Neng Vina

  • Home
  • About Me
  • Sitemap
  • Contact
“OKE, aku mau mencoba jadi leader.” Ini adalah keputusan yang dengan sadar kuambil. Banyak sekali pertimbanganmya, terutama tentang apakah aku mampu dan layak? Aku paham menjadi seorang pemimpin bukanlah sebuah privilese semata, melainkan tugas yang suatu hari nanti akan dipertanggungjawabkan. Dan, aku amat tahu diri betapa jauh dari kata pantas untuk memimpin. Satu hal yang membuat aku pada akhirnya berani mencoba adalah kesempatan yang tepat untuk belajar.

Setidaknya aku berada di komunitas yang tidak akan menjatuhkanku ketika berbuat salah. Aku tidak akan merasa takut apa lagi insecure karena orang-orang di dalamnya, tahu caranya menghargai orang yang sedang mencoba. Dan, aku juga dengan sangat terbuka menerima kritik dan masukan sebagai bentuk pengembangan diri. Ketika keputusan itu aku ambil, terus muncul pertanyaan di benak, “Apakah aku bisa?”. Ada kalanya aku akan sekilas menyesalinya, tetapi aku tidak akan menarik keputusan yang terjadi karena inisiatif sendiri. Aku tahu mereka sangat percaya padaku, tetapi aku jadi satu-satunya orang yang meragu terhadap diri sendiri.

Bukan tanpa alasan aku berani mengajukan diri menjadi leader ketika seorang co-founder memberikan kode bahwa periode baru nanti membutuhkan leader. Seakan-akan mereka sedang melempar bola dan aku yang menangkapnya. Aku berani menangkap bola karena sekarang aku sudah menjadi versi yang lebih baik daripada sebelumnya. Lebih inisiatif, bertanggung jawab, dan yang paling penting adalah aku siap menghadapi risiko dan konsekuensi. Sebab, setiap keputusan akan selalu ada risiko dan konsekuensinya.

Sementara untuk menjadi seorang pemimpin kita harus bisa problem solving. Salah satu hal yang masih belum bisa aku aplikasikan adalah menyelesaikan masalah. Dari dulu aku terbiasa disingkirkan dalam penyelesaian masalah karena dianggap tidak bisa dan tidak mengerti apa-apa. Pada akhirnya aku tumbuh menjadi seseorang yang mengikuti alur dan keputusan yang sudah ada. Bahkan aku terkesan menghindari masalah karena mengetahui kebodohanku dalam menyelesaikan masalah. Sebab, dengan melakukan identifikasi dan penyelesaian masalah, kita baru bisa memutuskan.

Tentu aku tidak diam saja. Aku cukup serius terhadap keputusanku dengan Membaca buku tentang sikap seorang pemimpin, terutama perihal decision making. Satu hal yang pasti, aku menanamkan pola pikir bahwa pemimpin itu bukanlah kekuasaan yang menjadikan kita manusia seenaknya. tidak kubiarkan ego itu mendominasi. Aku tidak akan memberikan makan egoku. Kepentingan tim dan anggota jauh lebih prioritas karena seorang pemimpin mendedikasikan dirinya untuk orang lain. Sehingga, meski menjadi leader, aku tetap berkontribusi sebagai tim dan anggota supaya tidak ada jarak. Bahkan, tidak hanya satu jobdesc, lebih dari dua jobdesc aku ambil.

Satu sampai dua bulan awal semuanya tergolong baik-baik saja, mengingat masih adaptasi. Memang tidak sempurna, toh, aku tidak mengharapkan kesempurnaan. Aku sadar betul, betapa untuk menjadi seorang leader sejati, akan butuh proses lama. Tidak bisa setahun dua tahun, bahkan setiap langkah, seorang pemimpin tidak akan pernah berhenti belajar. Mengingat ini Adalah pengalaman pertamaku. Walaupun sebelumnya pernah juga menjadi koordinator atau membawahi tim, tetapi itu masih lingkup kecil dan aku sanggup. Jadi, kupikir mengapa tidak dikembangkan saja dari lingkup yang sederhana ke lingkup yang cukup kompleks. Tidak ada salahnya mencoba, bersyukur ada di tempat yang tepat.

Masuk bulan ketiga, kesibukan mulai terasa padat dan penuh. Dalam waktu bersamaan dengan double—bahkan lebih—jobdesc, aku merasa overwhelmed dan overlapping. Namun, karena aku adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan tidak mau melakukan kesalahan sedikit pun, aku memaksakan diri untuk tetap menjalankan semuanya meski terpecah-pecah. Semuanya harus berjalan dengan lancar karena aku sudah mengambil semua tanggung jawab dengan sadar, artinya aku selesaikan sampai akhir. Memang benar aku berhasil memenuhi semua tanggung jawabku, tetapi tiba-tiba aku kehabisan energi dan mulai merasa malas melakukan apa pun. Secara fisik baik-baik saja, tetapi percayalah bahwa pikiran dan hatiku terasa penuh dan sumpek. Dari situ kemudian aku menyadari bahwa kompleksitas jobdesc di luar leader telah menjadikanku sebagai seorang pemimpin yang tidak maksimal.

Seorang teman menyampaikan kepadaku, “Kak Vina, sebagai leader harusnya memantau saja sebetulnya, leader itu tidak ikut eksekusi.”

Aku terdiam dan berpikir lama. Iya, sih, tetapi seperti yang sebelumnya sudah aku katakan. Bahwa aku berprinsip tidak mau jadi leader yang hanya memantau secara helicopter view. Aku ingin betul-betul terjun langsung sebagai tim. Aku cuma takut,.takut jadi leader yang near-empathy dan tidak bisa menemukan akar masalah. Dan, sebetulnya aku masih tidak rela melepaskan diri sebagai volunter yang memang banyak berkontribusi sebagai tim. Aku merasa tetap harus menjadi tim untuk bisa tetap berkontribusi secara langsung. Aku ingin membuktikan bahwa aku betul-betul bisa bertanggung jawab dan menyelesaikan tugasku dengan baik. Namun, itulah masalahnya, itulah celahnya yang kemudian menjadi bumerang. 

Ketika aku mengatakan berupaya untuk menghindari masalah, tanpa disadari ternyata aku sedang mendekat dengan masalah itu sendiri. Ketika aku mencari aman, di saat yang bersamaan aku sedang menciptaksn masalah yang kemudian menjadi bumerang. Sebelumnya aku mengatakan bahwa prinsipku adalah seorang leader tetap harus menjadi seorang tim, prinsip ini aku buat sebagai bentuk cara menghindari masalah. Sekilas prinsip tersebut memiliki tingkat kepedulian dan empati yang tinggi. Seakan-akan Aku sedang mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Seolah-olah aku mengedepankan kebersamaan. Namun, justru aku mendapatkan sisi lain yang menjadi celak dan masalah. Baru kusadari bahwa prinsip tersebut tanpa sadar aku jadikan ruang untuk mengais validasi. Mencari pembuktian bahwa aku berguna.

Oleh karena itu, aku mengajukan diri sebagai leader, menangkap bola yang dilempar. Aku memang menyadarinya, tetapi pada saat itu aku tidak sadar bahwa ada sisi lain dari diriku yang ikut mengambil alih diam-diam. Aku memantau, mencoba mengambil keputusan, menjadi tim divisi dan event. Sebagai leader, mungkin aku bisa memberi masukan kepada teman-teman yang bertugas sebagai tim, tetapi ternyata aku tidak bisa menilai diriku sebagai tim. Sebagai leader, mungkin aku bisa memantau teman-teman sebagai tim, tetapi aku malah tidak bisa memantau diriku sendiri sebagai tim. Aku mulai kehilangan kendali karena tidak bisa mengenal siapa diri aku dan harus seperti apa dalam bersikap? Apakah harus bersikap sebagai leader atau tim? 

