktornya, mulai dari perasaan tidak layak karena tidak ada kemampuan. Kemudian merasa tidak pantas karena aku seperti hidup bagaikan sampah yang berserakan di pinggir jalan. Aku merasa tidak berharga karena tidak ada kegunaan dan manfaat.

Semua perasaan yang kemudian meruntuhkan harapan dan doa. Aku ada di titik merasa tidak pantas dan tidak layak untuk berharap dan berdoa. Bukan tanpa alasan. Pernah mencoba, tetapi setiap berharap, berujung pada kecewa. Setiap berdoa, aku makin terjerembab dalam kegelapan. Aku tidak berani menyalahkan Tuhan, yang aku lakukan adalah terserah Tuhan mau mengatur hidup aku seperti apa. Aku takut, tetapi aku marah pada Tuhan yang tidak pernah adil dengan hidup aku. Aku marah karena hidup aku seperti sampah. Dan, aku hanya bisa diam. Balas dendam adalah dengan merendahkan diri sendiri. Kemarahan yang aku lampiaskan kepada pola pikir negatif terhadap diri sendiri. Sebab, hanya aku yang bisa aku salahkan.

Itu aku yang sebelumnya. Sebelum aku akhirnya mulai menelusuri dunia literasi. Sebelum aku menjadi bagian dari Komunitas 30 Hari Membaca. Dan, sebelum aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong? karya Taufiq RH. Aku merasa Allah, perlahan-lahan menuntun aku menemukan jawaban dari 2019 sampai sekarang akhirnya terjawab sempurna. Seakan-akan buku ini menjadi panduan aku untuk kembali ke Allah lagi. Bahkan dari buku ini mampu memberikan perspektif sekaligus jawaban mutlak atas pertanyaan yang selama ini mengusik. Soal konsep Tuhan yang tadi kusampaikan. 

Satu poin penting. Satu saja. Jangan-kamahan selama ini aku telah berdoa dan berharap kepada Tuhan yang salah? Jadi, ketika aku merasa marah karena Tuhan yang acuh tidak acuh, Tuhan mana yang aku maksud? Aku menyadari, ternyata selama ini aku telah memiliki konsep Tuhan tersendiri di kepala. Tuhan Maha Mendengarkan, Maha Baik, Maha Kaya, Maha Pemberi, Maha Pengasih Lagi Penyayang. Sehingga ketika aku berharap dan berdoa, ekspektasiku akan menyesuaikan konsep Tuhan yang tercetak di kepala. Kemudian aku menjadi marah karena Tuhan mengabulkan harapan dan doaku. Bukankah Tuhan Maha Mendengar? Kenapa harapan dan doaku tidak dikabulkan? Bukankah Tuhan Maha Kaya? Kenapa Tuhan tidak memakmurkan hidupku? Bukankah Tuhan Maha Penyayang? Kenapa ujian terus hadir tanpa henti?

Padahal, bukankah Allah memiliki 99 asmaul husna? Bukankah Allah juga Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui? Allah bukan hanya Mendengarkan, melainkan juga Mengetahui apa yang terbaik untuk aku. Allah Menyayangi aku dengan Bijaksana melalui ujian-ujian yang diberikan. Allah itu Adil, amatlah adil, jika Allah tidak adil, Allah tidak akan peduli dan menuntun aku untuk kembali kepada-Nya. Buku ini telah mendobrak pintu hati untuk segera membenahi kerusakan yang masih singgah di kepala. Bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah Ta’ala, bukan tuhan palsu yang aku buat sendiri di kepala. Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah yang tahu kebutuhanku, bukan tuhan palsu yang harus sesuai dengan keinginanku.

Allah yang sejati dan sesungguhnya, Dialah pemilik 99 asmaul husna, bukan hanya sebagian. Artinya, konsep Tuhan yang selama ini terbentuk di kepalaku masih kurang lengkap. Aku hanya meyakini sifat Allah yang aku ingin saja. Selama ini aku telah salah memusatkan Tuhan. Wajar aku kecewa karena berharap pada tuhan palsu di kepala, bukan kepada Allah. Wajar aku marah, itu karena aku telah mengabaikan sifat-sifat Allah yang lainnya. Dan, wajar aku marah karena aku telah bersikap menuntut Allah untuk sesuai dengan apa yang aku inginkan. Padahal, Allah lebih tahu, Allah lebih memahami apa yang aku butuhkan.

