SEJAK awal tahun, aku sudah tidak percaya lagi dengan kebetulan. Hidup. Aku terlalu bermakna, hal sesederhana apa pun akan memiliki arti. Lagi pula terlalu dangkal tidak, sih, menganggap sesuatu yang kebetulan dengan “kebetulan belaka”? Awalnya aku juga begitu, menganggap kebetulan. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, bukankah itu keajaiban? Kapan lagi, kita menyaksikan dan mengalami fenomena ajaib yang terjadi di tengah kehidupan biasa-biasa saja ini?
Kemarin aku membaca buku Tuhan Engkau Pembohong karya Taufiq RH yang memberikan perspektif. Betapa Allah hadir dalam hal-hal kecil yang tidak kita sadari. Saking kecilnya, hanya dianggap layaknya angin yang berembus sepersekian detik. Padahal angin itu tidak akan berembus tanpa ada pengendali, kan? Ada sesuatu di baliknya. Begitu pun dengan momen-momen kecil yang kita pikir tidak terlalu penting sehingga terabaikan. Pasti ada pengendalinya. Pasti ada yang mengizinkan momen itu terjadi. Dikendalikan dan diizinkan oleh sesuatu yang amat besar dan kuasa, Dialah Allah.
Itulah jejak-jejak Allah, di baliknya ada sebuah pesan terselip. Bisa jadi pesan penghibur lara atas doa yang belum juga terkabul. Seakan-akan Allah ingin berkata bahwa percayalah kepada-Nya, pilihan Allah tidak pernah salah. Bisa jadi pesan itu adalah petunjuk. Seakan-akan Allah sedang menuntun kita untuk kembali ke jalan-Nya. Betapa baiknya Allah, hadir di setiap kesederhanaan. Memeluk di momen yang mudah dijangkau. Itu artinya Allah tidak pernah meninggalkan kita, barangkali kita yang perlahan-lahan meninggalkan-Nya. Mulai sekarang, aku ingin mengajak kamu untuk mengubah sudut pandang tentang kebetulan. Memang tidak ada yang kebetulan, kok, bukankah segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah? Pasti ada pesan. Pasti ada makna yang baik.
Satu tahun belakangan, banyak sekali kejadian-kejadian kecil yang membuat aku merasa Allah masih peduli dengan aku. Tadinya aku ragu, aku banyak sekali dosa, bukan manusia yang baik. Namun, makin ke sini, makin sadar dan terenyuh. Bahkan dari masa lalu, banyak sekali jejak-jejak Allah yang menolong aku. Aku tidak ingin momen-momen itu hanya terekam di kepala. Pada tulisan kali ini, aku ingin lebih bersyukur karena Allah tidak pernah meninggalkanku.
Makanan-Makanan di Kepala yang Tiba-Tiba Terhidang
Kadang-kadang aku tipe yang loyal dengan diri sendiri, lagi mau makan apa, tidak peduli sisa uang yang terpenting kebutuhan banyak mau terpenuhi. Namun, ada juga kalanya jadi pelit dengan diri sendiri, biasanya dikarenakan ada kebutuhan lain yang lebih urgen atau masih merasa sayang dengan sisa uang yang ada. Pada akhirnya kalau sedang dalam fase tipe kedua, aku lebih banyak mengubur keinginan-keinginan itu di dalam kepala. Nanti saja, deh, untuk saat ini masih belum perlu. Namun, pernah tidak, ketika keinginan itu hanya terkubur di dalam kepala tanpa diucapkan satu kata pun. Jangankan dikatakan, didoakan dalam hati pun tidak. Maksud aku, ini masalah sepele yang tidak perlu aku harus berdoa untuk meminta. Namun, ternyata sesuatu yang ada di kepala itu hadir secara nyata dalam jangka waktu dekat.
Misalnya Oreo, iya, Oreo. Kenapa tidak beli di warung saja? Toh, harusnya tidak sampai lima ribu. Bukan, bukan itu yang aku mau. Kamu tahu, kan, Oreo yang isi banyak dan kemasan panjang? Biasanya hanya tersedia di minimarket. Masalah lainnya aku tidak bisa kemana-mana sendirian. Akhirnya keinginan makan Oreo hanya menjadi isapan jempol. Aku berpikir bahwa itu hanya kemauan yang sifatnya sesaat, besok atau lusa pasti sudah tidak mau lagi, jadi lupakan saja. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Aku lupa, tetapi dalam waktu beberapa hari kemudian, Tanteku memberikan kemasan Oreo persis seperti yang aku mau. Itu satu.
Kedua. Malam hari, aku sedang chatting-an dengan Eka. Aku lupa kala itu bahas tentang apa, tetapi yang jelas pada chat itu aku berseletup bahwa tiba-tiba menginginkan bubur ayam. Aku sadar bahwa itu hanya keinginan sesaat dan tidak begitu penting. Jadi, lagi-lagi aku abaikan dan lupakan, kemudian lanjut tidur. Besok harinya, ketika matahari sudah terbit pertanda waktunya sarapan. Aku menuju meja makan dan sudah terhidang semangkuk bubur ayam. Siap untuk aku makan dengan hangat di pagi hari. Apa ini maksudnya? Tidak mungkin, kan, Tanteku menyadap WhatsApp aku?!