Perlahan-lahan energiku mulai terkikis dan mengalami burnout. Aku tidak hanya tidak maksimal dalam mengerjakan tugas sebagai tim, bahkan harus kuakui, aku telah gagal menjadi seorang leader. Terlihatnya memang aku tampak mementingkan orang lain, tetapi aku sedang mementingkan diri sendiri dengan memberi makan ego. Ego yang haus akan validasi dan aktualisasi diri. Betapa aku ingin sekali dihargai dan dianggap berguna, tidak seperti diriku di masa lalu seperti sampah. Ternyata dialah sisi kelam yang kemudian memanipulasi dan mengelabui diriku selama ini. Aku pikir aku sudah melakukan yang terbaik, tetapi aku membuat masalah.

Dari situ aku menyadari bahwa aku memang sadar mengajukan diri menjadi leader, tetapi ternyata aku belum siap karena aku belum benar-benar selesai dengan diri sendiri. Akan tetapi, lagi-lagi karena aku berada di tempat yang tepat, aku tidak dihakimi dan justru diberikan solusi lain. Percayalah bahwa aku tidak pernah menyesal mengambil inisiatif tersebut. Sebab, dari situ, aku baru mengenal sisi lain dari diriku sendiri. Sisi lain yang selama ini tidak pernah aku ketahui dan tidak tercapai oleh kesadaranku. Memang menjadi suatu bumerang, tetapi aku menerima kekalahanku. Aku jadi bisa mengenal sisi kelam yang nyatanya mengubah sudut pandang dan perspektif dalam bersikap.

Aku banyak belajar. Aku belajar untuk memahami kapasitas diri. Tidak semua hal harus aku lakukan, apa lagi demi validasi. Mementingkan orang lain memang perlu sebagai bentuk empati, tetapi bukan berarti tidak mementingkan dan mengesampingkan diri sendiri. Aku belajar bahwa energi tidak bisa serta merta melulu disandarkan kepada orang lain. Ternyata aku tidak mampu. Sisi kolam yang haus akan validasi telah menghabiskan energiku bertahun-tahun lamanya.

Sekarang aku sudah memiliki tombol warning ketika kapasitasnya terlalu berlebihan. Tombol warning itu pula yang selalu menjadi pengingat bahwa untuk saat ini adalah waktu yang tepat untuk kembali dan mengenal diri sendiri.

TIGA tahun lalu aku masih bai-baik saja menggulirkan media sosial yang dipenuhi berita-berita politik. Mulai dari kasus korupsi sampai sistem pemerintahan yang selalu menyulut api kemarahan dari masa ke masa. Yeah, bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat itu selalu ada saja tingkah laku lucunya yang menggemaskan. Dari era periode terakhirnya Jkw, kepercayaan terhadap kinerja pemerintah makin terkikis. Omong-omong aku bukan pemudi yang paham politik secara mendalam, hanya permukaan saja. Sebut saja tulisan ini ditulis oleh orang awam politik, tetapi kesal setengah mati dengan kondisi rezim saat ini yang membabi buta.

Dari masa pemilu 2024, aku sudah tidak yakin dengan pasangan calon nomor 2. Kita sama-sama tahu track record-nya era kisruh 98. Memang, sih, aku belum lahir, tetapi masa iya seseorang yang pernah melanggar HAM dan menculik aktivis menjadi orang nomor 1 di negara yang masih berkembang? Bukan soal people change better atau we can not see someone from the past. Akan tetapi, ini soal sejarah tentang seseorang yang mencoreng nilai-nilai kenegaraan dan kemanusiaan. Dalam kehidupan sehari-hari, dua konsep tadi bisa diterapkan, tetapi tidak dalam konteks kehidupan bernegara.

Dengan memiliki calon wakil presiden yang melanggar aturan konstitusi saja sudah janggal. Menurutku, sesuatu yang sejak awal sudah ada kecurangan, ke depannya tidak akan berjalan dengan baik. Oke, cukup sampai saat ini pembahasan era pemilu 2024 yang memenangkan telak pasangan calon nomor tengah. Aku menerima itu dan mulai belajar percaya, baiklah semoga saja pemimpin yang kali ini lebih baik. Satu tahun awal, masih aku lihatin. Masif berita MBG yang kemudian menuai kontroversi. Anggaran tidak masuk akal, keracunan di mana-mana, sistemasi yang tidak efektif. Sementara di sisi lain, gaji guru yang masih belum layak, akses pendidikan belum merata. Anggaran sebanyak itu, sangat mendiskriminasi dunia pendidikan dan makanan yang merundung sistem pencernaan anak-anak. Kemudian dampak MBG yang justru mengakibatkan efisiensi besar-besaran, selain meracuni ternyata juga merugikan masyarakat.

Pajak yang memnbengkak, rupanya kabinetnya menggemuk. Kalau sampai kabinet jadi obesitas, akan sebombastiz apa pajak nantinya? Masalahnya sudah rahasia umum ketika alokasi pajak diterima sebagai gaya hidup pejabat yang mewah. Mempertontonkan tas mahal dan mobil mahal menjadi cara halus pejabat mencekik rakyat yang notabenenya adalah bos mereka. Belum lagi harga BBM yang naik fantastis, yang di atas sibuk mengais-ngais, rakyatnya menangis-nangis. Tidak hanya dibuat menangis, kita juga dibuat geram dan muak ketika tiba-tiba koperasi desa merah putih tersebar di berbagai titik di Indonesia, mulai dari pinggir jalan sampai tengah hutan. Mau ngapain? Untuk apa? Wah, anggaran kita banyak juga, ya, ternyata? Namun, anggaran yang banyak itu kalau dilihat-lihat, kok, malah membahagiakan bapak ibu pejabat sekalian, ya, daripada masyarakatnya? Sungguh anomali paling kurang ajar.

Puncaknya ketika seruan demonstrasi justru mengorbankan luka dan nyawa. Mulai dari asal tankap, jurnalis yang disiram air keras, sampai seorang ojek daring yang meninggal dilindas mobil brimob. Negeri ini kenapa, ya, apakah sedang dirasuki setan? Hati nuraninya sudah rusak, sudah cacat! Terbukti ketika bencana terjadi, dimulai dari banjir bandang dan tanah longsor di sebagian Sumatera. Gempa NTT, sampai Karhutla yang berdampak ke pulau seberang bahkan negeri seberang. Dan masih banyak lagi bencana yang tersebar di hampir seluruh tanah air. Coba perhatikan sikap-sikap pada pemangku kekuasaan yang tidak beradab itu! Fatalnya beberapa bencana besar yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri dan sampai sekarang bahkan tidak ada tindakan tegas, yang ada sikap lelet dan lamban. Aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan makhluk macam apa mereka itu, yang jelas bukan manusia.

Aku marah, marah sekali. Itu orang-orang hatinya sudah membusuk oleh kekuasaan atau sudah mati dimakan jabatan? Aku penasaran apakah mereka masih bisa tidur nyenyak dan hidup tenanng? Aku marah, tetapi aku bingung harus berbuat apa?!

Setidaknya dua tahun belakangan, aku mulai sampai titik lelahku dalam mengonsumsi berita-berita politik dan kemanusiaan. Jangankan menonton atau membaca, mengingat saja dadaku langsung sesak. Korupsi MBG, korupsi jampidsus, dan statement-statement para politikus tukang tipu! Ah, sialan, marah sekali aku. Tahu tidak, sih, ketika rasa marah tidak bisa dialokasikan dan tertaham di dada, jadinya sesak dan penuh. Walaupun sebetulnya aku cukup bersyukur masih bisa menjalani hidup dengan baik dan menghirup udara segar. Hanya saja, membayangkan mereka yang sedang dalam situasi bencana dan tidak mendapatkan penanganan cepat dari pemerintah adalah sesuatu yang menyesakkan. Rasanya sulit menjalani keadaan baik-baik saja, tetapi banyak orang di luar sana yang tidak baik-baik saja. Sementara aku tidak dapat berbuat apa-apa, selain mendoakan dan bersuara melalui tulisan ini.