Di tengah perjalanan membaca buku ini, karena Allah, aku punya kisah ajaib yang aku ceritakan dalam tulisan blog Jejak-Jejak Allah dalam Hidup Aku.
 

KADANG-KADANG aku merasa egois dengan diri sendiri. Terlalu sering mengabaikan diri yang butuh hiburan. Sesekali tidak masalah, kok, menggunakan sebagian uang untuk sekadar menyenangkan diri. Lagian sudah berapa lama dan sering coba mengabaikan diri? Manusia memang perlu memahami kebutuhan. Akan tetapi, bukan berarti jadi pincang untuk jalan-jalan sendirian.

Kalau aku normal, keluhan tadi terasa masuk akal dan menampar diri. Masalahnya, aku tidak normal. Aku lupa, kapan terakhir kali akhirnya memanjakan dan menyenangkan diri sendiri. Makin aku pikirkan, makin ragu, jangan-jangan aku tak pernah menghabiskan waktu dengan diriku sendiri. Kebanyakan kalau main di luar pasti selalu bareng teman atau keluarga. Tidak pernah ada kesempatan untuk bercengkerama dengan diri sendiri di luar rumah.

Baiklah. Satu temuan besar yang baru saja kusadari hari ini adalah aku tidak pernah me time. Serius. Dan, aku butuh me time!!!

Setidaknya hampir delapan tahun hidup, 90%-nya dihabiskan di dalam rumah. Bukannya aku cosplay jadi Rapunzel. Selain memng betah di rumah, kondisi penglihatan aku cukup menghambat kakiku melangkah seorang diri ke luar rumah. Dan, aku punya masalah “tidak enakan” kalau harus bergantung dengan orang lain hanya untuk sekadar menemaniku me tune. Itu akan merepotkan mereka karena harus “menjagsku”. Lagi pula yang aku mau, kan, me time sendirian. Lumayan lelah sebetulnya karena terus bersandar dengan orang lain.

Aku mengidamkan untuk bisa eksplorasi kota Bandar Lampung sendirian. Menikmati beberapa tempat kuliner tanpa harus menunggu teman berminat. Pergi ke wisata alam tanpa harus menunggu waktu libur orang lain. Dan, ke tempat-tempat lainnya yang memungkinkan aku jangkar. Atau sekadar jalan-jalan ke mal dan melakukan produktivitas di sana sambil menikmati potato plates serta matcha latte.

Dan—lagi—aku juga tipe anak rumahan yang tidak masalah lebih banyak di rumah. Di rumah juga ada fasilitas yang bisa menopang produktivitas aku dengan baik. Soal makanan, mulai dari camilan sampai makanan berat pun sudah tersedia. Terkadang jajanan-jajanan juga suka diberikan oleh Tanteku. Bahkan akses wifi 24/7 amat membantu produktivitas di komunitas online dan media sosial. Bisa dibilang aku yatim-piatu yang cukup makmur. Namun, aku hanya ingin menhhirup udara segar dan menikmati vibes kehidupan dengan diri sendiri.

Padahal keinginannya sederhana, tetapi aku tidak bisa mendapatkannya. Seseorang bilang kepadaku, “Kok, kamu bisa bahagia, padahal di rumah aja?”