Ketiga. Dulu, waktu Ibu masih ada, aku beberapa kali pernah memakan ayam serundeng. Ini menjadi salah satu jenis makanan yang aku suka karena memang bumbunya sangat kuat. Lagi-lagi malam hari, berkhayal kira-kira di mana kok bisa mendapatkan atau memesan ayam serundeng? Balik lagi karena aku jarang keluar rumah dan tidak pernah eksplorasi kuliner, aku tidak tahu. Dan, aku juga tidak mau cari tahu, toh, aku juga tidak terlalu menginginkannya. Hanya terbayang di kepala dan menahan diri. Namun, esok harinya ketika aku buka tudung saji. Ta-da, ayam serundeng terhidang dengan nikmat. Ingat, ya, aku sama sekali tidak mengucapkannya. Dan, aku yakin, Tanteku bukan seorang mind reader.
Ada lagi! Jangan khawatir~
Keempat. Bulan lalu ketika aku sedang ingin makan chicken katsu. Kali ini aku tidak memendamnya atau mengubur keinginan di kepala. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya aku memilih untuk memesan online di outlet Gokatsu. Sore itu aku cukup puas dan senang menyantap chicken katsu. Kemudian bungkus kotaknya langsung aku buang ke tempat sampah bersamaan dengan struknya. Besok pagi ketika akan sarapan, betul dan tentu saja, terhidang satu piring chicken katsu. Fiks, Allah betul-betul sebaik itu.
Aku yakin kejadian itu tidak hanya sekali dua kali.
Jasmine Tea
Jadi, belakangan aku mulai menyiapkan pengharum ruangan untuk di kamar. Kemudian aku membeli pengharum ruangan Stella berbentuk spray. Tinggal semprot jadi harum semerbak. Dikarenakan aku cukup Gen Z, waktu itu aku membeli aroma kopi latte. Secara wangi, sih, harum, tetapi aromanya tidak cocok untuk tipe kamarku. Sebetulnya sebelum membeli aku cukup tertarik dengan satu wewangian bernama Jasmine Tea. Hanya saja aku cukup ragu untuk membelinya karena takut baunya seperti menyan. Konyol, sih, tetapi itu memang alasan yang terlintas di kepala. Sambil menghabiskan pengharum ruangan coffe latte, nantinya aku berniat untuk mencoba wangi Jasmine Tea.
Tidak perlu menunggu waktu lama. Di hari Minggu yang cukup panas. Biasanya aku beraktivitas di lantai bawah. Siang harinya baru ke kamar yang terletak di lantai atas. Baru saja masuk kamar, wangi teh langsung menyergap indra penciuman. Udara yang begitu hangat dan nyaman, sampai-sampai aku enggan untuk keluar kamar lagi. Aku mencoba mengedarkan pandangan ke segala arah di kamarku. Namun, masalahnya, mataku tidak mampu menangkap detail objek yang ada di sekitar. Jadi, aku hanya mengira-ngira pengharum ruangan ini pasti disemprot oleh Tanteku.
Sehari berlalu, ketika tanteku naik ke kamarku sambil memberikan camilan. Di saat itulah aku bertanya, “Mama ini wangi teh dari mana? Pengharum ruangan, ya?”
Tanteku menjawab, “Oh, iya. Ini wangi Jasmine Tea. Mama gantung di jendela kamar Vina.”
Ini terlalu spesifik tidak, sih? Kok, bisa, ya?
Progress, Bukan Perfection
Hari Sabtu malam, aku melanjutkan bacaan buku Tuhan Engkau Pembohong yang belum rampung. Aku membaca sampai di hal yang membahas tentang jejak-jejak kecil Allah dalam hidup manusia. Seperti yang sudah aku jelaskan di awal, bahwa Allah hadir di setiap momen kecil yang tidak disadari. Momen yang sering dianggap sebagai suatu kebetulan. Padahal tidak ada namanya kebetulan. Apakah dunia ini hadir karena kebetulan? Tentu tidak. Begitu pun dengan momen kecil dalam hidup kita. Ada alasannya.
Kemudian, aku menyelesaikan bacaan sampai di halaman 184. Setelah rampung 10 halaman yang dibaca hari itu, aku laporan ke grup Next Page Challenge (NPC). Challenge next level membaca dari Komunitas 30 Hari Membaca. Masih tersisa sekitar 60 halaman lagi untuk menyelesaikan satu buku ini. Kemudian aku melanjutkan produktivitas dengan menyusun outline untuk konten carousel Instagram: Vina Growth untuk dipublikasikan besoknya di hari Minggu.
Dan, di akhir script outline pada sub self reminder, aku menuliskan: Focus on progress, not perfection. Sebagai penutup Carousel dan motivasi diri sendiri. Minggu siang, setelah aku meng-input script tersebut ke dalam desain Canva, aku melanjutkan bacaan buku tadi malam. Mulai dari halaman 186 dan akan berakhir di 195. Kemudian aku terpaku pada satu kalimat judul di halaman 187. Coba tebak. Apa yang aku baca? Di judul tersebut tertulis: Progress, bukan Perfection. Iya. Satu kalimat yang sama persis dengan apa yang aku tulis tadi malam. Persis. Padahal, aku semalam tidak melanjutkan bacaan karena memang sengaja dilanjutkan besok. Namun, apa yang dibahas pada Sabtu malam tentang jejak-jejak kecil Allah, langsung terjadi esok harinya.
Aku yakin ini bukanlah momen kosong. Ini adalah pesan dari Allah untuk aku semangat produktif dan ... kembali kepada-Nya. Momen yang sangat tepat karena aku sudah memulai produktivitas personal. Aku sedang membuka blokade mental yang selama ini terkunci rapat. Allah sedang menghilangkan keraguan besar dalam hidup aku. Dua keraguan sekaligus: keraguan bahwa aku tidak mungkin berhasil dan keraguan bahwa apakah Allah masih peduli? Namun, kejadian hari itu, sudah sangat membuktikan bahwa Allah akan selalu peduli dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.





