RAMADAN kali ini rasanya masih sama seperti yang sudah-sudah: ketakutan. Dari rekam jejak yang sudah berlalu, biasanya Ramadan aku tidak pernah berakhir menyenangkan. Jarang sekali ada hari kemenangan, adanya hari kekalahan. Kalah karena ekspektasi yang terlalu muluk, sampai-sampai tidak sadar realitas begitu lihai mengutuk. Rangkaian kejadian tidak mengenakkan dari tahun ke tahun, mau tidak mau meninggalkan kekhawatiran. Alih-alih disambut, aku lebih banyak menghadapi Ramadan penuh rasa takut. Tentang bagaimana kalau tidak ada hari kemenangan itu lagi?
Aku jadi kurang menikmati Ramadan yang hanya singgah tiga puluh hari. Aku ingin berlama-lama agar tidak terlalu cepat dekat ujung Ramadan. Akan tetapi, aku juga ingin cepat-cepat menuju hari ujungnya untuk menyudahi rasa takut yang menguasai. Serbasalah. Memangnya salahku apa, ya? Ada kalanya, aku jadi memaklumi ketakutan tersebut imbas dosa yang menggunung. Entahlah—lagi pula, aku sedang belajar untuk selalu husnuzan dengan Allah.
Ketika orang-orang merayakan hari kemenangan dengan kesenangan tanpa kendala berarti. Seringnya aku harus berjibaku dengan masalah terlebih dahulu untuk akhirnya benar-benar menang dan senang. Namun, satu hal aku sadari bahwa hidup tidak mengenal kata jeda dan kembali, dia bersama waktu berjalan maju. Ramadan yang sudah-sudah menjadi sejarah, Ramadan yang akan datang menjadi misteri—apakah akan sama menakutkannya? Aku sudah belajar untuk tidak lagi berekspektasi tinggi, hidupku berbeda dengan hidup orang lain. Dan, aku juga sedang belajar untuk percaya kepada Allah, salah satunya dengan meyakini: suatu hari Ramadan aku akan terasa membahagiakan dan mengumpulkan maknanya di hari kemenangan.
Iya. Sebetulnya bahagia dan makna itu harusnya aku yang mencari sendiri. Jadi, Ramadan kali ini aku mencoba menelusuri makna terlebih dahulu, meski bahagia terlalu tinggi untuk sebuah keinginan. Dan, tujuan aku menulis konten ini sebenarnya adalah untuk membantu aku menemukan makna dan kebaikan Allah di Ramadhanku kali ini.
Latihan Kembali Lancar Membaca Al-Qur’an
Per Februari lalu, aku punya komitmen untuk kembali lancar membaca Al-Qur’an. Intinya ada satu momen di mana aku membatin, pengin, deh, lancar baca Qur’an tanpa terbata-bata. Padahal, waktu kecil sampai remaja aku cukup lancar membaca Al-Qur’an, kemudian setop dari usia belasan sampai saat ini. Alhasil kelancaran itu hilang dan jadi terbata-bata ketika akan memulai kembali. Alhamdulillah-nya ada seorang teman yang bersedia menemani aku konsisten baca Qur’an, namanya Kak Ida—salah satu teman komunitas di NPC PABOBA.
Ini adalah salah satu kebaikan yang Allah kasih ke aku. Maksud aku, ketika aku ingin kembali latihan lancar mengaji, di saat yang bersamaan Allah mendatangkan seorang teman untuk aku rutin mengirim laporan setiap harinya—meski sering bolong. Bahkan Allah langsung kasih teman yang memang kompeten di bidangnya. Kak Ida memang seorang guru pesantren di Bandung. Jadi, aku bisa sekalian belajar tahsin setiap pekannya. Baik, ya, Allah sama pendosa macam aku begini? Namun, untuk sementara aku ingin proses lancar mengaji terlebih dahulu sebelum masuk ke sesi tahsin. Kalau sudah lancar dan konsisten, baru kembali belajar tahsin. Semoga kesabaran Kak Ida dibalas dengan kebaikan dari Allah.
Salah satu tantangan aku untuk kembali lancar mengaji selain karena sudah lama tidak baca Qur’an, adalah kondisi mata yang cukup kesulitan membaca. Anyway, mata aku mengalami low vision: mata kanan central loss, mata kiri heavy/blur. Kondisi ini membuat aku sangat kesulitan untuk membaca teks, apa lagi aku sudah tidak bisa baca buku fisik. Artinya aku sudah tidak bisa mengaji melalui mushaf Al-Quran—kecuali kalau aku belajar menggunakan Al-Qur’an braille, tetapi masalahnya aku tidak buta. Kondisi ini juga yang menyadarkan aku selagi masih bisa dikasih lihat sama Allah, aku harus memanfaatkan penglihatan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan membaca Al-Qur’an karena aku tidak tahu, bisa saja suatu hari Allah mengambil penglihatan aku sepenuhnya, kan?