Satu pertanyaan yang membuat aku tersadar tentang tindakan yang diambil oleh tubuh dan pikiranku selama ini. Kalau dikatakan bahagia, aku tidak bisa memungkiri selama di rumah tidak ada kendala berarti. Semuanya berjalan baik-baik saja, kalaupun ada masalah, tidak herlarut lama. Kemudian yang membuat kebahagiaan itu sedikit terusik adalah keinginan yang muncul. Kdimginn untuk jalan-jalan semdiri dan sebetulnya itu wajar, kok, sudah terlalu lama di rumah. Menjadi tidak wajar dan mengusik ketenangan ketika terlalu memaksakan keinginan. Terlalu dipaksa, padahal aku tidak mampu, tidak bisa, realitasnya sedang tidak berpihak. Dan, aku rasa, butuh waktu yang lama sekali sampai aku bisa mencapai keinginan itu. Belum lagi harus melewati proses panjang, seperti misalnya check up dan pengobatan mata. Sementara untuk sampai ke proses itu saja, aku sendiri sangsi. Lantas, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah: menerima, jangan memaksakan.

Aku menerima bahwa realitasnya tidak bisa me tim dengan jalan-jalan sendirian. Dan, aku tidak akan memaksakan diri untuk keluar rumah sendiri karena itu akan membahayakan diri sendiri. Toh, sebetulnya kalau bicara soal me time memang kebutuhan, kan, tidak harus keluar rumah, di rumah juga bisa, kok. Tidak semua keinginan harus direalisasikan, kan? Selama kebutuhannya terpenuhi, itu sudah cukup membahagiakan. Bisa jadi sebetulnya hidup kita sudah jadi standar kebahagiaan tersendiri, tetapi yang membuat kebahagiaan itu musik adalah standar yang terlalu memaksa. Standar yang tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Bukan berarti kita tidak boleh mengembangkan kapasitas diri. Akan tetapi, bukankah segalanya butuh proses?

Aku yakin bukan tanpa alasan, kenapa Allah memberikan kendala pada mataku. Aku yakin tidak serta-merta Allah memberikan keterbatasan dalam diri aku. Sampai saat ini aku masih belum menemukan jawaban semua itu, tetapi aku tidak berusaha untuk mencarinya. Ada beberapa jawaban-jawaban yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Dan, manusia tidak memiliki kemampuan untuk menembus waktu, itu adalah ranah Allah. Sementara aku sebagai manusia hanya memiliki kemampuan untuk memanfaatkan waktu saat ini sebaik-baiknya.

Sekarang aku memilih untuk menghargai waktu dengan tidak memaksakan keinginan di luar batasku. Apa pun itu, tidak hanya soal masalah me time. Aku sedang menciptakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang kubuat dalam hidup. Bukan berarti tidak mau hidup tanpa masalah, melainkan bagaimana caranya agar tetap bahagia dan tenang meski dalam masalah. Sebab, kalau dipikir-pikir lagi, sejak 2022 sampai saat ini, aku punya masalah yang tidak pernah berhenti dan terus berkelanjutan entah sampai kapan. Kondisi mata yang membatasiku adalah masalah. Namun, karena aku tidak mau menganggapnya sebagai masalah dan makin membatasi hidup aku, aku merasa tidak punya masalah. Benar kata orang-orang bahwa ternyata bahagia itu pilihan. Bisa jadi kita sendiri yang memilih untuk tidak bahagia.

Kini, aku tetap pergi ke luar rumah dengan teman aku percaya. Apa lagi, mulai bulan ini, setiap pekannya aku punya agenda rutin, kajian offline bersama Kak Septi dan Mbak Riska. Lokasi kajiannya pun tidak begitu jauh dari rumah, di Masid Ad-Du’a atau bisa fleksibel di masjid atau tempat lain. Biasanya agenda aku main keluar rumah hanya sebulan sekali ke rumah teman atau ke tempat kuliner. Cuma kalau dipikir-pikir lagi, agak disayangkan ketika uang habis untuk bermain jika rutin satu pekan satu kali. Berbeda dengan kajian yang sifatnya menuntut ilmu, justru malah sekarang aku memiliki pos uang tersendiri untuk kajian.

