MINGGU pagi yang cerah, scrolling Tiktok dan berhenti di salah satu VT dengan username Kandy13. Pada VT tersebut seorang perempuan menceritakan pengalaman sosialisasi dengan penglihatan low vision. Aku sangat relate karena memang aku mengalaminya. Yup, aku adalah orang dengan low vision: mata kanan central loss, mata kiri heavy/blur. Aku tidak begitu ingat awal mulanya, aku hanya menyadari ada bayangan hitam di mata kanan. Pada saat itu, masih belum tahu istilah medisnya.
Tahun 2025, aku coba check up di Lampung Eye Center, hanya terdeteksi bahwa aku mengalami penurunan penglihatan. Kenapa ‘hanya'? Karena low vision adalah akibat, bukan sebab. Lantas, penyebabnya apa? Aku tidak tahu karena aku masih belum melakukan pengecekan, berhenti ketika dirujuk ke rumah sakit daerah untuk cek autoimun. Banyak alasannya dan aku enggan menceritakannya di tulisan ini. Kalau penasaran, bisa cari dengan keyword My Journeyeling di pencarian blog ini. Aku menceritakan semuanya di situ.
Pada 2026, aku akhirnya menemukan lebih detail terkait gambaran dari low vision yang aku alami. Ingat betul, waktu itu baru selesai meeting komunitas. Sebelum tidur kebiasaan buruk aku adalah scrolling Tiktok. Allah langsung kasih VT mengenai low vision dan gambarannya persis seperti cara aku melihat dunia. Tadinya aku cukup bingung menjelaskan ke orang-orang terkait kondisi mata aku. Sekarang aku tinggal menjelaskan saja bahwa aku mengalami low vision.
Melansir situs JEC, low vision adalah kondisi penglihatan mengalami penurunan secara signifikan sehingga cara pandangnya lebih rendah daripada mata orang normal. Low vision adalah kelainan permanen, artinya tidak bisa disembuhkan secara total dengan kacamata biasa atau bahkan operasi. Perlu kacamata khusus dan alat bantu lainnya karena kondisi ini membuat penderita kesulitan beraktivitas normal sehari-hari. Bahkan pengidap low vision juga digolongkan bagian dari tunanetra. Dilansir dari Halodoc, tunanetra sendiri terdiri dari beberapa tingkatan: buta total (total blindness), hampir buta (near-total blindness), dan low vision. Low vision merupakan tingkatan terendah dalam tipe tunanetra. Low vision mengakibatkan pengidapnya tidak bisa membaca dan mengendarai.
Honestly, aku cukup kaget dengan fakta tersebut, dan tiba-tiba jadi sedih. Aku pernah dilanda dilema terkait kondisi mata aku: normal tapi tidak normal, bisa lihat tapi tidak bisa sepenuhnya, secara fisik normal tapi secara gerak seperti orang buta. Aku masih bisa melihat sedikit, tetapi sering nabrak dan meraba-raba. Paham, kan, maksud aku? Terkadang dilema ini membuat aku bingung dan hampir stres. Alhamdulilah sekarang aku sudah tahu dan jelas, intinya aku tunanetra. Meskipun ini tidak bisa divalidasi karena harus check up lebih lanjut. Akan tetapi, setidaknya aku jadi lebih tahu soal kondisi aku secara edukasi. Dan, memang informasi ini tidak banyak orang tahu sehingga banyak orang memandangku aneh.
Dari VT Kandy13 tadi aku langsung stalk profilnya dan aku merasa tidak sendirian. Betul-betul relate. Aku kagum karena dia begitu berani menceritakan pengalamannya. Jujur saja, aku sangat insecure soal mata aku—kecuali dengan orang-orang yang memang aku percaya. Insecure karena aku terlihat normal secara fisik, tetapi secara gesture dan penglihatan cukup aneh. Insecure karena memikirkan masa depan yang cocok untuk kondisi aku. Insecure karena takut tidak bisa bekerja menghasilkan uang. Insecure karena aku merasa menjadi beban orang-orang di sekitar aku. Insecure kalau lagi berbicara dengan seseorang atau sekumpulan karena kesulitan mendeteksi wajahnya.
Insecure masih muda jalannya dituntun.
Sejujurnya aku agak malu menceritakan hal.ini ke publik. Aku takut dianggap caper. Jadi, aku betul-betul menahan semuanya dan hanya orang-orang terdekat saja yang tahu. Rasanya dilema, aku merasa tidak perlu orang tahu tentang kondisi mata aku, tetapi di sisi lain aku juga merasa orang tahu karena keterbatasan aku ini akan selalu membutuhkan orang lain. Awalnya aku memang malu akan penilaian orang terhadap kondisi aku, tetapi makin ke sini aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkan. Toh, mereka hanya tidak tahu kondisiku.dan aku juga kadang tidak ada energi untuk menjelaskannya.