Aku sering mendapatkan informasi bahwa tingkat stres saat ini di Indonesia meningkat. Utamanya disebabkan oleh paparan berita-berita negatif yang kemudian menciptakan emosi negatif berupa sampah dalam diri. Sebetulnya aku lumayan menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi berita-berita politik demi menghindari stressful. Namun, Aku tidak akan membiarkanku menjadi orang paling tidak peduli seperti para pejabat. Bagaimanapun aku harus tetap mengawal dan memantau situasi negara porak-poranda. Makin ke sini, rasa-rasanya makin dekat dengan ujung kehidupan yang mencekam. Seakan-akan tidak ada harapan lagi untuk percaya. Sekarang semuanya serba terimpit dari berbagai bidang dan sektor. Akan tetapi, satu hal, bertahanlah menjadi manusia waras sampai tahun 2029. Dan, pastikan kita tidak memilih orang yang salah.

Marah boleh, tetapi Jangan lupa berdoa untuk perubahan dan kebaikan negara ini, ya? Bagaimanapun kita lahir dan tumbuh di tanah air ini.


Teruntuk negeri tercinta,

AKU tidak pernah meminta untuk dilahirkan di negeri ini. Akan tetapi, seiring bertumbuhnya usia, perlahan-lahan aku mulai menyukai dan mencintai apa-apa yang ada di negeri ini. Negeri ini memberikan tempat-tempat sederhana untuk bermain ketika kecil. Main air di sungai, main petak umpet di kebun, mencari buah cherry di pohonnya. Masa kecilku tidak lepas dari kehidupan alam, meski tinggal di tengah perkotaan. Belum lagi teman-teman masa kecil yang melengkapi kebahagiaan.

Negeri ini memberikan sesuatu yang tidak dimiliki negeri lain. Sesederhana permainan tradisional yang menghiasi masa kecil sampai remaja. Congklak, bekel, taplak, lompat tali, uber hem, gobak sodor, dan lainnya. Belum lagi semarak acara yang sering dirayakan setiap tahun pada 17-an. Selain berkompetisi sehat, 17 Agustus melestarikan kebersamaan antarwarga. Negeri ini mengajarkan tentang kepedulian dan gotong royong terhadap sesama masyarakat. Dengan begitu akan terwujud hidup rukun dan damai.

Negeri ini lahir dengan kekayaan budaya yang banyak dan luar biasa. Sejak remaja aku diperkenalkan dengan kesenian tradisional daerah Lampung, tempatku tinggal. Salah satu hal yang kusyukuri dan banggakan dari masa putih abu-abu adalah bergabung dalam ekstrakulikuler Seni. Secara spesifik aku memilih divisi musik, tetapi sanggar sekolah menerapkannya sistem seluruh anggotanya harus mempelajari bidang seni yang tersedia. Ada tiga divisi yang dipelajari: divisi musik, divisi tari, dan divisi teater.

Pada awalnya, kupikir sanggar seni tersebut terfokus pada alat musik modern. Setelah resmi menjadi “anak seni”, aku justru belajar hal baru yang menyenangkan. Untuk pertama kalinya aku mengetahui dan mempelajari alat musik gamolan pekhing atau cetik. Alat musik tradisional yang terbuat dari bambu ini berasal dari Lampung Barat. Uniknya, cetik merupakan alat musik Pentatonix karena tidak memiliki tangga nada “fa/4”. Ada beberapa tabuhan yang kupelajari: Tabuh Alau-Alau, Tahun Sermenung Serlis, Tabuh Khapot, dan Tabuh Sanak Miwang Dija, Tabuh Ghapet, dan Tabuh Tari. Aku juga mempelajari talo balak yang terdiri dari: kulintamg, rebana, tarbuka, kecrekan, canang, dan gong.

Perlahan-lahan aku mulai menyukai si cetik. Kalau ditanya, mengapa tidak memilih divisi tari? Jujur, aku merasa tubuhku tidak dilahirkan untuk menari, terlalu kaku dan jelek. Pun sebetulnya aku lebih menyukai musik. Dan, aku tetap mempelajari seni tari tradisional Lampung seperti tari Sigeh Pengunten dan tari Bedana. Melalui seni tari itulah sanggar sekolah kami sering meraih juara. Meskipun aku bukan penari, tetapi aku ikut bangga. Dan, selama ada perlombaan tari tradisional di Bandar Lampung, aku akan ikut menjadi pemusik pengiring penari. Biasanya aku akan memegang gong yang berfungsi sebagai penjaga tempo permainan talo balak.

Melalui budayanya, negeri ini membuatku memiliki prestasi di bidang kesenian. Dan, kesenianlah yang tanpa sadar menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri ini. 

Selesai dari masa putih abu-abu, selesai pula kedekatanku dengan cetik. Memasuki usia menuju dewasa, aku mulai mengetahui bahwa negeri ini bukan hanya soal kerukunan dan kesenian budaya. Ternyata negeri ini justru berotasi karena adanya politik dan sistem pemerintahan. Sebagai orang awam, yang ku ketahui hanyalah struktur kenegaraan seperti presiden, wakil presiden, menteri, DPR, MPR, gubernur, walikota, bupati, dll. Aku tidak mengerti bagaimana sistem bisa berjalan. Ketika akhirnya mulai aktif menjadi pengguna media sosial. Sudut pandangku terhadap negeri ini mulai luas sekali. Pelan-pelan sedikit memahami bagaimana negeri ini berjalan semestinya. Bagaimana presiden' dan wakilnya menjadi pemimpin yang memastikan negeri dan rakyat di dalamnya hidup aman dan nyaman. Bagaimana para menteri kemudian menjadi pembantu presiden dalam mengelola negeri. Tentang DPR yang menjadi jembatan dan sambungan tangan antara rakyat dan pemerintah, tanpa ada sekat. Bagaimana para aparat TNI/Polri yang menjaga keamanan negara dan melindungi masyarakat. Wah … ternyata mereka adalah orang-orang luar biasa yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat.

Bahkan ketika bencana datang, mereka sudah menyiapkan antisipasi dengan adanya lembaga BNPB. Menjadi sebuah lembaga yang humanis, mengingat negeri ini berada dalam lingkaran cincin api. Aku sangat mencintai negeri ini sampai ketika tahun 2025 menjelang. Kecintaanku terhadap negeri ini mulai menyusut. Pajak naik. Kecelakaan alam yang disebabkan keserakahan manusia menyebar. Korupsi besar-besaran merajalela. Para pemangku tanggung jawab membangun sekat begitu tebal dan tinggi antara pemerintah dan masyarakat. Mereka yang seharusnya membela dan memastikan rakyat hidup aman makmur, kemudian banting stir menjadi bertugas dengan ngawur. Ketika posisi adalah hasil dari hati nurani dan kepedulian, tetapi menjadi tempat untuk menindas rakyat dengan kekuasaan..

Ah, ya, yang salah bukan negerinya, yang salah adalah manusia yang melupa. Seperti munafik, pada saat kampanye dan pemilihan, berapi-api dan menunjukkan kepedulian dengan janji-janji yang ternyata hanya janji tanpa bukti. Janjinya palsu, buktinya lesu. Seakan-akan pemerintahan memiliki pintu masuk yang secara otomatis dapat mematikan hati nurani dan empati. Sampai-sampai beredar rumor “orang baik pada akhirnya skan jahat ketika mendapatkan jabatan pemerintahan”. Meskipun ada pula yang bersikap optimis bahwa setidaknya ada satu dua orang baik di dalamnya. Namun, untuk apa? Lihatlah menteri keuangan sebelumnya yang melakukan tugas sesuai dengan prosedur dan semestinya. Bekerja dengan benar, tetapi dipecat dengan semena-mena. Aku sendiri sangsi bahwa negeri ini akan menjadi “emas” yang digadang-gadang oleh sang pemimpin atau jangan-jangan semua itu hanya janji bualan?