Kalau dalam buku Tuhan Engkau Pembohong? Allah mengabulkan doa kita tidak melulu sesuai dengan keinginan kita. Justru aku merasa kajian offline ini menjadi jawaban atas keinginan aku. Allah lebih tahu kebutuhanku, bisa jadi yang aku butuhkan adalah pengalaman beraktivitas di luar rumah, tidak harus sendiri, tetapi dengan teman. Apa lagi pertemuan pertama aku dengan Mbak Riska juga baik banget. Mbak Riska mentraktir aku dan Kak Septi mi ayam Jogja. Bahkan, biasanya setelah kajian aku dan Kak Septi pergi ke suatu tempat. Pekan lalu kami makan es krim di Momoyo. Kalau kemarin, kami jajan somay dan pop ice di sekitar Stadion Sumpah Pemuda. Dan tanpa disadari Allah mengabulkan keinginanku untuk jajan di sekitar stadion melalui Kak Septi.

SEJAK awal tahun, aku sudah tidak percaya lagi dengan kebetulan. Hidup. Aku terlalu bermakna, hal sesederhana apa pun akan memiliki arti. Lagi pula terlalu dangkal tidak, sih, menganggap sesuatu yang kebetulan dengan “kebetulan belaka”? Awalnya aku juga begitu, menganggap kebetulan. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah itu keajaiban? Kapan lagi, kita menyaksikan dan mengalami fenomena ajaib yang terjadi di tengah kehidupan biasa-biasa saja ini?

Kemarin aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong karya Taufiq RH yang memberikan perspektif. Betapa Allah hadir dalam hal-hal kecil yang tidak kita sadari. Saking kecilnya, hanya dianggap layaknya angin yang berembus sepersekian detik. Padahal angin itu tidak akan berembus tanpa ada pengendali, kan? Ada sesuatu di baliknya. Begitu pun dengan momen-momen kecil yang kita pikir tidak terlalu penting sehingga terabaikan. Pasti ada pengendalinya. Pasti ada yang mengizinkan momen itu terjadi. Dikendalikan dan diizinkan oleh sesuatu yang amat besar dan kuasa, Dialah Allah.

Itulah jejak-jejak Allah, di baliknya ada sebuah pesan terselip. Bisa jadi pesan penghibur lara atas doa yang belum juga terkabul. Seakan-akan Allah ingin berkata bahwa percayalah kepada-Nya, pilihan Allah tidak pernah salah. Bisa jadi pesan itu adalah petunjuk. Seakan-akan Allah sedang menuntun kita untuk kembali ke jalan-Nya. Betapa baiknya Allah, hadir di setiap kesederhanaan. Memeluk di momen yang mudah dijangkau. Itu artinya Allah tidak pernah meninggalkan kita, barangkali kita yang perlahan-lahan meninggalkan-Nya. Mulai sekarang, aku ingin mengajak kamu untuk mengubah sudut pandang tentang kebetulan. Memang tidak ada yang kebetulan, kok, bukankah segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah? Pasti ada pesan. Pasti ada makna yang baik.

Satu tahun belakangan, banyak sekali kejadian-kejadian kecil yang membuat aku merasa Allah masih peduli dengan aku. Tadinya aku ragu, aku banyak sekali dosa, bukan manusia yang baik. Namun, makin ke sini, makin sadar dan terenyuh. Bahkan dari masa lalu, banyak sekali jejak-jejak Allah yang menolong aku. Aku tidak ingin momen-momen itu hanya terekam di kepala. Pada tulisan kali ini, aku ingin lebih bersyukur karena Allah tidak pernah meninggalkanku.

Makanan-Makanan di Kepala yang Tiba-Tiba Terhidang

Kadang-kadang aku tipe yang loyal dengan diri sendiri, lagi mau makan apa, tidak peduli sisa uang yang terpenting kebutuhan banyak mau terpenuhi. Namun, ada juga kalanya jadi pelit dengan diri sendiri, biasanya dikarenakan ada kebutuhan lain yang lebih urgen atau masih merasa sayang dengan sisa uang yang ada. Pada akhirnya kalau sedang dalam fase tipe kedua, aku lebih banyak mengubur keinginan-keinginan itu di dalam kepala. Nanti saja, deh, untuk saat ini masih belum perlu. Namun, pernah tidak, ketika keinginan itu hanya terkubur di dalam kepala tanpa diucapkan satu kata pun. Jangankan dikatakan, didoakan dalam hati pun tidak. Maksud aku, ini masalah sepele yang tidak perlu aku harus berdoa untuk meminta. Namun, ternyata sesuatu yang ada di kepala itu hadir secara nyata dalam jangka waktu dekat.

