AKU tumbuh menjadi manusia yang banyak sekali kekurangannya. Rasa-rasanya hampir semua yang melekat dalam diriku adalah kekurangan. Sekitar 90% mungkin? At least, masih ada beberapa kelebihan yang harus kuakui dan yakini karena Tuhan amat adil. Iya, setelah sekian lama mengiba pada kekurangan, aku baru menyadari betapa Allah Maha Baik. Betul bahwa selalu ada kemudahan di samping kesulitan.
Sebetulnya aku bukan tipe orang yang banyak mengeluh terhadap kekurangan—bukan berarti tidak pernah. Lebih ke mau bagaimana lagi? Aku tidak berani banyak protes terhadap apa-apa yang sudah Allah kasih. Dan, aku meyakini sesuatu yang datang dari-Nya adalah kebaikan. Kalau kita merasa kesulitan dengan pemberian Allah, itu ujian, itu wajar, maka aku tidak banyak mengeluh.
Hanya saja, kadang namanya manusia, ya? Ada kalanya mempertanyakan hal-hal yang jawabannya sederhana: bersyukur. Kenapa, ya, pengllhatan aku tidak sejernih orang lain? Kenapa, ya, pendengaran aku tidak sejelas orang lain? Kenapa, ya, otak aku tidak se-encer orang lain? Kenapa, ya, aku tidak se-berguna orang lain? Kenapa, ya, aku tidak se-wow orang lain? Iya, sih, semua pertanyaan itu mengandung self comparison. Seakan-akan menjadikan diri seperti sampah. Ujung-ujungnya memicu penurunan kepercayaan diri. Sementara susah payah aku memang untuk self confidence.
Banyaknya kekurangan yang aku punya, pada akhirnya berakar pada satu hal: manusia tidak berguna. Jujur, itu sakit sekali rasanya. Bayangkan, bisa-bisanya manusia hidup tanpa kebermanfaatan. Oke, enough. Sudah terlalu jauh, I love myself much more. Me is me. Everton is everyone. Sampai mana tadi? O, iya, soal kekurangan, ya?
Kekurangan akan selalu menjadi kekurangan ketika dipandang dari sisi negatif. Aku baru menyadari, ketika kekurangan dipandang dari sisi positif, kekurangan adalah bentuk rasa syukur yang begitu nikmat. Dan, hal itu sering kali aku alami dalam kehidupan ini. Intinya aku menggunakan kekuranganku untuk berpura-pura—in a good way. Meskipun pada akhirnya kepura-puraan itu, menyerang diri sendiri. Akan tetapi, setidaknya orang lain tidak menyadarinya. Pernah dengar istilah bersikap tidak tahu, padahal mengetahui. Bersikap tidak peduli, tetapi cukup peduli. Kurang lebih seperti itu.
Memang. Pendengaran aku mungkin tidak sejelas orang lain ketika mendengarkan. Banyak hal di dunia ini yang membuat aku kesulitan untuk mendengarkan dengan baik. Setidaknya aku butuh beberapa kali pengulangan atau suara lebih keras untuk bisa mendengar. Akan tetapi, di sisi lain, ada masanya aku tidak perlu susah payah mendengarkan omongan orang lain yang tidak enak. Namun, pernah suatu hari, entah bagaimana, tetapi aku bisa mendengarkan dalam sekali tangkap.
Sejujurnya aku tidak bisa menjelaskan kalimatnya di sini. Sebab, kalimat itu cukup personal dan membuat aku sakit hati. Namun, karena orang di sekitarku sudah mengetahui kondisi telinga aku, jadi dia berpikir bahwa aku tidak mendengarkan ucapan dia. Padahal aku mendengarnya. Padahal aku merasakannya. Padahal aku mengetahuinya dan masih teringat sampai saat ini. Aku bersikap pura-pura tidak mendengar karena tidak mau ambil pusing. Meskipun pada akhirnya membuat aku overthinking cukup lama.
Orang-orang di sekitar aku juga mengenal aku yang kekanak-kanakan. Wajar karena dari dulu aku selalu dianggap tidak bisa apa-apa seperti anak kecil. Kalau aku boleh memberikan pembelaan. Aku bukannya tidak bisa apa-apa apa lagi tidak berguna. Aku hanya tidak diberi kesempatan untuk menjadi bisa dan berguna. I don't have a chance. Mereka lebih dulu menghardik dan menghakimi daripada memberikan kepercayaan.
Itu memang menyakitkan dan sejujurnya masih terbawa sampai saat ini. Namun, ada beberapa masalah di hidup ini yang kemudian tidak terlalu dibebankan kepadaku karena mereka menganggap aku tidak akan mampu mengembannya. Maksudnya adalah anak kecil mana yang mampu mengemban masalah hidup? Terkadang aku menjadi manusia yang pura-pura tidak bisa apa-apa dan tidak berguna agar tidak terlalu jauh masuk ke masalah mereka. Ada kalanya memang aku hanya ingin menjadi anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.
Dari kecil aku juga bukan anak yang pintar. Ketiga kakak perempuanku adalah orang-orang dengan nilai terbaik di sekolah, berbeda denganku. Sehingga aku tumbuh menjadi orang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Sudah tidak bisa apa-apa, ditambah tidak tahu apa-apa, haha. Sebetulnya kebodohan itu masih melekat dalam diriku sampai saat ini. Maksudnya adalah aku masih sering merasa bodoh dan tidak pintar sehingga membuat aku sangat kesulitan untuk belajar dan mengembangkan diri. Namun, tidak apa-apa, setidaknya aku sudah menyadari bahwa aku tidak sebodoh itu, kok. Aku hanya butuh sedikit validasi dan usaha lebih keras.
Ada kalanya juga aku berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa. Pura-pura yang satu ini untuk membentengi diri dari permasalahan yang begitu rumit dalam hidup. Ketika aku tidak mampu menjelaskan sesuatu, maka aku mengeluarkan tameng kebodohan paling hakiki. Again and again, orang-orang di sekitarku kebanyakan menganggap aku bodoh dan tidak bisa apa-apa. Sehingga mereka memaklumi, meskipun dalam diri mereka terdapat kekesalan yang luar biasa.
Kalau dipikir-pikir. Kepura-puraan yang aku lakukan memang tidak baik. Tidak baik untuk diri aku dan untuk orang lain. Ke pura-puraan itu menghambat aku untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Hanya saja, ada beberapa hal yang justru kepura-puraan adalah puncak dari penyelesaian masalah. Bersikap tidak tahu kadang-kadang jauh lebih baik daripada mengetahui, tetapi kemudian aku tidak bisa menghadapinya.















