CARA dunia memandangku, tidak beda jauh dengan caraku melihat diri sendiri. Sering kali, ketika mematut diri di layar ponsel—entah saat kamera menyala atau hasil potret. Kalau dilihat-lihat sebetulnya tidak buruk juga, kok, lumayanlah. Hanya saja, di balik tampang yang lumayan itu, ada sisi gelap yang masih terlalu mendominasi. Sisi yang berasal dari masa lalu dengan segala sisanya. Sisanya terlalu banyak, atau bahkan sisanya tidak pernah pergi. Sisa-sisa yang tetap singgah bertahun-tahun, sampai membentuk luka mendalam.
Belakangan, aku sedang mengalami krisis harga diri, cukup parah. Bukan tentang gengsi atau prestise, ini soal pengakuan, validasi, penganggapan, dan penghargaan. Sesuatu yang dahulu sulit sekali didapatkan—bahkan tidak pernah aku rasakan. Kalau di kelas, aku terbiasa duduk sendirian. Kalau di rumnah, aku terbiasa bermain dan sibuk sendiri. Kalau di tengah-tengah circle pertemanan, aku lebih sering mendengar. Padahal, aku ingin sekali ada seorang teman yang menghampiriku di kelas. Aku ingin sekali suaraku didengar di rumah. Dan, Aku ingin sekali ceritaku didengarkan. Namun, kenapa aku tidak pernah mendapatkannya?
Banyak sekali asumsi yang berputar di kepala.
Pertama, faktor fisik yang tidak menarik. Tidak bisa dinafikan, penampilan menjadi visualisasi paling awal yang terlihat dan ternilai. Sementara aku tidak punya daya tarik yang memikat visual orang-orang. Aku jauh dari frasa biasa-biasa saja. Pakaianku sering lusuh, bahkan beberapa teman berkomentar soal noda pakaianku. Terkadang ada juga yang mengatakan bahwa hijabku tidak rapi. Mendengar itu, aku merasa malu sekali. Aku makin menarik diri dan perlahan-lahan pikiran berbisik, “Sepertinya sendirian lebih baik.”
Kedua, aku tidak tahu caranya bergaul dan bersosialisasi. Awalnya aku pikir berteman itu mudah karena ketika masa kecil semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, ketika memasuki remaja, bertemu banyak orang-orang baru. Kenapa mencari teman jadi terasa sulit? Aku tidak bisa berkomunikasi yang asyik dan seru. Bisa dikatakan, pengetahuan dan referensi aku tentang kehidupan amat minim. Aku meyakini bahwa setiap pembicaraan di antara manusia dapat terjadi ketika si manusianya sama-sama punya referensi dan frekuensi yang sama. Kadang-kadang aku masih merasa seperti anak kecil yang terjebak di tubuh anak remaja. Oleh karena itu, aku lebih banyak diam daripada berbicara. Sebab aku tahu, ketika aku berbicara, yang terdengar hanyalah sesuatu yang tidak penting. Jujur saja, ada masanya aku jijik mendengar suara sendiri.
Dan, aku juga tidak punya kehidupan menarik yang layak diceritakan. Biasanya obrolan pertemanan dihiasi dengan cerita-cerita kehidupan mereka yang seru untuk didengar dan diceritakan. Apa lagi, mereka tidak ragu-ragu dan antusias ketika menyampaikan cerita, sehingga yang mendengar pun ikut masuk ke dalam cerita. Kendalaku adalah. Selain tidak punya cerita hidup yang menarik, aku lebih banyak ragu dan tidak begitu percaya diri untuk menyampaikan cerita. Bukan hanya cerita yang tidak menarik, melainkan ada rasa takut jika ceritaku tidak seru, takut ketika ceritaku tidak didengar, takut ceritaku hanya dianggap angin lalu yang tidak penting.
Ketiga, aku bodoh. Tidak bisa dimungkiri dalam suatu circle pertemanan pasti ada sesuatu yang menjadi timbal balik. Realitasnya tanpa disadari suatu hubungan hadir karena adanya transaksional. Sesederhana kita merasa nyaman dengan seseorang, rasa nyaman itu sebetulnya timbal balik dari reaksi orang tersebut terhadap kita. Artinya ketika kita punya kelebihan, orang-orang tidak akan menjauh. Memanfaatkan di sini bukan berarti buruk, ya, but in a good way. Dan, aku sama sekali tidak pintar. Baik secara akademis maupun nonakademik. Lagian siapa sih yang mau mendekat atau berteman dengan orang bodoh, tidak tahu cara bergaul dan berbicara, serta tidak memiliki daya tarik?
Seakan-akan semua bentuk keburukan dan kejelekan ada di dalam diriku. Dari situ aku merasa wajar ketika tidak ada orang yang mengakui aku ada. Jarang sekali ada orang yang menganggapku ada. Lebih banyak diam dan mendengarkan di suatu circle pertemanan. Sampai ada di titik, aku merasa rendah bukan hanya karena sikap dan penilaian orang lain, melainkan aku ikut serta merendahkan diri sendiri. Sehingga aku tidak punya siapa pun lagi yang benar-benar berdiri di pihakku.