Kasihan sekali negeri ini. Kasihan sekali rakyat di negeri ini. Tidak dipedulikan oleh wakil rakyat. Lucu sekali ada wakil rakyat yang berani menindas rakyat yang membayar mereka. Oh. Katanya sejarah harus dilestarikan. Apakah maksud dari sejarah ini adalah budaya korupsi yang tidak pernah ada ujungnya? Negeri ini memang kaya akan budaya, tetapi budaya korupsi telah menjajah negeri ini. Bahkan budaya serakah yang kemudian menyiksa rakyat. Melakukan kelakuan arogansi, tidak berkompetensi, tidak memiliki kapabilitas dalam bidangnya. Ketidakmampuan tersebut seakan-akan kepentingan rakyat tidak terlalu penting bagi mereka.

Lihatlah para pembantu presiden itu, menjadikan amanah sebagai ladang korupsi. Dana haji, Al-Qur’an, dana MBG, dana BNPB, apa lagi? Anggaran-anggaran tersebut tidak dipandang sebagai tanggung jawab dan amanah, tetapi dijadikan proyek untuk mereka korupsi besar-besaran. Ah, ya, orang-orang rakus itu akan selalu haus dan tidak kenal kata cukup. Orang-orang rakus itu hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Mata mereka tidak digunakan untuk melihat betapa parahnya negeri ini. Telinga mereka tidak digunakan untuk mendengarkan yang menggaji mereka. Nyatanya bukan hanya hati yang cacat, mata mereka buta, telinga mereka tuli. Entah kata-kata apalagi yang pantas untuk menyebut sosok mereka selain manusia karena mereka tidak manusiawi.

Aku lelah harus terus-menerus disuapi berita korupsi yang nilainya sangat tinggi. Aku muak terus mendapati presiden dengan pidato tidak bermutunya. Namun … aku tidak sampai hati jika harus usai dari media sosial. Ada saudara-saudara sebangsa yang perlu perhatian besar. Mereka yang terdampak karhutla. Di Kalimantan, Papua, Palembang, dan Jambi. Ada mereka yang masih belum sepenuhnya pulih dari bencana alam di Aceh dan NTT. Ditambah sebagian besar bencana alam disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Orang-orang serakah itu lagi yang membakar hutan, yang melakukan deforestasi hingga terjadi banjir bandang. Tidak sampai ke hati jika aku harus menutup mata dan telinga akan kondisi di luar sana.

Aku memang lelah dan muak. Akan tetapi, lelah dan muak aku masih bisa menghirup udara segar, tidur di tempat tinggal yang nyaman, dan makan dengan nikmat. Sementara mereka di luar sana yang terdampak, mereka bukan hanya lelah dan muak, tetapi kehidupan mereka betul-betul diganggu dan dirusak. Nyawa mereka menjadi taruhan akan keserakahan orang-orang tidak punya empati. Aku memang manusia pengecut yang tidak berani bersuara dengan lantang, tetapi melalui tulisan ini, Aku berani berbicara dan bersuara 
 TIDAK LENGKAP rasanya jika manusia tidak diperkenalkan dengan sosok yang bernama kehilangan. Ia sosok yang unik, tidak pernah ada yang berusaha untuk mengenalnya. Di waktu-waktu tertentu, dengan sendirinya sosok itu akan hadir. Kehadirannya pun sama uniknya dengan watak memilukan itu. 

Keunikan lain yang melekat di sosok itu, salah satunya tentang pertanda. Ia sama seperti manusia, ada yang santun, ada yang ketus. Terkadang suka mengetuk, atau justru menyelinap begitu saja tanpa diketahui. 

Perginya pun seperti perubahan cuaca, ada yang cerah, ada yang mendung disertai hujan dan petir. Kabar baiknya, ia akan cepat pulih dari sisa rasa hilang. Namun, cukup parah bagi mereka yang memulihkan sisa rasa hilang hingga menemui musim hujan berkali-kali. 

Dalam sebuah kisah, entah masa kemarin, pekan lalu, atau tahun sebelumnya. Paling tidak, ada satu waktu sosok itu datang. Satu kali, dua kali, bahkan berkali-kali. Seakan-akan dipaksa untuk bersama dengan kehilangan, di sisi lain diharuskan menerima yang pergi. 

Sekalinya datang, kehilangan akan menetap begitu lama. Nahasnya, sewaktu-waktu akan datang kembali di peradaban yang lain. 

Sosok itu memang makhluk paling sibuk. Sibuk menemui manusia satu ke manusia lainnya. Mengenalkan diri sebagai kehilangan dan pergi untuk datang kembali suatu saat. Padahal ia tahu, kehadirannya tidak pernah diharapkan siapa pun. 

Dunia ini hanya akan berisi manusia tanpa tahu apa itu perasaan karena tidak ada sosok yang bernama kehilangan. Sebab, kebahagiaan tidak akan terasa gembira ketika kehilangan tidak ada. Jika dipikir-pikir, kehilangan menjadi sebuah asupan penting bagi gizi kehidupan manusia. 

Daripada harus terpaksa menerima kenyataan menetapnya kehilangan yang tidak diidam-idamkan itu. Ada pikiran-pikiran yang sebaiknya bisa diajak bertukar pembicaraan. Tentang bagaimana untuk berdamai bersama rasa-rasa kehilangan yang bisa datang kapan saja. 

Kita sama-sama tahu bagaimana kehilangan merenggut bagian dari bahagia yang menyisakan memori. Tentang air mata yang jatuh di kehampaan, meski banyak manusia lain menepuk-nepuk bahu, mereka bilang untuk bersabar diri.

Memang tidak semudah itu untuk cepat-cepat bersabar diri. Ada waktu-waktu yang mengurung diri pada ruang yang dahulunya ada kini hilang menjadi hampa. Tersisa kesunyian yang pilu, tidak akan ada lagi kebiasaan-kebiasaan yang kini sudah lenyap bersama hilang. 

Meratap lalu bersedih, tidak apa-apa untuk hal itu. Namun, tidak baik pula untuk membiarkan kehilangan merengkuh jiwa kita. Sejatinya, jiwa butuh udara segar, ketimbang harus menjadikan jiwa lupa akan apa itu kebahagiaan. 

Kehilangan ada untuk membentuk kekuatan. Sebab, hidup tidak melulu perihal tertawa dan gembira. Tentang, yang ada tidak akan selamanya menemani, sampai waktunya dia akan pergi sendiri. Hingga saatnya pergi, tangan kita akan rela melepas dan jiwa membuka pintu lebar-lebar membiarkan kehilangan itu singgah sejenak. Sebut saja iu berdamai dengan rasa hilang. 


•••

“IBU sudah tidak ada.” Begitu kata dokter setelah memeriksa keadaan Ibu yang tidak bergerak sama sekali di atas kasur.

Aku tahu itu berita duka, seorang perempuan yang melahirkanku meninggal dunia. Namun, percaya atau tidak, ungkapan dokter lelaki tersebut membuatku lega. Seakan-akan menyapu bersih ruang sesak di dada. Sebagai anak remaja, aku masih belum tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa. Tidak lama kemudian, rumah yang tadinya sepi perlahan-lahan ramai pelayat. Ibu mulai dipindahkan ke ruang tamu.

