AKU tidak tahu bagaimana caranya berbicara. Aku lebih banyak diam, daripada mengeluarkan suara. Memangnya akan ada yang mendengarkan? Baiklah, jika ada yang mendengar, tetapi aku cukup sangsi, apa-apa yang keluar dari mulutku, pasti tidak menarik. Aku pernah ada di fase jijik, tidak sudi mendengar suaraku sendiri. Pasti ujung-ujungnya aku akan merasa dipermalukan setiap setelah berbicara sepatah dua kata. Akan selalu ada pertanyaan rutukan dan cacian, “Vina bego, ngapain ngomong, sih? Malu-maluin aja!”
Bukan tanpa alasan, melainkan aku tumbuh dengan terbiasa tidak didengar.
Aku adalah anak keempat dari enam bersaudara. Aku adalah anak paling pendiam di rumah. Di antara yang lainnya, aku tidak ada daya tarik. Aku hanyalah salah satu yang ada dari anggota keluarga ini. Mengikuti setiap keputusan yang telah diputuskan. Meskipun tidak jarang aku melanggar aturan tidak tertulis yang menyebabkan Ayah marah. Apa lagi, Ayah adalah tipe orangtua tegas dan galak. Pernah dicubit, dijewer, dipukul, bahkan pernah “dikurung” di kamar, dan diusir dari rumah. Memang karena kesalahanku, sih, masih untung tidak dicoret dari kartu keluarga.
Di rumah, Ayah adalah sosok yang paling dominan. Aku sendiri anak yang takut dan segan dengan beliau. Selain karena pendiam, aku juga tidak berani untuk berbicara dengannya. Sekadar meminta uang jajan, apa lagi meminta dibelikan ponsel pun tidak pernah. Bahkan pernah, ketika aku pulang sekolah waktu SMP dijemput Ayah. Ketika itu sedang hujan deras dan kami mengenakan jas hujan. Hari Jumat mengenakan seragam rohis berwarna hijau. Celanaku saat itu bagian kain basah sobek tersangkut di sela-sela ban. Jadi, selama di perjalanan dan selama roda berputar aku menahan kakiku agar tidak terkilir. Aku tidak berbicara pada Ayah karena aku takut. Biarlah aku tahan sendirian semua ini. Beruntung aku tidak terluka atau membuat kami laka di jalan.
Di rumah, aku merasa tidak ada ruang untuk berbicara. Mereka bilang aku masih kecil dan tidak mengerti apa-apa. Sampai aku masuk SMA pun pendapatku diserang. Ketika itu, ujian nasional SMP sudah berakhir, dan aku sudah punya tujuan SMA. Salah satunya adalah SMAN 3 Bandar Lampung. Salah satu SMA Negeri unggulan di kotaku sekaligus sekolah Ibuku dulu. Aku ter-influence oleh cerita ibuku dan membuatku tertarik untuk bersekolah di sana. Jadi, ketika Ayah bertanya mengenai pilihan SMA-ku, Aku menjawab sekolah unggulan itu. Namun, Ayah menanggapi, “Kamu itu mau sekolah atau main-main?!”
Aku yang tadinya antusias, langsung runtuh. Kupikir akan didukung, ternyata diempaskan. Membuatku jadi tidak bersemangat. Coba tebak, alhasil ujung-ujungnya aku masuk sekolah swasta yang kata teman-temanku sekolah bau kandang kambing dan sering ada yang kesurupan. Ironinya, sekolah swasta ini letaknya tidak jauh dari sekolah impianku. Ingat betul, aku menangis sesenggukan di ruang tamu rumah tante yang kebetulan sedang sepi. Betapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang kumau, bahkan sebelum berusaha.
Mulai dari situ aku makin tidak berani untuk bersuara dan mengemukakan pendapat.
Tumbuh di lingkungan yang tanpa sadar tidak memberikan ruang untuk berbicara, membuatku takut untuk sekadar menyampaikan keinginan. Sampai saat ini, masih ada beberapa dampak yang belum bisa aku atasi. Sesederhana menceritakan sesuatu, mulut rasanya berat sekali untuk dibuka. Seperti ada beban yang menahan, padahal hati dan kepala sudah berteriak. Orang-orang mungkin menganggapku terlalu berlebihan, hiperbola. Masalahnya ini tidak semudah “Coba, dong. Belajar diomongin”, tidak semudah itu. Aku juga mau, tetapi reaksi tubuhku bersikap sebaliknya.
Begini. Di dunia ini tidak semua hal aku bersedia untuk belajar mengendalikannya. Selain tidak bersedia, aku tidak siap menghadapi reaksiku sendiri setelahnya. Namun, aku sadar bahwa manusia dalam hidup juga butuh berkembang. Jadi, ada beberapa hal yang aku bersedia untuk mengontrol dan siap menghadapi risikonya, yaitu public speaking. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku betul-betul bisa berdamai dengan suaraku sendiri. Setidaknya sampai aku menemukan satu tempat yang memberikan ruang leluasa untuk berbicara. Ruang ketika aku bebas bersuara tanpa takut dihakimi. Namun, sebelum jauh ke situ, aku akan menceritakan prosesnya.