Awalnya, ketika memulai dengan surah Al-Baqarah aku cukup sedih karena sampai terbata-bata, satu halaman saja bacanya menghabiskan delapan menit. Akan tetapi, aku juga harus belajar sabar. Setiap harinya satu halaman. Sampai masuk Ramadan, aku punya target khatam satu kali, one day one juz. Ternyata Ramadan kali ini tantangannya jauh lebih terasa, untuk bisa konsisten satu juz dalam satu hari cukup ngos-ngosan padahal tahun-tahun lalu aku tidak mengalami kendala berarti. Tentunya aku belajar untuk tidak menyerah, momen ini akan jadi ajang aktualisasi diri.
Ada kalanya, aku kesulitan tadarus karena teks ayatnya berbayang dan berembun. Ditambah aku baca hanya bisa menggunakan Qur’an Digital di ponsel. Kondisi ini membuat aku hanya bertahan di dua halaman satu hari, bahkan hanya satu halaman. Sebab, kondisinya berlangsung selama satu hari penuh. Aku mencoba menelusuri untuk mencari solusi karena aku tidak bisa membiarkan kejadian ini berlangsung lebih sering, aku harus khatam! Oke. Aku coba untuk tidur lebih awal di pukul 23 WIB, bangun sahur di pukul 03.20. Pukul 5.30 aku harus tidur dan bangun di pukul 9/10.00. And it works! Really works! Ternyata penyebab mata aku mudah berbayang ketika baca teks adalah karena durasi tidur tidak efektif. Keesokan hari dan seterusnya aku menjaga durasi tidur at least minimal 6 jam, supaya bisa baca Qur’an. Ya, meskipun ada kalanya sudah cukup tidur, tetapi masih berbayang, nah, kalau ini pasrah saja, deh.
Dan, alhamdulillah. Allah kasih aku kesempatan untuk khatam di hari ke-30.
Aku mau cerita satu hal yang menurut aku ini adalah kebaikan Allah. Ada beberapa kali di Ramadan ini, aku cukup kesulitan untuk membaca teks buku digital—meski sudah tidur cukup, tetapi subhanallah, di saat yang sama, Allah justru mudahkan aku untuk baca Qur’an, tanpa kendala, tanpa embun, clear. Dan, oh, satu lagi. FYI kelainan di mata aku mengakibatkan aku ketika membaca lantang (read aloud) suatu teks bacaan seperti mengeja dan terbata-bata. Sebab, aku harus mencerna dan mengenali kata selanjutnya. Akan tetapi, Allah lagi-lagi Allah kasih kemudahan. Aku tidak terlalu terbata-bata dan lumayan lancar. Allah benar-benar Maha Baik.
Ramadan Paling Produktif
Pada awalnya aku ingin fokus ibadah saja, tidak terlalu banyak aktivitas di ranah lain. Walaupun sejak sebelum Ramadan, aku tahu hanya disibukkan mengurus event Journaling Ramadan. Aku pikir itu tidak terlalu mengganggu fokus ibadahku karena hanya memantau dan merekap. Memang betul, tetapi di suatu hari—Ahad, sering jadi hari paling sibuk.
Bayangkan. Bangun sahur, salat subuh, tadarusan, kajian sampai matahari terbit, tidur, meeting sampai siang, siang fokus rekap Journaling Ramadan, lanjut tadarusan, baca buku untuk laporan NPC, meeting divisi. Hari itu memang cukup kompleks. Akan tetapi, setidaknya waktu aku habis karena hal produktif.
Memang, sih, segala hal itu memang perlu diperhitungkan. Namun, kadang ada saja situasi yang tidak bisa diprediksi. Dari situ aku menyadari satu hal lagi yang menarik ulang pengakuan sebelumnya. Aku bilang: produktivitas adalah tempat aku mengisi tangki energi hingga penuh. Akan tetapi, ketika tangki itu terlalu penuh sampai isinya tumpah-tumpah pun pada akhirnya terbuang juga. Ternyata produktivitas yang berlebihan tidak baik karena berujung cukup lelah. So, aku perlu membagi antara aku dan produktivitas serta aku dan diri aku sendiri. Ternyata itu adalah dua hal yang berbeda. Bersama produktivitas aku merasa jadi manusia yang bermanfaat. Bersama diri sendiri aku terus belajar untuk mengevaluasi dan mengistirahatkan diri sendiri.
Memang, ya, Allah selalu punya cara untuk mengingatkan hamba-Nya satu ini yang tidak sadar kalau sudah overload. It’s a mindfull thing of Ramadan.
BENAR ADANYA bahwa Allah selalu memberikan hal positif di samping sesuatu yang tidak disenangi. Hanya saja, tergantung dari perspektif dan kemauan kita untuk membekukan hal baik di tengah-tengah ketakutan. Mungkin yang membuat hidup terasa biasa saja bahkan cenderung kelam, bisa jadi karena cara pandang kita yang masih terlalu sempit. Memang tidak mudah untuk menemukan hal baik, sementara keadaan sedang tidak.baik-baik saja. Akan tetapi, mencari selalu lebih baik daripada diam saja, kan?