Omong-omong, Ibu mengembuskan napas terakhir di rumah. Dokter tadi memang dipanggil untuk mengecek kondisi Ibu. Bukan karena orang have—bisa panggil dokter ke rumah, melainkan terpaksa dibawa pulang karena biaya rumah sakit mahal. Pada masa itu, belum ada sistem BPJS. Apa lagi, sejak aku SD sampai SMA, Ibu sering keluar masuk rumah sakit. Ingat betul, Ibu tidak ada ketika aku baru saja lulus sebagai anak SMA. Dan, beruntung sekali aku berada di samping Ibu pada detik-detik terakhirnya.

Ibu sudah terlalu kesakitan hidup di dunia yang keras. Saking kerasnya, entah mengapa, aku yakin Allah menyiapkan surga untuk Ibu. Meskipun aku sadar. Ketika aku lega, kepergian Ibu sekaligus melepaskan rasa sakit yang tidak masuk akal itu. Di saat yang bersamaan, artinya aku kehilangan doa paling mujarab dan telapak kaki yang mulia. Akan tetapi, aku harus menerima semua itu, daripada terus-menerus melihat Ibu disiksa oleh keadaan yang terlalu antagonis. Walaupun sampai saat ini aku punya ketakutan besar bahwa apakah aku menjadi bagian dari keadaan yang menyebalkan itu?

Ketika ketakutan itu hadir, aku akan selalu menenangkan dan menghibur diri sendiri.

Vina, kamu ingat, kan, lelucon kecimpring yang membuat Ibu tertawa? Vin, kamu beruntung, masih bisa tidur di samping Ibu di hari-hari terakhirnya. Mau tahu yang lebih melegakan? Berulang kali kamu mencium pipi Ibu dan berucap maaf. Meskipun Ibu menjawab dengan linglung, “Ibu sudah maafin kamu.”, percayalah hati Ibu masih waras.

Mungkin, keberadaanku dengan Ibu yang cukup intens itu yang membuat aku merasa lebih bisa menerima kepergiannya. Mulai dari Ibu dipindahkan ke ruang tamu, dimandikan, dikafani, dan disalati. Pada saat itu hari Jumat, sebelum Ibu dimakamkan, Ibu disalati terlebih dahulu di masjid setelah salat Jumat. Baru kemudian diantar ke pemakaman, tempat terakhir Ibu beristirahat panjang. Cuaca memang cukup panas, tetapi rumah baru Ibu, tepat berada di bawah pohon besar yang rindang.

Ibu siap dimakamkan. Adikku mengazani. Perlahan-lahan Ibu mulai diselimuti tanah. Di saat yang bersamaan, pipiku juga diselimuti air mata. Itu adalah air mata pertamaku untuk kepergian Ibu. Ketika Ibu betul-betul sudah ditedubi gundukan tanah, kesadaranku baru saja duduk di tempatnya dengan tepat. Ibu bukan hanya tidak lagi bernapas, mulai detik itu, jiwa dan raga Ibu sudah tidak ada lagi. Ibu pergi untuk selamanya.

Sampai saat itu, aku masih belum pernah merasa kehilangan. Kepergian Ibu, justru adalah kelegaan yang bisa aku terima. Aku belum bisa relevan dengan perasaan mencekam dan patah hati dari rasa kehilangan yang sering kali dialami hampir semua orang. Aku tidak menangis meraung-raung seperti adikku. Aku hanya lebih banyak diam, tidak bersikap dan bersuara. Kalau ada orang-orang yang mengucapkan belasungkawa, aku tersenyum tipis sebagai respons. Tidak ada perasaan berat hati untuk melepas Ibu karena kejadian ini sudah kami sekeluarga prediksi. Ketika waktunya Ibu pergi dan berhenti, aku sudah menyiapkan diriku sehingga perasaan kehilangan itu tidak sempat singgah.

•••

“Ayah sekarat.” Begitulah pesan dari mbakku yang saat itu sedang menemani Ayah di rumah sakit.

Baru kemarin sore, Ayah dirujuk ke rumah sakit karena sakit jantungnya kambuh. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat Ayah tumbang karena sakit. Selama ini Ayah hanya sakit biasa saja. Dia tipe ayah yang cukup galak, tegas, dan kuat, aku lumayan takut dan segan dengannya. Namun, semenjak era pandemi, aku dapat kabar Ayah dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Tahu tidak, hebatnya Ayah menyetir mobil pick-up sendirian menuju rumah sakit ketika serangan jantung untuk segera mendapatkan pertolongan.

Dari situ Ayah mulai sering keluar masuk rumah sakit, dirawat beberapa hari lalu pulang. Sering kali menjadi agenda rutin bulanan yang membuat aku terbiasa dengan ritme tersebut. Satu tahun, dua sampai tiga tahun kemudian. Ritme tersebut tidak pernah putus, meski ada kalanya beberapa bulan Ayah kondisinya sudah membaik. Namun, beberapa bulan kemudian kembali ngedrop dan kembali ke ritme rumah sakit-pulang-rumah sakit-pulang. Sampai akhirnya, ketika Ayah dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya. Baru satu hari, besok sorenya mbakku memgabarkan, *Ayah sudah tidak ada.”

Baru saja aku mau pergi ke rumah sakit untuk gamtian berjaga, ternyata Ayah sudah lebih dulu tiada. Saat itu, aku masih berada di rumah tante. Untuk memastikan, aku menelepon mbakku. Setelah diangkat, sebelum aku mengucapkan sepatah kata. Suara isak tangis dari seberang, memvalidasi pesan yang baru dikirimkan. Sambil menangis, aku hanya bisa mengungkapkan, “Kok bisa, sih, Mbak?”

Aku terduduk tidak berdaya di sisi kasur. Mendengar suara tangisanku. Tanteku yang satu lagi—kebetulan sedang berkunjung—menghampiri dan memelukku. Aku tidak berhenti menangis sampai aku duduk di kursi samping ranjang Ayah. Ayah terduduk bersandar ditutupi selimut. Ayah betulan tidak ada. Aku meraih dan menggenggam tangan Ayah yang sudah tidak berdaya. Tangan yang dulunya sangat kuat, tangan yang tiga tahun belakangan sering ditusuk jarum suntik. Aku menelungkupkan kepalaku sambil mengelus tangannya. Dalam hati dan pikiran berkecamuk. Penuh dengan berbagai kilasan-kilasan hari kemarin, beberapa hari lalu, bertahun-tahun lalu. 

Aku lag-lagi tidak tahu harus berbuat dan bersikap seperti apa. Mengingat kondisi mataku sudah tidak baik, aku hanya duduk di samping Ayah yang kini sudah ditidurkan di ruang tamu rumah mbak pertamaku. Selama perjalan dari rumah sakit ke rumah mbakku, aku tidak berhenti menangis. Dan, air mataku sudah habis. Besoknya, Ayah siap dimandikan dan dikafani. Di sini pipiku kembali basah oleh air mata. Tubuh lelaki yang dulunya kuat itu, kini mengenakan pakaian terakhirnya. Ayah betulan sudah tidak ada. Kemudian Ayah disalati setelah salat Jumat selesai dan segera dipulangkan ke rumah terakhirnya. Adikku kembali mengazani. Dan, mataku tidak pernah lepas dari Ayahku meski sudah ditutupi oleh papan dan perlahan tanah merah itu menyelimuti Ayah sampai menjadi gundukan.

Air mataku sudah habis. Baru saja, aku baru bisa menerima kepergian Ayah untuk selamanya. Tidak ada kelegaan, yang ada hanyalah kebingungan.