Salah satu hal yang membuat aku insecure adalah ketika berjalan. Apakah aku bisa jalan? Bisa, kok. Akan tetapi, aku tidak bisa berjalan sendirian, harus dituntun seseorang. Aku selalu bilang dengan penuntunku, “Maaf, ya, berasa kayak nuntun nenek-nenek, ya?”. Terdengar jenaka memang, tetapi itu adalah cara aku untuk memupuk rasa malu dan tidak enak. Aku bisa berjalan sendiri kalau aku sudah mengenal betul lokasi atau tempatnya, jadi ketika jalan aku bisa menggunakan insting—ya, kadang masih suka nyasar, sih. Misal ke rumah Eka, sahabat aku. Aku tahu rumahnya karena memang tetangga dari kecil, jadi ketika mata aku masih bisa melihat dengan cukup baik aku sudah tahu rute jalan dan posisi rumahnya. Jadi, aku sekarang kalau ke rumah Eka biasanya naik ojek online, belokannya aku tunjukkan sesuai dengan insting caranya menghitung jumlah gang.
Pernah ada satu kejadian yang membuat aku kapok pulang setelah matahari tenggelam. Biasanya aku kalau main sama teman pulangnya ba’da magrib atau isya. Kalau pulang malam pasti selalu pakai Maps untuk membantu aku sampai ke titik rumah. Namun, suatu hari seperti biasa naik ojol, ketika sudah masuk komplek. Aku ragu dan buyar. Saat itu baru saja petang dan langit mulai menggelap, ditambah hujan rintik gerimis. Waktu itu pengemudinya adalah seorang bapak-bapak. Sepertinya aku salah menunjukkan jalan dan otomatis rute pulang ke rumah di otak aku sudah lenyap karena berubah. Ya, salah jalan.
Aku lumayan panik dan mencoba tenang. Saat itu ada dua kekhawatiran: takut tidak bisa pulang dan merasa tidak enak dengan si bapak. Setelah cukup lama dan berusaha mengikuti rute Google Maps. Dan, alhamdulillah, Allah bantu aku pulang. Coba tebak ketika akhirnya sampai depan rumah—setelah aku memastikan bentuk rumahnya dan memang benar—aku sedikit mendengar si bapak berzikir. Entah itu sebagai mengatasi kekesalan karena hampir menyasar atau bukan. Mulai dari situ aku tidak akan pernah mau lagi pulang sendirian setelah matahari tenggelam.
Ada lagi. Sekarang kalau ambil makan aku harus mengandalkan aroma atau dikasih tahu terlebih dahulu di meja ada makanan apa saja baru bisa aku ambil. Namun, kalau ad# Tante di rumah—ketika beliau sedang tidak kerja—pasti makanan untuk aku diambilkan. Kalau lagi di rumah Mbak juga pasti begitu, makaman aku diambilkan sama mbak atau adik aku. Bukannya manja, tetapi, ya, bagaimana, mata aku begini. Bahkan kondangan saja pun harus diambilkan sama Eka karena aku biasanya kondangan dengan dia.
Aku suka membaca dan menulis, tetapi kondisi low vision ini menyulitkan aku untuk melakukan keduanya. Aku tidak bisa baca buku fisik dan tidak bisa lagi menulis di buku seperti biasanya. Namun, aku bersyukur di era digital saat ini ada ponsel pintar yang menjaga produktivitas aku. Aku bisa baca ebook, aku bisa menulis di word/doc. Meskipun salah satu struggle aku menggunakan ponsel adalah tidak bisa melihat di mode terang/putih, harus mode gelap. Dan, ada berapa aplikasi yang tidak bisa mode gelap, aku akalkan dengan fitur inversi warna di pengaturan.
Banyak hal.yang aku takuti. Salah satunya aku takut tidak ada yang mau menerima aku dengan ke-low-vision-annya. Sebab aku tahu, kondisi ini akan merepotkan pasangan.aku nantinya—low vision sifatnya permanen. Kadang aku sendiri saja kesulitan.mengurus diri sendiri. Aku juga takut kalau aku tidak bisa berpenghasilan karena aku tahu, aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan Tante aku. Bahkan aku takut jika suatu hari menjadi seorang ibu.
Dengan low vision, ruang lihat dan ruang gerak aku memang terbatas. Namun, di sisi lain, Allah kasih banyak privilese. Aku merasa Allah memang sudah mempersiapkan semuanya untuk aku supaya tetap bisa produktif dan berguna ketika Allah turunkan penglihatan aku. Allah hadirkan Tante aku yang baik sehingga aku bisa produktif kapan pun. Allah hadirkan keluarga dan teman yang pengertian dan tidak masalah dengan kondisi aku. Allah hadirkan komunitas literasi daring tempat aku berkembamg dan belajar. Dari teman komunitas itu aku merasakan dunia di luar rumah.
Allah Maha Baik. Ternyata Allah sesayang itu sama aku. Dari awal aku mengalami low vision, aku tidak pernah mengeluh atau menyalahkan keadaan. Aku sadar betul ini sudah takdir dan aku yakin Allah punya alasan. Dan, alasan Allah selalu baik. Allah percayakan low vision ke aku karena Allah tahu aku mampu melaluinya. Allah kasih aku low vision karena Allah tidak mau hamba-Nya ini melihat sesuatu yang tidak baik. Allah sedang menjaga aku, aku yakin itu..












