KADANG-KADANG aku merasa egois dengan diri sendiri. Terlalu sering mengabaikan diri yang butuh hiburan. Sesekali tidak masalah, kok, menggunakan sebagian uang untuk sekadar menyenangkan diri. Lagian sudah berapa lama dan sering coba mengabaikan diri? Manusia memang perlu memahami kebutuhan. Akan tetapi, bukan berarti jadi pincang untuk jalan-jalan sendirian.
Kalau aku normal, keluhan tadi terasa masuk akal dan menampar diri. Masalahnya, aku tidak normal. Aku lupa, kapan terakhir kali akhirnya memanjakan dan menyenangkan diri sendiri. Makin aku pikirkan, makin ragu, jangan-jangan aku tak pernah menghabiskan waktu dengan diriku sendiri. Kebanyakan kalau main di luar pasti selalu bareng teman atau keluarga. Tidak pernah ada kesempatan untuk bercengkerama dengan diri sendiri di luar rumah.
Baiklah. Satu temuan besar yang baru saja kusadari hari ini adalah aku tidak pernah me time. Serius. Dan, aku butuh me time!!!
Setidaknya hampir delapan tahun hidup, 90%-nya dihabiskan di dalam rumah. Bukannya aku cosplay jadi Rapunzel. Selain memng betah di rumah, kondisi penglihatan aku cukup menghambat kakiku melangkah seorang diri ke luar rumah. Dan, aku punya masalah “tidak enakan” kalau harus bergantung dengan orang lain hanya untuk sekadar menemaniku me tune. Itu akan merepotkan mereka karena harus “menjagsku”. Lagi pula yang aku mau, kan, me time sendirian. Lumayan lelah sebetulnya karena terus bersandar dengan orang lain.
Aku mengidamkan untuk bisa eksplorasi kota Bandar Lampung sendirian. Menikmati beberapa tempat kuliner tanpa harus menunggu teman berminat. Pergi ke wisata alam tanpa harus menunggu waktu libur orang lain. Dan, ke tempat-tempat lainnya yang memungkinkan aku jangkar. Atau sekadar jalan-jalan ke mal dan melakukan produktivitas di sana sambil menikmati potato plates serta matcha latte.
Dan—lagi—aku juga tipe anak rumahan yang tidak masalah lebih banyak di rumah. Di rumah juga ada fasilitas yang bisa menopang produktivitas aku dengan baik. Soal makanan, mulai dari camilan sampai makanan berat pun sudah tersedia. Terkadang jajanan-jajanan juga suka diberikan oleh Tanteku. Bahkan akses wifi 24/7 amat membantu produktivitas di komunitas online dan media sosial. Bisa dibilang aku yatim-piatu yang cukup makmur. Namun, aku hanya ingin menhhirup udara segar dan menikmati vibes kehidupan dengan diri sendiri.
Padahal keinginannya sederhana, tetapi aku tidak bisa mendapatkannya. Seseorang bilang kepadaku, “Kok, kamu bisa bahagia, padahal di rumah aja?”
Satu pertanyaan yang membuat aku tersadar tentang tindakan yang diambil oleh tubuh dan pikiranku selama ini. Kalau dikatakan bahagia, aku tidak bisa memungkiri selama di rumah tidak ada kendala berarti. Semuanya berjalan baik-baik saja, kalaupun ada masalah, tidak herlarut lama. Kemudian yang membuat kebahagiaan itu sedikit terusik adalah keinginan yang muncul. Kdimginn untuk jalan-jalan semdiri dan sebetulnya itu wajar, kok, sudah terlalu lama di rumah. Menjadi tidak wajar dan mengusik ketenangan ketika terlalu memaksakan keinginan. Terlalu dipaksa, padahal aku tidak mampu, tidak bisa, realitasnya sedang tidak berpihak. Dan, aku rasa, butuh waktu yang lama sekali sampai aku bisa mencapai keinginan itu. Belum lagi harus melewati proses panjang, seperti misalnya check up dan pengobatan mata. Sementara untuk sampai ke proses itu saja, aku sendiri sangsi. Lantas, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah: menerima, jangan memaksakan.