Untuk pertama kalinya aku mengalami rasanya kehilangan seseorang. Orang yang sebelumnya masih ada bersamaku, orang yang tadinya masih terlihat berusaha dan berjuang melawan penyakit. Kemudian orang tersebut tidak ada dalam sekejap, tanpa aku prediksi. Aku yakin betul, pria itu sebelumnya masih bisa berdiri tegak, tetapi besoknya tidak lagi bergerak. Aku pikir ketika Ayah masuk rumah sakit, dua atau tiga hari berikutnya akan pulang. Nalum, belum sampai dua hari, Ayah memang pulang, pulang ke kehidupan selanjutnya. Ini adalah perasaan kehilangan yang mencekam dan mematahkan. Jujur saja, menuliskan cerita tentang hari-hari terakhir Ayah, napasku terasa berat dan dadaku sesak. Betapa kehilangan itu tidak pernah pergi, meskipun Ayah sudah pergi.

•••

Ayah dan Ibu, meninggalkan warisan berupa pelajaran berharga dalam hidup. Pelajaran yang akan selalu aku genggam sampai kapan pun. Betapa kita tidak pernah tahu, kapan orang-orang terdekat akan pergi. Tidak peduli apakah orang tersayang atau orang yang selalu berselisih dengan kita. Entah mereka pergi dengan memberikan kehilangan yang melegakan atau mencekam. Setidaknya mereka pernah ada dalam hidup kita. Dan, penyesalan terbesar atas kedua rasa kehilangan itu adalah andai saja aku betul-betul memanfaatkan waktu bersama mereka dengan baik. Sayangnya kematian tidak bisa diprediksi.




AKU tidak tahu bagaimana caranya berbicara. Aku lebih banyak diam, daripada mengeluarkan suara. Memangnya akan ada yang mendengarkan? Baiklah, jika ada yang mendengar, tetapi aku cukup sangsi, apa-apa yang keluar dari mulutku, pasti tidak menarik. Aku pernah ada di fase jijik, tidak sudi mendengar suaraku sendiri. Pasti ujung-ujungnya aku akan merasa dipermalukan setiap setelah berbicara sepatah dua kata. Akan selalu ada pertanyaan rutukan dan cacian, “Vina bego, ngapain ngomong, sih? Malu-maluin aja!”

Bukan tanpa alasan, melainkan aku tumbuh dengan terbiasa tidak didengar.

Aku adalah anak keempat dari enam bersaudara. Aku adalah anak paling pendiam di rumah. Di antara yang lainnya, aku tidak ada daya tarik. Aku hanyalah salah satu yang ada dari anggota keluarga ini. Mengikuti setiap keputusan yang telah diputuskan. Meskipun tidak jarang aku melanggar aturan tidak tertulis yang menyebabkan Ayah marah. Apa lagi, Ayah adalah tipe orangtua tegas dan galak. Pernah dicubit, dijewer, dipukul, bahkan pernah “dikurung” di kamar, dan diusir dari rumah. Memang karena kesalahanku, sih, masih untung tidak dicoret dari kartu keluarga.

Di rumah, Ayah adalah sosok yang paling dominan. Aku sendiri anak yang takut dan segan dengan beliau. Selain karena pendiam, aku juga tidak berani untuk berbicara dengannya. Sekadar meminta uang jajan, apa lagi meminta dibelikan ponsel pun tidak pernah. Bahkan pernah, ketika aku pulang sekolah waktu SMP dijemput Ayah. Ketika itu sedang hujan deras dan kami mengenakan jas hujan. Hari Jumat mengenakan seragam rohis berwarna hijau. Celanaku saat itu bagian kain basah sobek tersangkut di sela-sela ban. Jadi, selama di perjalanan dan selama roda berputar aku menahan kakiku agar tidak terkilir. Aku tidak berbicara pada Ayah karena aku takut. Biarlah aku tahan sendirian semua ini. Beruntung aku tidak terluka atau membuat kami laka di jalan.

Di rumah, aku merasa tidak ada ruang untuk berbicara. Mereka bilang aku masih kecil dan tidak mengerti apa-apa. Sampai aku masuk SMA pun pendapatku diserang. Ketika itu, ujian nasional SMP sudah berakhir, dan aku sudah punya tujuan SMA. Salah satunya adalah SMAN 3 Bandar Lampung. Salah satu SMA Negeri unggulan di kotaku sekaligus sekolah Ibuku dulu. Aku ter-influence oleh cerita ibuku dan membuatku tertarik untuk bersekolah di sana. Jadi, ketika Ayah bertanya mengenai pilihan SMA-ku, Aku menjawab sekolah unggulan itu. Namun, Ayah menanggapi, “Kamu itu mau sekolah atau main-main?!”

Aku yang tadinya antusias, langsung runtuh. Kupikir akan didukung, ternyata diempaskan. Membuatku jadi tidak bersemangat. Coba tebak, alhasil ujung-ujungnya aku masuk sekolah swasta yang kata teman-temanku sekolah bau kandang kambing dan sering ada yang kesurupan. Ironinya, sekolah swasta ini letaknya tidak jauh dari sekolah impianku. Ingat betul, aku menangis sesenggukan di ruang tamu rumah tante yang kebetulan sedang sepi. Betapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang kumau, bahkan sebelum berusaha.

 Mulai dari situ aku makin tidak berani untuk bersuara dan mengemukakan pendapat.

Tumbuh di lingkungan yang tanpa sadar tidak memberikan ruang untuk berbicara, membuatku takut untuk sekadar menyampaikan keinginan. Sampai saat ini, masih ada beberapa dampak yang belum bisa aku atasi. Sesederhana menceritakan sesuatu, mulut rasanya berat sekali untuk dibuka. Seperti ada beban yang menahan, padahal hati dan kepala sudah berteriak. Orang-orang mungkin menganggapku terlalu berlebihan, hiperbola. Masalahnya ini tidak semudah “Coba, dong. Belajar diomongin”, tidak semudah itu. Aku juga mau, tetapi reaksi tubuhku bersikap sebaliknya.

Begini. Di dunia ini tidak semua hal aku bersedia untuk belajar mengendalikannya. Selain tidak bersedia, aku tidak siap menghadapi reaksiku sendiri setelahnya. Namun, aku sadar bahwa manusia dalam hidup juga butuh berkembang. Jadi, ada beberapa hal yang aku bersedia untuk mengontrol dan siap menghadapi risikonya, yaitu public speaking. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku betul-betul bisa berdamai dengan suaraku sendiri. Setidaknya sampai aku menemukan satu tempat yang memberikan ruang leluasa untuk berbicara. Ruang ketika aku bebas bersuara tanpa takut dihakimi. Namun, sebelum jauh ke situ, aku akan menceritakan prosesnya.

Jika aku tidak pernah berani untuk bicara, lantas bagaimana caraku meluapkan apa yang ada di kepala dan hati? Bukankah ketika segala bentuk emosi dan pikiran menumpuk, hanya akan menjadi sampah negatif? Bukankah semua itu pada akhirnya akan menjadi bumerang, jika selalu dipendam? Betul. Aku tidak serta merta memendam semuanya, kok. Salah satu hal yang aku syukuri adalah aku memiliki ketertarikan dengan dunia menulis. Tanpa sadar, aku sering menulis quotes di Instagram pribadi—sampai saat ini masih ada. Kemudian tulisan itu berkembang menjadi tulisan panjang. Sampai akhirnya aku memiliki blog. Pada awal belajar blog, aku diajarkan cara menulis artikel SEO on page. Dari situ sering menulis artikel yang struktural seperti artikel listicle, feature, sampai esai. Di sisi lain, aku juga tetap menulisksn. perasaan dan pikiranku di blog khusus.

Perlahan-lahan, ketika aku mulai aktif volunteering di komunitas literasi. Aku mulai.belajar berinteraksi dengan orang-orang baru. Meskipun online, tetapi ini membantu aku untuk memahami ritme dan cara berkomunikasi yang baik. Aku cukup aktif di komunitas tersebut, mulai dari menjadi pengurus event/challenge literasi beberapa kali. Sampai akhirnya, di komunitas yang sama, untuk pertama kalinya aku menjadi MC di acara kelas kepenulisan online. Dari situlah awal mula saklar bicaraku menyala. Aku punya keinginan itu kuat untuk nge-MC kembali di depan umum, meskipun online.