Misalnya Oreo, iya, Oreo. Kenapa tidak beli di warung saja? Toh, harusnya tidak sampai lima ribu. Bukan, bukan itu yang aku mau. Kamu tahu, kan, Oreo yang isi banyak dan kemasan panjang? Biasanya hanya tersedia di minimarket. Masalah lainnya aku tidak bisa kemana-mana sendirian. Akhirnya keinginan makan Oreo hanya menjadi isapan jempol. Aku berpikir bahwa itu hanya kemauan yang sifatnya sesaat, besok atau lusa pasti sudah tidak mau lagi, jadi lupakan saja. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Aku lupa, tetapi dalam waktu beberapa hari kemudian, Tanteku memberikan kemasan Oreo persis seperti yang aku mau. Itu satu.

Kedua. Malam hari, aku sedang chatting-an dengan Eka. Aku lupa kala itu bahas tentang apa, tetapi yang jelas pada chat itu aku berseletup bahwa tiba-tiba menginginkan bubur ayam. Aku sadar bahwa itu hanya keinginan sesaat dan tidak begitu penting. Jadi, lagi-lagi aku abaikan dan lupakan, kemudian lanjut tidur. Besok harinya, ketika matahari sudah terbit pertanda waktunya sarapan. Aku menuju meja makan dan sudah terhidang semangkuk bubur ayam. Siap untuk aku makan dengan hangat di pagi hari. Apa ini maksudnya? Tidak mungkin, kan, Tanteku menyadap WhatsApp aku?!

Ketiga. Dulu, waktu Ibu masih ada, aku beberapa kali pernah memakan ayam serundeng. Ini menjadi salah satu jenis makanan yang aku suka karena memang bumbunya sangat kuat. Lagi-lagi malam hari, berkhayal kira-kira di mana kok bisa mendapatkan atau memesan ayam serundeng? Balik lagi karena aku jarang keluar rumah dan tidak pernah eksplorasi kuliner, aku tidak tahu. Dan, aku juga tidak mau cari tahu, toh, aku juga tidak terlalu menginginkannya. Hanya terbayang di kepala dan menahan diri. Namun, esok harinya ketika aku buka tudung saji. Ta-da, ayam serundeng terhidang dengan nikmat. Ingat, ya, aku sama sekali tidak mengucapkannya. Dan, aku yakin, Tanteku bukan seorang mind reader.

Ada lagi! Jangan khawatir~

Keempat. Bulan lalu ketika aku sedang ingin makan chicken katsu. Kali ini aku tidak memendamnya atau mengubur keinginan di kepala. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya aku memilih untuk memesan online di outlet Gokatsu. Sore itu aku cukup puas dan senang menyantap chicken katsu. Kemudian bungkus kotaknya langsung aku buang ke tempat sampah bersamaan dengan struknya. Besok pagi ketika akan sarapan, betul dan tentu saja, terhidang satu piring chicken katsu. Fiks, Allah betul-betul sebaik itu.

Aku yakin kejadian itu tidak hanya sekali dua kali.

Jasmine Tea

Jadi, belakangan aku mulai menyiapkan pengharum ruangan untuk di kamar. Kemudian aku membeli pengharum ruangan Stella berbentuk spray. Tinggal semprot jadi harum semerbak. Dikarenakan aku cukup Gen Z, waktu itu aku membeli aroma kopi latte. Secara wangi, sih, harum, tetapi aromanya tidak cocok untuk tipe kamarku. Sebetulnya sebelum membeli aku cukup tertarik dengan satu wewangian bernama Jasmine Tea. Hanya saja aku cukup ragu untuk membelinya karena takut baunya seperti menyan. Konyol, sih, tetapi itu memang alasan yang terlintas di kepala. Sambil menghabiskan pengharum ruangan coffe latte, nantinya aku berniat untuk mencoba wangi Jasmine Tea.