Pola pikir dan perilaku itu tidak terbentuk begitu saja, tetapi terbentuk dari pengalaman dan peristiwa selama bertahun-tahun. Bukan hanya soal waktu, melainkan juga hampir semua lingkungan—tanpa disadari—berperan dalam menentukan siapa aku hari ini. Tidak jarang, aku sering menyalahkan orang-orang di sekitar. Tentang mereka yang tidak pernah menganggap dan mendengarkan aku, sehingga aku merasa tidak dihargai. Aku berasumsi hari-hariku yang kosong dan menyedihkan ini disebabkan oleh mereka yang tidak pernah datang menemaniku. Alasanku sulit bergaul dan tidak bisa berkomunikasi adalah karena aku tidak pernah diberikan kesempatan untuk didengar.
Kemudian aku di hari ini kembali mencoba untuk mempertanyakan, atau lebih tepatnya memastikan betul-betul.
Apakah mereka adalah pelakunya?
Bagaimana kalau ternyata aku yang salah? Aku pelakunya?
Bagaimana kalau ternyata mereka tidak pernah merendahkan aku?
Dan, bagaimana kalau ternyata selama ini dalang utamanya adalah pikiranku yang terlalu negatif?
Banyak pertanyaan berkecamuk ketika berkelana ke masa lalu dan menelisik apa yang menjadi penyebab aku merasa tidak dihargai. Bukannya aku mau mendiagnosis, aku hanya ingin menapak tilas lagi ke masa lalu. Memastikan apakah orang-orang melakukan kesalahan sesuai asumsiku Belakangan aku jadi berpikir dan bertanya-tanya. Kalau memang aku merasa tidak menarik, kenapa aku tidak mencoba memperbaiki penampilan? Kalau memang tidak ada teman yang mengajakku berbicara, kenapa aku tidak mengajak bicara lebih dulu? Ketika aku ingin didengarkan, kenapa aku tidak mencoba untuk bercerita? Ketika aku merasa tidak ada yang menemani, kenapa aku tidak memulai untuk berteman?
Sederhana, tetapi butuh waktu sepuluh tahun lebih untuk menyadari pertanyaan-pertanyaan itu. Bahwa dunia ini tidak hanya berputar di aku saja. Kalau mereka tidak nyaman denganku, pasti ada yang salah dengan diriku. Hak mereka juga untuk mendengarkan atau menjadikanku teman. Kenapa aku harus marah dan sampai harus menganggap bahwa mereka tidak menghargaiku? Lagian mereka juga tidak bertanggung jawab atas hiduku, aku yang harusnya bertanggung jawab atas diri aku sendiri. Kenapa aku harus memaksa orang lain untuk menganggapku ada? Kenapa aku harus mengais validasi orang lain untuk mengakuiku? Kenapa aku harus menuntut selalu didengarkan untuk dianggap keberadaanku? Kenapa harus mereka? Kenapa bukan aku?.
Lantas, Apa yang membuat aku ingin sekali dihargai? Sederhana. Aku ingin diakui. Atau bahkan, sisi jahatnya, Aku ingin menjadi pusat perhatian.
Lagi pula bagaimana orang lain bisa menghargai aku, kalau aku saja tidak menghargai diriku sendiri? Bagaimana orang lain bisa menganggapku ada, kalau aku saja masih menarik diri? Bagaimana orang lain mau memvalidasi aku, sementara aku tidak pernah memvalidasi diri sendiri? Aku sadar kesalahan terbesarku adalah ketika aku berasumsi penilaian dan validasi diri sendiri adalah sesuatu yang tidak penting. Malah menganggap penilaian dan validasi dari orang lain adalah krusial dan bahkan dijadikan acuan. Kalau begitu artinya aku adalah orang yang haus perhatian. Dan, aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu.
Aku ingin jadi seseorang yang berdiri di atas kaki sendiri. Bukan egois dan bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Aku hanya perlu berjalan di atas kaki sendiri, bukan berjalan di atas kaki orang lain. Jadi ketika sendirian, aku punya kakiku. Ketika ada orang lain, aku hanya berjalan di samping kaki mereka. Aku harus mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Tidak boleh lagi menyalahkan orang lain yang tidak terlibat. Aku tidak bisa menyalahkan keadaan atau bahkan masa laluku. Siapa aku hari ini tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi aku hari ini ditentukan oleh diriku sendiri. Aku telah salah menilai orang lain. Dan, aku salah besar karena telah meninggalkan diri sendiri. Sekarang aku mencoba hadir sepenuhnya untuk diriku sendiri. Aku punya kaki untuk berjalan sendiri. Aku punya telinga untuk mendengarkan hatiku. Aku punya tangan untuk memeluk diriku sendiri. Aku punya pikiran dan hati yang perlu dijaga agar selalu berada di ranah positif. Aku ingin tumbuh menjadi diri yang apa adanya dan versi terbaik.
Bisa jadi selama ini alasan aku ingin sekali dihargai adalah karena aku tidak pernah menghargai diri sendiri. Ini adalah waktu yang tepat untuk aku mulai menghargai diri sendiri.