Tuhan mendengarkan keinginanku, beberapa bulan kemudian Tuhan mempertemukanku dengan komunitas yang membuatku makin berkembang. Pada awalnya aku hanya menjadi penanggung jawab dalam mengoperasikan suatu grup membaca. Dikarenakan aku sudah bergabung sebagai volunteer di komunitas ini, otomatis aku dapat mengikuti kegiatan-kegiatan literasi lainnya. Salah satunya adalah event literasi. Perkenalkan, nama komunitas itu adalah 30 Hari Membaca atau dikenal dengan tagline Pantang Bobo Sebelum Baca (PABOBA). PABOBA menjadi tempat yang menginterpretasikan sebuah rumah kedua. Rumah kedua ini memang bukan tempat pulang, melainkan tempatku berkembang. Untuk pertama kalinya ada yang memintaku untuk menjadi pembawa acara di event Tukar Pikir PABOBA. Untuk pertama kalinya ada yang percaya padahal belum pernah tahu diri aku dan bahkan baru kenal. Mereka mempercayakan kegiatan komunitas mereka kepadaku sebagai pembawa acara ataupun MC.

Bukan hanya tampil di depan umum secara online. Di PABOBA, aku belajar mengeluarkan pendapat dalam rapat forum. Sebab, setiap bulannya selalu ada rapat bulanan sebagai evaluasi. Perlahan-lahan, ruang didengar itu aku dapatkan. Selama ini mulutku benar-benar terkunci hingga kata-kata hanya sampai di ujung tenggorokan. Selama ini pendapat ataupun ide hanya bersarang di kepala tanpa ada tindakan. Selama ini yang berfungsi hanya telinga, sementara bibirku adalah anggota paling pasif. Selama ini kupikir tidak bisa berbicara, ternyata aku bisa.

Dari fase aku yang sering menulis quotes sampai menulis artikel, membantu susunan bicaraku jadi lebih terstruktur dan memiliki alur. Menulis quotes membantu aku menata pikiran dan hati, sehingga gaya bicaraku terkadang lebih personal. Menulis artikel membantu aku mengenal proses kreatif dan kredibilitas dalam suatu tulisan, sehingga aku belajar tidak asal dalam berbicara. Sementara, membaca memperkenalkanku dengan dunia luar yang tidak pernah aku gapai. Membaca fiksi mengenalkanku dengan karakteristik orang-orang, sehingga membantu aku dalam berinteraksi dengan orang lain. Membaca nonfiksi mengajarkanku tentang teori dan konsep, sehingga aku belajar berbicara sesuai dengan wawasan yang aku dapatkan. 

Setelah mendapatkan pengalaman dan pembelajaran otodidak dari menulis dan membaca. PABOBA menjadi ruang praktik bicaranya. Melakukan latihan, pasti ada kesalahan, tetapi itu bagian dari proses. Lagi-lagi, tidak ada satu pun orang di PABOBA yang menghakimi dan menghentikan langkahku untuk terus mencoba. Bukan hanya ruang mendengar, PABOBA juga memberi ruang untuk aku belajar dari kesalahan tanpa dihakimi. PABOBA tidak hanya memberikan ruang, tetapi juga menumbuhkan harapan yang telah lama terkubur. Harapan akan masa depan yang cerah. Dan, aku punya impian tentang berbicara. Aku bercita-cita berbicara di depan banyak orang secara langsung.

Satu hal aku sadari. Selama ini aku bukannya tidak bisa berbicara. Aku hanya tidak diberikan ruang untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. Aku hanya tidak punya kesempatan untuk berbicara. 
SEUPAYA apa pun aku bersikap aman, ternyata tetap saja, namanya hidup tidak lepas dari masalah. Justru dari sikap “aman” itulah yang menjadi cikal bakal masalah. Masalah yang kemudian membawaku pada satu titik balik. Persoalan diri yang nyatanya belum pernah selesai. Tentang tangki hati yang tidak pernah penuh. Tentang perkembangan diri yang belum pernah ada hasilnya. Tentang masa depan yang terlihat samar. Dan, tentang pola pikir yang terus menyerang diri sendiri.

Dan, lagi-lagi, semua itu datang dari perasaan tidak berharga. Perasaan tidak berharga yang membuat aku haus validasi demi mengisi tangki. Perasaan tidak berharga yang memblokade mental aku untuk berkembang dan bertumbuh. Perasaan tidak berharga yang menakut-nakuti betapa suramnya masa depanku. Perasaan tidak berharga yang mengendalikan pikiran untuk selalu merendahkan diri sendiri.

Perasaan tidak berharga yang kemudian dibalut dengan kepedulian palsu. Balutannya tampak indah, sementara orang lain tidak melihat betapa di balik balutan itu terdapat diri yang terkoyak karena kehilangan identitas. Setelah sekian lama diri itu bertahan di belenggu oleh balutan indah yang palsu, akhirnya berontak dan menyerang. Seperti ledakan besar, diri itu akhirnya merobek balutan dan memperlihatkan aslinya. Bahwasanya keindahan itu hanya balutan yang mudah hancur dan sejatinya adalah diri yang butuh diperbaiki.

Sudah saatnya untuk merevisi hidup besar-besaran. Bukan hanya dari potensi yang perlu digali lebih dalam, melainkan juga dari sisi diri sendiri yang perlu ditemukan seutuhnya. Menurut aku kehidupan yang selalu berujung stagnan adalah karena meragukan diri sendiri. Dan, alasan aku masih tidak benar-benar menjadi diri sendiri adalah karena masih takut kehilangan validasi. Bersumber dari dua masalah tersebut, aku mulai merevisi hidup dari satu titik, pola pikir. Iya, kamu juga pasti pernah dengar, untuk bisa berubah harus diawali dari membenahi pola pikir. Apa lagi mengubah sesuatu yang sifatnya kebiasaan, ini bukan perkara mudah.

Padahal, sebelum-sebelumnya beberapa kali ada kesempatan untuk aku memperbaiki diri, terutama di produktivitas. Sebelumnya produktivitas aku hanya berkutat sebagai volunteering di PABOBA. Tidak ada kesibukan lain selain di PABOBA. Kemudian ketika seorang teman menyadarkanku bahwa selama ini pencarian validasiku masih menyasar orang lain. Padahal, validasi dari diri sendiri perlu diakui. Dan, aku menceritakannya secara lengkap di tulisan Tangki Hati yang Tidak Pernah Terisi Penuh. Dari situ aku mulai berkontemplasi dan menyentuh ruang pikiran yang hampir tidak terkendali. Satu hal yang pasti, aku memutuskan untuk menemukan diri sendiri. Menemukan diri dengan cara merevisi hidup dan menentukan tujuannya.

Setelah dua kejadian memuncak beberapa bulan lalu. Tentang diri yang kehilangan ketulusannya. Tentang mental diri yang terus terblokade untuk berkembang. Revisi hidup kali ini memiliki tujuan yang pasti: mencapai rida Allah. Terlalu religius, ya? Padahal, aku bukan muslimah yang taat. Hanya saja, aku menyadari hidup ini tidak ada apa-apanya dibanding Allah. Bahkan apa-apa yang aku lakukan saat ini terjadi atas izin Allah. Selama ini seakan-akan menuhankan diri sendiri atas apa-apa yang terjadi. Ketika mendapatkan pencapaian kecil, selalu menganggap karena aku. Oke, secara proses memang aku yang melakukan. Akan tetapi, Allah yang memberi izin dan kendali. 