Tidak perlu menunggu waktu lama. Di hari Minggu yang cukup panas. Biasanya aku beraktivitas di lantai bawah. Siang harinya baru ke kamar yang terletak di lantai atas. Baru saja masuk kamar, wangi teh langsung menyergap indra penciuman. Udara yang begitu hangat dan nyaman, sampai-sampai aku enggan untuk keluar kamar lagi. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke segala arah di kamarku. Namun, masalahnya, mataku tidak mampu menangkap detail objek yang ada di sekitar. Jadi, aku hanya mengira-ngira pengharum ruangan ini pasti disemprot oleh Tanteku.

Sehari berlalu, ketika tanteku naik ke kamarku sambil memberikan camilan. Di saat itulah aku bertanya, “Mama ini wangi teh dari mana? Pengharum ruangan, ya?”

Tanteku menjawab, “Oh, iya. Ini wangi Jasmine Tea. Mama gantung di jendela kamar Vina.”

Ini terlalu spesifik tidak, sih? Kok, bisa, ya?

Progress, Bukan Perfection

Hari Sabtu malam, aku melanjutkan bacaan buku Tuhan Engkau Pembohong yang belum rampung. Aku membaca sampai di hal yang membahas tentang jejak-jejak kecil Allah dalam hidup manusia. Seperti yang sudah aku jelaskan di awal, bahwa Allah hadir di setiap momen kecil yang tidak disadari. Momen yang sering dianggap sebagai suatu kebetulan. Padahal tidak ada namanya kebetulan. Apakah dunia ini hadir karena kebetulan? Tentu tidak. Begitu pun dengan momen kecil dalam hidup kita. Ada alasannya.

Kemudian, aku menyelesaikan bacaan sampai di halaman 184. Setelah rampung 10 halaman yang dibaca hari itu, aku laporan ke grup Next Page Challenge (NPC). Challenge next level membaca dari Komunitas 30 Hari Membaca. Masih tersisa sekitar 60 halaman lagi untuk menyelesaikan satu buku ini. Kemudian aku melanjutkan produktivitas dengan menyusun outline untuk konten carousel Instagram: Vina Growth untuk dipublikasikan besoknya di hari Minggu.

Dan, di akhir script outline pada sub self reminder, aku menuliskan: Focus on progress, not perfection. Sebagai penutup Carousel dan motivasi diri sendiri. Minggu siang, setelah aku meng-input script tersebut ke dalam desain Canva, aku melanjutkan bacaan buku tadi malam. Mulai dari halaman 186 dan akan berakhir di 195. Kemudian aku terpaku pada satu kalimat judul di halaman 187. Coba tebak. Apa yang aku baca? Di judul tersebut tertulis: Progress, bukan Perfection. Iya. Satu kalimat yang sama persis dengan apa yang aku tulis tadi malam. Persis. Padahal, aku semalam tidak melanjutkan bacaan karena memang sengaja dilanjutkan besok. Namun, apa yang dibahas pada Sabtu malam tentang jejak-jejak kecil Allah, langsung terjadi esok harinya.

Aku yakin ini bukanlah momen kosong. Ini adalah pesan dari Allah untuk aku semangat produktif dan ... kembali kepada-Nya. Momen yang sangat tepat karena aku sudah memulai produktivitas personal. Aku sedang membuka blokade mental yang selama ini terkunci rapat. Allah sedang menghilangkan keraguan besar dalam hidup aku. Dua keraguan sekaligus: keraguan bahwa aku tidak mungkin berhasil dan keraguan bahwa apakah Allah masih peduli? Namun, kejadian hari itu, sudah sangat membuktikan bahwa Allah akan selalu peduli dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Alasan dan Kiat Mengatasi Reading Slump!
  • Reviu Novel Represi: Menerima Kepahitan
  • Alasan Nge-Blog Bikin Merdeka Versi Gue!
  • Bersyukur di Tengah-Tengah Tekanan
  • Alasan Kita Merasa Kecewa

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 5
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template