Jika aku tidak pernah berani untuk bicara, lantas bagaimana caraku meluapkan apa yang ada di kepala dan hati? Bukankah ketika segala bentuk emosi dan pikiran menumpuk, hanya akan menjadi sampah negatif? Bukankah semua itu pada akhirnya akan menjadi bumerang, jika selalu dipendam? Betul. Aku tidak serta merta memendam semuanya, kok. Salah satu hal yang aku syukuri adalah aku memiliki ketertarikan dengan dunia menulis. Tanpa sadar, aku sering menulis quotes di Instagram pribadi—sampai saat ini masih ada. Kemudian tulisan itu berkembang menjadi tulisan panjang. Sampai akhirnya aku memiliki blog. Pada awal belajar blog, aku diajarkan cara menulis artikel SEO on page. Dari situ sering menulis artikel yang struktural seperti artikel listicle, feature, sampai esai. Di sisi lain, aku juga tetap menulisksn. perasaan dan pikiranku di blog khusus.
Perlahan-lahan, ketika aku mulai aktif volunteering di komunitas literasi. Aku mulai.belajar berinteraksi dengan orang-orang baru. Meskipun online, tetapi ini membantu aku untuk memahami ritme dan cara berkomunikasi yang baik. Aku cukup aktif di komunitas tersebut, mulai dari menjadi pengurus event/challenge literasi beberapa kali. Sampai akhirnya, di komunitas yang sama, untuk pertama kalinya aku menjadi MC di acara kelas kepenulisan online. Dari situlah awal mula saklar bicaraku menyala. Aku punya keinginan itu kuat untuk nge-MC kembali di depan umum, meskipun online.
Tuhan mendengarkan keinginanku, beberapa bulan kemudian Tuhan mempertemukanku dengan komunitas yang membuatku makin berkembang. Pada awalnya aku hanya menjadi penanggung jawab dalam mengoperasikan suatu grup membaca. Dikarenakan aku sudah bergabung sebagai volunteer di komunitas ini, otomatis aku dapat mengikuti kegiatan-kegiatan literasi lainnya. Salah satunya adalah event literasi. Perkenalkan, nama komunitas itu adalah 30 Hari Membaca atau dikenal dengan tagline Pantang Bobo Sebelum Baca (PABOBA). PABOBA menjadi tempat yang menginterpretasikan sebuah rumah kedua. Rumah kedua ini memang bukan tempat pulang, melainkan tempatku berkembang. Untuk pertama kalinya ada yang memintaku untuk menjadi pembawa acara di event Tukar Pikir PABOBA. Untuk pertama kalinya ada yang percaya padahal belum pernah tahu diri aku dan bahkan baru kenal. Mereka mempercayakan kegiatan komunitas mereka kepadaku sebagai pembawa acara ataupun MC.
Bukan hanya tampil di depan umum secara online. Di PABOBA, aku belajar mengeluarkan pendapat dalam rapat forum. Sebab, setiap bulannya selalu ada rapat bulanan sebagai evaluasi. Perlahan-lahan, ruang didengar itu aku dapatkan. Selama ini mulutku benar-benar terkunci hingga kata-kata hanya sampai di ujung tenggorokan. Selama ini pendapat ataupun ide hanya bersarang di kepala tanpa ada tindakan. Selama ini yang berfungsi hanya telinga, sementara bibirku adalah anggota paling pasif. Selama ini kupikir tidak bisa berbicara, ternyata aku bisa.
Dari fase aku yang sering menulis quotes sampai menulis artikel, membantu susunan bicaraku jadi lebih terstruktur dan memiliki alur. Menulis quotes membantu aku menata pikiran dan hati, sehingga gaya bicaraku terkadang lebih personal. Menulis artikel membantu aku mengenal proses kreatif dan kredibilitas dalam suatu tulisan, sehingga aku belajar tidak asal dalam berbicara. Sementara, membaca memperkenalkanku dengan dunia luar yang tidak pernah aku gapai. Membaca fiksi mengenalkanku dengan karakteristik orang-orang, sehingga membantu aku dalam berinteraksi dengan orang lain. Membaca nonfiksi mengajarkanku tentang teori dan konsep, sehingga aku belajar berbicara sesuai dengan wawasan yang aku dapatkan.
Setelah mendapatkan pengalaman dan pembelajaran otodidak dari menulis dan membaca. PABOBA menjadi ruang praktik bicaranya. Melakukan latihan, pasti ada kesalahan, tetapi itu bagian dari proses. Lagi-lagi, tidak ada satu pun orang di PABOBA yang menghakimi dan menghentikan langkahku untuk terus mencoba. Bukan hanya ruang mendengar, PABOBA juga memberi ruang untuk aku belajar dari kesalahan tanpa dihakimi. PABOBA tidak hanya memberikan ruang, tetapi juga menumbuhkan harapan yang telah lama terkubur. Harapan akan masa depan yang cerah. Dan, aku punya impian tentang berbicara. Aku bercita-cita berbicara di depan banyak orang secara langsung.
Satu hal aku sadari. Selama ini aku bukannya tidak bisa berbicara. Aku hanya tidak diberikan ruang untuk mencoba dan belajar dari kesalahan. Aku hanya tidak punya kesempatan untuk berbicara.