Dan, kalau kata Alvi Syahrin dalam bukunya berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, mencintai diri sendiri sama halnya dengan mencintai Allah karena diri adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Kebetulan belakangan aku memang sedang belajar tentang iman dan mencintai Allah. Maka satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Aku mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa membuatku merasa berharga. Menjadikan kelebihan dan potensiku sebagai sesuatu yang luar biasa dan perlu dikembangkan. Menjadikan kelemahan sebagai pengingat diri bahwa aku adalah manusia yang akan selalu butuh Allah.


Ada beberapa revisi hidup yang mulai aku lakukan. 

Social & Self Relations

Pertama. Dari sisi diri dan hubungan dengan orang lain. Ketika menyadari bahwa aku bukan orang yang tulus dalam menjalani suatu hubungan, apa pun itu. Revisi yang aku terapkan adalah belajar untuk mengutamakan diri sendiri. Memang ini sedikit egois, tetapi bertujuan untuk mengetahui kapasitas diri. Kapan aku harus mendengarkan orang lain dan kapan aku butuh waktu sendiri. Aku belajar untuk berani berkata tidak terhadap sesuatu yang tidak bisa atau tidak mampu aku lakukan. Aku belajar untuk mendengarkan dan memeluk diri sendiri. Aku mengubah pola pikir bahwa aku juga sama pentingnya dengan orang lain. Sebab, Aku tidak pernah merasakan dicintai diri sendiri.

Dan, ketika aku sudah mencintai diri sendiri, maka hubunganku dengan orang lain akan jauh lebih bermakna, tanpa paksaan dan menjadi diri yang apa adanya.

Volunteering Goals

Kedua. Tujuan volunteering. Salah satu tempat paling efektif untuk aku mengais validasi tanpa henti adalah dengan memanfaatkan volunteering. Sebetulnya adalah hal wajar ketika kita melakukan sesuatu karena butuh validasi. Apa lagi namanya komunitas ada timbal balik dan saling menguntungkan. Komunitas butuh volunteer untuk penggerak dan volunteer butuh berkembang di komunitas. Itu sudah aku terapkan dan ternyata membuatku lelah. Maka aku belajar untuk bekerja ikhlas karena PABOBA merupakan tempat yang membuat aku jadi lebih baik. PABOBA yang memberi harapan tentang masa depan. Dan, PABOBA memberikan kesempatan aku untuk mencoba, sampai akhirnya ada di titik saat ini.

Jadi, fokus aku menjadi volunteer PABOBA bukan mengais validasi, melainkan berkontribusi. 

Create Personal Productivity

Ketiga. Membangun produktivitas personal. Ini yang paling penting karena adalah jalan untuk menemukan dan mencintai diri sendiri. Sebetulnya sudah dari lama sekali aku ingin punya produktivitas secara pribadi, maksudnya tidak terikat dengan komunitas ataupun orang lain. Sudah pernah dicoba, tetapi ujung-ujungnya tidak konsisten. Antara malas dan mental block, beda tipis memang. Sampai akhirnya ada di satu titik, motivasi 1% dari seorang teman mendorongku untuk akhirnya menyusun jadwal produktif. Pertama-tama aku list terlebih dahulu bentuk produktivitas. Misal: video Tiktok/Reels, blogging, carousel & story Instagram, dan drafting untuk buku solo. Kemudian, menyusun list proses produksi: take & edit video, menulis blog, menulis skrip untuk carousel, membagikan proses produktif ke IGs & SW, mencari naskah di blog lama untuk dijadikan buku solo.

Kalau dijadikan jadwal akan berbentuk seperti ini:

> MONDAY
Creative
- Banking script video & outlind blog idea #NW
Upload:
- Weekly Goals: A Small Step, has Begun!

> TUESDAY 
Creative
- Take video #NW
- Start writing #NW
- Prepare Vina Reads
Upload
- VT #1

> WEDNESDAY
Creative
- Editing video #NW
- Self edit blogscript & desain thumbnail #NW
Upload
- Post blog
- Upload Vina Reads

> THURSDAY
Creative
- Edit Vina Writes #NW
- +5 book drafting
- Prepare Vina Gratitudes
Upload
- Vina Gratitudes

> FRIDAY
Creative
- +5 book drafting
Upload:
- Vina Writes

> SATURDaAY
Creative 
- Prepare Vina Growth
Upload
- VT #2

> SUNDAY
Creative
- Prepare Vina Goals
Upload
- Vina Growth

Semua itu merupakan produktivitas pribadi yang harus diprioritaskan. Sebetulnya jadwal di atas tidak termasuk dengan jadwalku sebagai Kordiv PABOBA Creative Hub. Dan, ini menjadi kesempatan aku untuk belajar manajemen waktu. Satu hal yang aku pelajari, produktivitas yang efektif menurut aku dimulai dari sepagi mungkin dan tidur lebih awal. Supaya tetap konsisten dan terlihat progresnya, aku memanfaatkan akun Instagram JourneYou Room yang aku buat awal tahun untuk merekam proses produktivitas. Agar makin terlihat aktif, aku kolaborasikan dengan akun utamaku, yuvinazaharany_. Kalau ditanya, dengan produktivitas sebanyak itu memang bisa fokus? Bukankah kita harus mulai dari satu produktivitas dulu untuk bisa konsisten? 

Betul. Aku memilih untuk fokus produktif menulis blog dan baca buku. Tahu, tidak, justru dari dua produktivitas tersebut mampu melahirkan cabang-cabang produktif lainnya sekaligus sebagai personal branding. Dari postingan blog, bisa dibuat konten Vina Writes dan Vina Talks. Dari baca buku, bisa dibuat konten Vina Reads dan Vina Talks. Bahkan produktivitas yang aku lakukan bisa jadi konten journaling Vina Goals, Vina Gratitudes, Vina Growth, dan To-Do List di JourneYou Room. Jadi, tidak pusing karena memang saling berkaitan. Aku juga menurunkan ekspektasi dan standar berlebihan. Sebelumnya harus bisa menulis 1000 kata per tulisan, sekarang aku kurangi jadi minimal 800 kata saja. 

Dan, sekarang sudah berjalan satu bulan merevisi hidup. Sejujurnya aku tidak menyangka masih bisa mempertahankan produktivitas sampai detik ini. Biasanya jika sudah berjalan sehari dua hari, pasti akan berhenti. Mungkin karena kali ini memiliki tujuan yang lebih jelas dan telah melakukan identifikasi masalah. Sekarang aku merasa bersemangat dan berupaya keras untuk tidak berhenti karena kalau berhenti, akan sulit untuk bangkit lagi. Satu hal yang terpenting, Aku belajar untuk fokus pada progres dan proses, bukan pada kesempurnaan dan validasi.

Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

FIND ME

POPULAR POSTS

  • Review Aplikasi Jagat, Bantu Cari Teman Sefrekuensi!
  • Orang Muda Bisa Apa terhadap Isu Perubahan Iklim?
  • Girls, Ini Harga Busi Motor BeAT dan Gejala Busi akan Mati!
  • Penulisan Berita sesuai Kode Etik Jurnalistik
  • Alasan Perempuan Menggunakan Makeup
  • Reviu Novel Represi: Menerima Kepahitan
  • Alasan Kita Merasa Kecewa
  • Alasan Nge-Blog Bikin Merdeka Versi Gue!
  • Bersyukur di Tengah-Tengah Tekanan
  • Alasan dan Kiat Mengatasi Reading Slump!

CATEGORIES

  • Catatan Belajar 1
  • Daily Journal 2
  • EMOSIONAL 12
  • Feature 3
  • Journeyeling 5
  • Life 29
  • Love 5
  • Memoir 4
  • MENTAL 13
  • Muslimaheal 1
  • REVIU 3
  • SOSIAL 7
  • Sustainable 1
  • Writing 1

Featured Post

Ternyata Low Vision itu Tunanetra?

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Template