Aku menerima bahwa realitasnya tidak bisa me tim dengan jalan-jalan sendirian. Dan, aku tidak akan memaksakan diri untuk keluar rumah sendiri karena itu akan membahayakan diri sendiri. Toh, sebetulnya kalau bicara soal me time memang kebutuhan, kan, tidak harus keluar rumah, di rumah juga bisa, kok. Tidak semua keinginan harus direalisasikan, kan? Selama kebutuhannya terpenuhi, itu sudah cukup membahagiakan. Bisa jadi sebetulnya hidup kita sudah jadi standar kebahagiaan tersendiri, tetapi yang membuat kebahagiaan itu musik adalah standar yang terlalu memaksa. Standar yang tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Bukan berarti kita tidak boleh mengembangkan kapasitas diri. Akan tetapi, bukankah segalanya butuh proses?
Aku yakin bukan tanpa alasan, kenapa Allah memberikan kendala pada mataku. Aku yakin tidak serta-merta Allah memberikan keterbatasan dalam diri aku. Sampai saat ini aku masih belum menemukan jawaban semua itu, tetapi aku tidak berusaha untuk mencarinya. Ada beberapa jawaban-jawaban yang hanya bisa dijawab oleh waktu. Dan, manusia tidak memiliki kemampuan untuk menembus waktu, itu adalah ranah Allah. Sementara aku sebagai manusia hanya memiliki kemampuan untuk memanfaatkan waktu saat ini sebaik-baiknya.
Sekarang aku memilih untuk menghargai waktu dengan tidak memaksakan keinginan di luar batasku. Apa pun itu, tidak hanya soal masalah me time. Aku sedang menciptakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana yang kubuat dalam hidup. Bukan berarti tidak mau hidup tanpa masalah, melainkan bagaimana caranya agar tetap bahagia dan tenang meski dalam masalah. Sebab, kalau dipikir-pikir lagi, sejak 2022 sampai saat ini, aku punya masalah yang tidak pernah berhenti dan terus berkelanjutan entah sampai kapan. Kondisi mata yang membatasiku adalah masalah. Namun, karena aku tidak mau menganggapnya sebagai masalah dan makin membatasi hidup aku, aku merasa tidak punya masalah. Benar kata orang-orang bahwa ternyata bahagia itu pilihan. Bisa jadi kita sendiri yang memilih untuk tidak bahagia.
Kini, aku tetap pergi ke luar rumah dengan teman aku percaya. Apa lagi, mulai bulan ini, setiap pekannya aku punya agenda rutin, kajian offline bersama Kak Septi dan Mbak Riska. Lokasi kajiannya pun tidak begitu jauh dari rumah, di Masid Ad-Du’a atau bisa fleksibel di masjid atau tempat lain. Biasanya agenda aku main keluar rumah hanya sebulan sekali ke rumah teman atau ke tempat kuliner. Cuma kalau dipikir-pikir lagi, agak disayangkan ketika uang habis untuk bermain jika rutin satu pekan satu kali. Berbeda dengan kajian yang sifatnya menuntut ilmu, justru malah sekarang aku memiliki pos uang tersendiri untuk kajian.
Kalau dalam buku Tuhan Engkau Pembohong? Allah mengabulkan doa kita tidak melulu sesuai dengan keinginan kita. Justru aku merasa kajian offline ini menjadi jawaban atas keinginan aku. Allah lebih tahu kebutuhanku, bisa jadi yang aku butuhkan adalah pengalaman beraktivitas di luar rumah, tidak harus sendiri, tetapi dengan teman. Apa lagi pertemuan pertama aku dengan Mbak Riska juga baik banget. Mbak Riska mentraktir aku dan Kak Septi mi ayam Jogja. Bahkan, biasanya setelah kajian aku dan Kak Septi pergi ke suatu tempat. Pekan lalu kami makan es krim di Momoyo. Kalau kemarin, kami jajan somay dan pop ice di sekitar Stadion Sumpah Pemuda. Dan tanpa disadari Allah mengabulkan keinginanku untuk jajan di sekitar stadion melalui Kak Septi.





